Home » » Industri Transportasi

Industri Transportasi

Written By Haris Ahmad on Friday, January 7, 2011 | 2:50 PM

Industri Transportasi

Abstract

Transportation industry is an industry in the field of land transport equipment that uses engines that are motor vehicles. Motor vehicles can be divided into two-wheeled vehicles, three, four, and more than four. For vehicles with four or more wheels can be distinguished on passenger cars and commercial vehicles. The discussion in this paper mainly on passenger cars
1. Pendahuluan
Sejarah Industri Transportasi
Mobil pertama di Indonesia adalah Benz Phaeton dari Jerman, yang dipesan oleh Sultan Solo pada tahun 1894 dan dipasok oleh John C. Potter yang merupakan pedagang mobil pertama di Indonesia (Herbawati, 2003). Sejak itu berdatangan satu per satu mobil dari Eropa dan Amerika ke Indonesia. Baru pada tahun 1938 bisnis mobil di tanah air dikendalikan putra daerah, yaitu oleh RP Soenaryo Gondokoesoemo yang menjadi agen General Motors di Yogyakarta. Kemudian disusul oleh Hasjim Ning (1950-an), William Suryadjaya, Syarnoebi Said dan Soebronto Laras di era 1960-an, 1970-an, dan 1980-an. Bisnis mobil saat itu didominasi AS melalui General Motor dengan produk andalannya Chevrolet. Tahun 1950-60an pasar mobil di Indonesia mulai dimasuki produk Jepang.
Saat ini, industri otomotif di Indonesia terutama dalam bentuk perakitan. Menurut Gero 2001), industri ini dimulai pada tahun 1970-an ketika ada keharusan untuk merakit mobil yang dimasukkan ke Indonesia. Untuk mobil jenis sedan dikenakan bea masuk 100%, sedangkan untuk mobil niaga nol persen. Impor mobil CBU (Completely Built Up) dilarang. Kemudian, tahun 1976 muncul ketentuan penggunaan komponen lokal pada industri perakitan di tanah air. Selanjutnya, guna merangsang penggunaan komponen lokal, sejak tahun 1990-an dikenakan bea masuk berdasarkan komponen lokal yang dipakai.
Perangkat ketentuan tersebut diharapkan bisa merangsang tumbuhnya industri komponen otomotif, sehingga pada jangka panjang muncul industri otomotif nasional yang kuat, seperti yang terjadi di Korea Selatan. Kenyataannya pada saat ini memang sudah bermunculan industri komponen otomotif yang kuat, seperti industri aki, ban, suspensi, kaca, dan karoseri.
Sebenarnya di tahun 1996 Pemerintah menerbitkan Inpres tentang pembangunan industri mobil nasional. Inpres tersebut adalah Inpres Nomor 2 tahun 1996 yang berisi Intruksi Presiden kepada Menteri Perindustrian dan Perdagangann, Menteri Keuangan, dan Menteri Negara Penggerak Dana Investasi/Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal untuk mewujudkan industri mobil nasional. Inpres tersebut menyatakan bahwa mobil nasional adalah mobil yang menggunakan merek yang diciptakan sendiri, perusahaan produsennya 100% dimiliki orang Indonesia, proses produksinya dilakukan di wilayah Indonesia, dan mampu memenuhi persyaratan tentang kandungan lokal 20% pada tahun pertama, 40% pada tahun kedua, 60% pada tahun ketiga (Anonymous, 1996). Inpres tersebut disusul Peraturan Pemerintah yang memberi kemudahan kepada produsen mobil nasional berupa pembebasan pengenaan pajak barang mewah. Menteri Keuangan membebaskan bea masuk komponen impor untuk mobil nasional dan perusahaan yang telah membuat mobil nasional mendapat status perusahaan pionir dan itu diberikan kepada PT Timor Putra Nasional (TPN). Program mobil nasional ini akhirnya tidak berlanjut.
Iklim liberalisasi sekarang ini menyebabkan kemampuan teknologi industri otomotif dalam negeri semakin tidak muncul. Khususnya ketika tahun 1999 dilakukan deregulasi impor kendaraan utuh (Completely Built Up/CBU) sebagai program baru dalam rangka pengembangan kesepakatan tingkat internasional seperti APEC, AICO, dan AFTA (Anonymous, 2005a). Namun demikian, akibat tingginya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah dan bea masuk yang cukup tinggi menjadi peluang bagi industri otomotif dalam negeri untuk menjadi produsen mobil.
Saat ini Indonesia berperan di hampir semua sektor industri otomotif. Industri ini mengkaryakan lebih dari 200.000 orang, dengan nilai total investasi US$ 2,2 milyar. Kapasitas produksi per tahun mencapai 800.000 unit dan truk, 3.000.000 sepeda motor, dengan melibatkan lebih dari 50 grup produsen komponen (Anonymous, 2005a)
Menurut Gero (2001), sebenarnya Perkasa dari Grup Texmaco telah mengembangkan suatu industri otomotif sejak dari hulu (industri besi tuang) hingga hilir (industri besi tempa untuk membuat kruk as, gigi perseneling, as belakang, garden, bak perseneling (gear box, hingga blok mesin. Cara yang ditempuh adalah dengan membeli hak paten dari komponen-komponen otomotif. Misalnya mesin dibeli dari Curming (AS), kabin dari Leylang (Inggris), dan bak perseneling dari ZF (Australia).
Selama duabelas tahun terakhir, rata-rata penjualan mobil di Indonesia adalah 321.543 unit/tahun. Penjualan terendah terjadi di tahun 1998 saat terjadi krisis ekonomi yang mengakibatkan penjualan turun sekitar 500% dibanding tahun 1997. Recovery penjualan mobil mulai kembali tahun 2000, ditandai peningkatan penjualan hingga 68% dibanding tahun 1999. Penjualan tertinggi (absolute) terjadi di tahun 2005. Tahun 2006 kembali terjadi penurunan penjualan (hingga 67%) akibat kenaikan bahan bakar minyak pada Oktober 2005. Jumlah penjualan mobil di Indonesia pada periode tahun 1995-2006 ditunjukkan pada Tabel 1.
Pasar yang terkait
Pasar industri otomotif berkaitan dengan industri lain seperti usaha penyewaan kendaraaan, jasa transportasi umum, jual beli kendaraan (baru dan bekas), serta antar jemput (terutama anak sekolah).

Tabel 1. Penjualan Kendaraan Bermotor di Indonesia, Tahun 1995-2006
Tahun Jumlah Penjualan (unit) Pertumbuhan (%)
1995 378.704
1996 332.035 -14.06
1997 386.691 14.13
1998 58.303 -563.24
1999 93.843 37.87
2000 300.964 68.82
2001 299.634 -0.44
2002 317.780 5.70
2003 354.208 10.40
2004 483.148 26.60
2005 533.917 9.51
2006 318.904 -67.42
Sumber : Gaikindo, 2007
Jenis Produk
Industri otomotif sangat terdiferensiasi. Secara umum, mobil dibedakan atas beberapa kateogri, sebagaimana disajikan pada Tabel 2. Tipe mobil penumpang yang satu merupakan subtitusi bagi tipe lainnya. Di dalam kategori mobil sedan pun terdapat banyak merek, sehingga antara satu merek dengan merek lainnya juga merupakan produk subtitusi. Suatu merek tertentu pada tipe tertentu pun memliki banyak produk yang masing-masing menjadi subtitusi bagi produk lain dari merek yang sama. Misalnya sedan ada dari Toyota, Honda, Suzuki, Daihatsu, dan Peugeuot. Sedan Honda ada berbagai nama antara lain Civic, Accord, dan City. Honda Civic masih bisa dibedakan antara yang 1800cc atau pun 2000cc. Civic 1800cc pun bisa dibedakan antara yang manual dan matic. Adapun produk komplemen mobi adalah bahan bakar, jasa pengemudi, aksesoris, dan komponen.
Secara vertikal, industri otomotif dapat ditinjau dari hulu ke hilir. Termasuk pada industri hulu dari industri otomotif adalah industri besi tuang, indostri blok mesin, industri komponen otomotif, industri ban, dan industri aksesoris mobil.
Sedangkan secara horizontal, industri hilirnya antara lain adalah industri karoseri, industri jasa pembiayaan keuangan, industri jasa asuransi, industri perawatan dan perbaikan (bengkel), serta industri jasa latihan mengemudi.
Produsen otomotif di dunia tersebar di berbagai negara. Bahkan Indonesia relative tidak begitu maju industri otomotifnya bila dibandingkan dengan negara lain seperti Amerika Serikat, Jerman, Jepang, Korea Selatan, China, bahkan Malaysia dan Thailand. Oleh karena itu produk dari negara lain masuk ke pasar Indonesia.
Untuk tingkat Asia, industri otomotif didominasi oleh Thailand. Sebagai gambaran di Indonesia tercatat ada 300 industri pembuat komponen, sementara di Thailand jumlahnya sudah mencapai 1.500 industri (Anonymous, 2003). Saat ini hampir semua perusahaan
Tabel 2. Kategori Mobil Penumpang
Tipe Spesifikasi*) Contoh Produk**)
Sedan CC < 1.5 lt (G/D) Suzuki Esteem, Daihatsu Serion, Hyundai Getz
1.5 lt < CC < 3.0 lt (G) /2.5 lt (D) Honda Civic (1/8 AT, 1.8 MT atau 2.0 AT) Honda City (i-DSI atau VTEC : Facelift AT, Faclift MT) Honda Accord (VTO : AT, MT, atau VTIL : AT, MT) Toyota Camry (2400 G AT, 2400 V AT) Mercedes-Benz (B 170, C 23-\0 Elegance, E200 Kompressor, E 280 Elegance)
CC >3.0 lt (G) / 2.5 (D) Toyota Camry (3500 Q AT) Mercedez-Benz S 350L, E 340
MPV 4z2 CC < 1.5 lt (G/D) Suzuki APV, Suzuki Carry, Daihatsu Xenia, Toyota Avanza
1.5 lt ≤ CC < 2.5 lt (G/D) Toyota Alphard (AS 2.4, ASG 2.4), Toyota Kijang, Mitsubishi Kuda, Isuzu Panther, Honda Stream (1700cc AT, 1700cc MT, 2000cc)
2.5 lt < CC < 3.0 lt (G) Toyota Wish, Honda Oddessey
CC > 3.0 lt (G) /2.5 (D) Mercedes ML
SUV 4x4 CC < 1.5 lt Daihatsu Taruna, Hyundai Atoz, Suzuki Karimun
1.5 lt < CC < 3.0 lt (G) /2.5 lt (D) Toyota Fortuner, Honda CR-V (2.0 AT, 2.0 MT, 2.4 AT), Nissan X-Trail, Nissan Terrano, Ford Escape
CC > 3.0 lt (G) / 2.5 (D) Toyota Land Cruiser VX, LandRover Prado, Mercedes Jeep, Ford Everest
Sumber : *) Gaikindo, 2007
**) Beberapa dari www.sirajakredit.com

otomotif di Asia dan Eropa memesan produk awalnya di Thailand. Produksi otomotif Thailand berupa truk dan mobil bak terbuka berkapaistas satu ton, telah menguasai 30% pasar dunia.
Kemudahan Masuk-Keluar Pasar
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) tahun 2007 menunjukkan terdapat 39 anggota Gaikindo. Duapuluh sembilan perusahaan merupakan perusahaan dagang dan perusahaan merupakan perusahaan manufaktur. Beberapa perusahaan ada yang sudah tidak ada di pasar, seperti PT Inremco yang dahulu mengimpor Ford, atau PT Timor Putra Nusantara yang dulu memproduksi Timor mobil. Mobil baru merek Timor, Cakra, Nenggala juga sudah tidak terlihat di masyarakat.
Menurut Soebronto Laras, seleksi alamiah akan terjadi bagi pengusaha baru yang akan masuk ke industri otomotif. Hal ini disebabkan 90% pangsa pasar kendaraan di Indonesia dikuasai lima merek (Toyota, Daihatsu, Suzuki, Mitsubishi, dan Isuzu), hanya 10% yang diperebutkan oleh pendatang baru (Anonymous, 1995).
Pangsa Pasar
Pasar mobil di Indonesia dikuasai oleh merek-merek tertentu. Dalam Anonymous (2004) disebutkan bahwa berdasarkan data Gaikindo, tahun 2003 Toyota masih memimpin pasar dengan membukukan penjualan sebanyak 100.860 unit (28,46%). Di tempat kedua adalah Mitsubishi dengan penjualan sebanyak 77.104 unit (21.76%). Ketiga Suzuki 70.154 unit (19.80%). Keempat Daihatsu 21.658 unit (6.11%). Pangsa pasar keempat perusahaan tersebut adalah 76.13%. Tingkat konsentrasi pasar keempat perusahaan tersebut menggunakan HHI (Herfindahl Hirschman Index) adalah : (28.5)2 + (21.8)2 + (19.8)2 + (6.1)2 = 1.716,749 ≈ 1.717
Tahun 2004, data Gaikindo dalam Anonymous, 2005b menunjukkan bahwa Toyota mendominasi total penjualan mobil yaitu sebanyak 137.324 unit atau 28.96%. Posisi kedua dan ketiga masing-masing adalah Mitsubishi (18.79%) dan Suzuki (16.80%). Konsentrasi pasar ketiga perusahaan tersebut : (28.96)2 + (18.79)2 + (16.8)2 = 1.473,98 ≈ 1.474
Selanjutnya, data Gaikindo dalam Gaikindo, 2007 menunjukkan bahwa pada tahun 2005 dan 2006 terdapat perbedaan perusahaan yang menguasai pangsa pasar terbesar penjualan kendaraan bermotor di Indonesia. Sepuluh merek/model mobil dengan penjualan tertinggi di tahun 2005 dan 2006 disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Merek Mobil dengan Tingkat Penjualan Tertinggi Tahun 2005 dan 2006
Tahun 2005 Tahun 2006
No Model Jml (Unit) % Model Jml (Unit) %
1 Toyota Kijang 93.114 17,4 Toyota Avanza 52.260 16,4
2 Toyota Avanza 54.893 10,3 Toyota Kijang 46.565 14,6
3 Suzuki Carry 47.896 9,0 Daihatsu Xenia 23.555 7,4
4 Mitsubishi FE Colt Diesel 35.470 6,6 Suzuki Carry 23.301 7,3
5 Honda Jazz 32.241 6,0 Mitsubishi Colt Diesel FE 21.740 6,8
6 Suzuki APV 27.882 5,2 Honda Jazz 18.581 5,8
7 Daihatsu Xenia 27.505 5,2 Toyota Dyna 13.479 4,2
8 Mitsubishi T-120 SS 22.187 4,2 Suzuki APV 12.283 3,9
9 Mitsubishi L-300 19.431 3,6 Isuzu Panther 11.615 3,6
10 Isuzu Panther 18.846 3,5 Mitsubishi L-300 10.722 3,4
Total 379.465 71,1 Total 234.101 73,4
Penjualan Domestik 533.917 100,0 Penjualan Domestik 318.904 100,0
Sumber : Gaikindo, 2007.
Pada tahun 2005, empat perusahaan dengan pangsa pasar terbesar berturut-turut adalah Toyota (148.007 unit/27.7%), Mitsubishi (77.088 unit/14.4%), Suzuki (75.778 unit/14.2%), dan Honda (32.241 Unit/6.0%). Tingkat konsentrasi pasar keempat perusahaan tersebut menggunakan HHI adalah : (27.7)2 + (14.4)2 + (14.2)2 + (6.0)2 = 1.212,29 ≈ 1.212
Memperhatikan perhitungan HHI di atas, dapat disimpulkan bahwa tingkat konsentrasi pasar empat perusahaan dengan pangsa pasar terbesar (C4) berubah-ubah. Konsentrasi tertinggi terjadi tahun 2003. Menurun pada tahun 2005, dan kembali meningkat tahun 2006 (namun tidak lebih tinggi dari C4 pada tahun 2003). Pangsa pasar empat perusahaan terbesar menunjukkan bahwa pasar mobil merupakan pasar Oligopoly, dan terbentuk secara alami.
Tabel 4. Pangsa Pasar Empat Perusahaan Terbesar dan HHI
Tahun C4 (%) HHI
2003 76.13 1.717
2004 *) 64.55 1.474
2005 62.30 1.212
2006 64.00 1.544
Sumber : Diolah dari Berbagai Sumber
Catatan :
*) Hanya pangsa pasar tiga perusahaan terbesar
Selain itu, bedasarkan uraian di atas juga dapat disimpulkan bahwa pada periode 2003 – 2006 Toyota merupakan merek dengan pangsa tertinggi. Kesimpulan lain, pangsa pasar Toyota pada periode tersebut menunjukkan tren perkembangan positif, yaitu dari 28.46%, menjadi 28.96%, 27,7% dan 35,2%. Toyota menjadi market leader, karena memang merupakan perusahaan pertama yang merakit mobil di Indonesia. Dua perusahaan lain yang juga menjadi penguasa pasar pada periode 2003 – 2006 adalah Suzuki dan Mitsubishi. Perusahaan di posisi ke-empat pangsa pasar terbesar adalah Daihatsu atau Honda.
Terlihat bahwa produk Jepang mendominasi pasar mobil di Indonesia. Menurut informasi market share mobil produk Jepang mencapai 93.37% (Anonymous, 2005a). Sisanya diperebutkan oleh mobil asal Korea, Jerman, Perancis, Swedia, Inggris, Amerika Serikat, dan mobil lokal Indonesia.
Menurut jumlah penumpang dan ukuran silinder, family car atau dikenal dengan sebutan multi purpose vehicle (MPV) merupakan mobil yang paling digemari dengan pangsa pasar mencapai 74.7%. Dari jumlah tersebut, MPV silinder berukuran sedang (1500cc – 3000cc) merupakan favorit dengan penjualan mencapai 44.6 %.
Biaya Industri
Berdasarkan struktur biaya produksi, struktur utama biaya industri otomotif (manufaktur) terdiri atas :
Biaya Tetap
1. Biaya infrastruktur pabrik (investasi)
2. Biaya R&D
Biaya Variabel
1. Biaya bahan baku (komponen)
2. Biaya tenaga kerja
Indonesia saat ini baru memproduksi sebagian komponen mobil dan merakitnya. Oleh karena itu biaya terbesar dalam industri otomotif adalah biaya investasi infrastruktur dan biaya pengadaan (impor) bahan baku (komponen). Investasi diperlukan terutama untuk membangun sarana produksi untuk perakitan. Biaya investasi merupakan biaya tetap (fixed cost) pada jangka pendek. Biaya investasi menjadi sunk cost, karena sudah dikeluarkan di awal untuk jangka waktu tertentu sesuai kapasitas produksi yang ditetapkan. Biaya investasi juga merupakan opportunity cost, karena dengan investasi yang meningkat diharapkan dapat meningkatkan produksi sehingga dapat meningkatkan return. Sebagian bahan baku masih diimpor dan nilainya besar karena tingginya nilai tukar mata uang asing terhadap rupiah.
Marjinal cost pada industri otomotif timbul ketika perusahaan meningkatkan kapasitas produksinya, baik dengan meningkatkan modal, tenaga kerja, ataupun teknologi. Tabel 5 menunjukkan total biaya investasi di bidang otomotif pada tahun 2003 – 2004, baik yang bersifat investasi untuk perakitan jenis kendaraan baru atau meningkatkan kapasitas produksi.
Tabel 5. Total Investasi di Bidang Industri Otomotif Tahun 2003-2004
Perusahaan Nilai Invetasi Kegunaan Investasi Keterangan
PT Honda Prospect Motor USD 70 juta Merakit Honda Sebelumnya merakit Honda Stream, New City, CRV
PT Astra Daihatsu Motor Rp 300 miliar Merakit Xenia Total investasi Rp 2 trilyun
Toyota Motor Company melalui Toyota Motor Manufacturing Indonesia USD 380 juta IMV (International Multipurpose Vehicle) Kapasitas Produksi 70.000 uni9t IMV dan 180.0000 unit mesin bensin/thn
Toyota Motor Company melalui Toyota Motor manufacturing Indonesia USD 90 juta Merakit Avanza Melibatkanb 2.200 tenaga kerja (kapasitas 6.000unit/bulan)
PT Tjahja Sakti Motor (Astra Group) Rp 50 miliar (Euro 50 juta) Merakit BMW seri 5 Kapasitas produksi 16unit/hari
PT`Hyundai Mobil Indonesia Rp 20 miliar Merakit Hyundai Matrix Sebelumnya sudah merakit AtoZ, Trajet, Excel
PT Hino Indonesia USD 8 juta Truk Hino Meningkatkan kapasitas produksi truk Hino menjadi 10.000 unit/thn
Honda Motor Co. Ltd USD 137 juta Perakitan sejumlah mobil merek Honda 90% produksi diekspor ke Asia dan Eropa
Proton Holding Sdn.Bhd RM 68,4 juta Perakitan mobil proton

Sumber : Rochma, 2005
Sisi permintaan
Dengan adanya beberapa tipe mobil yang ditawarkan dan tersedia dari berbagai merek menyebabkan demand menjadi elastis, karena konsumen memiliki banyak pilihan. Jika harga salah satu tipe mobil dari merek tertentu naik, konsumen dapat mengalihkan pilihannya pada merek atau jenis lain.
Saat ini secata umum mobil di Indonesia masih merupakan produk luxuries. Masyarakat yang dapat memiliki mobil adalah masyarakat menengah ke atas. Elastisitas pendapatan terhadap permintaan mobil bertanda positif, artinya jika pendapatan masyarakat meningkat, permintaan terhadap mobil akan meningkat.
Permintaan mobil fluktuatif (lihat Tabel 1). Penurunan permintaan yang cukup tajam terjadi pada tahun 1998 – 1999 ketika terjadi krisis ekonomi. Mulai tahun 2000 permintaan meningkat kembali dan tahun 2006 kembali terjadi penurunan akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia pada 1 Oktober 2005 yang rata-rata mencapai 126% (disebabkan kenaikan harga minyak dunia yang mencapai US$ 73 per barel). Rata-rata pertumbuhan permintaan pada periode tahun 2000 – 2006 adalah minus 3.04%, karena permintaan tahun 2006 turun sebesar 67,4% sedangkan untuk periode 2000 – 2005 rata-rata pertumbuhannya positif 13.05%.
Konsumen otomotif memiliki preferensi yang berbeda-beda. Sebagai contoh pada pameran otomotif Jakarta Motorcycle Show 2004, masyarakat membeli baik Daihatsu Xenia yang harganya 70 juta-an hingga Bentley yang harganya 4.5 milyar/unit (Ovy, 2004). Daihatsu Xenia saja masih dibedakan atas Li dan Xi.
Ada konsumen yang menginginkan harga murah, ada yang mementingkan ukuran yang sesuai kebutuhan (misal yang memiliki garasi terbatas memilih mobil kecil (city car), sedangkan yang membutuhkan daya tampung besar memilih MPV). Ada pula konsumen yang mementingkan penampilan sehingga memilih mobil mewah.
Sehubungan dengan keinginan yang berbeda tersebut, dapat diidentifikasikan ciri-ciri konsumen otomotif. Kaum muda, ibu rumahtangga, professional yang berjiwa muda umumnya menyukai ukuran kecil (city car), contoh merek mobilnya adalah Suzuki Karimun, Hyundai AtoZ, Daewoo Matiz, Kia Visto, dan Daihatsu Ceria (Luhulima, 2001), juga Suzuki Aerio, Hyundai Getz, Chevrolet Aveo, dan Honda Jazz (Ovi, 2004), serta Kia Sorento (Atmaji, 2003) atau Toyota Yaris dan Suzuki Swift (Anonymous, 2006). Mereka yang ingin tampil ”gagah” dan Sportif menyukai jenis sport utility vehicle (SUV), contohnya Nissan Xtrail, Ford Escape, dan Toyota Land Cruiser. Bagi keluarga dengan anggota keluarga relative besar, menyukai kendaraan keluarga (family car) sehingga muncul jenis multiple purpose vehicle (MPV). Menurut Atmaji (2003) ada (MPV) 1.000cc – 1.300cc, seperti Daihatsu Xenia dan Toyota Avanza, atau kelas tanggung (1.500cc – 1.600cc), seperti Daihatsu Taruna, kelas 1.800cc – 2.000cc seperti Kijang (menurut Wikipedia, 2007 generasi Kijang terus dikembangkan hingga muncul nama-nama Kijang seperti Buaya, Doyok, Super, Grand, Kapsul (LSX dan LGX), Krista, dan Innova), Mitsubishi Kuda serta Isuzu Panther.
Hasil studi The Indonesian Brand Health and Needs tahun 2006 dalam Ray (2006) menunjukkan bahwa selain faktor jenis kelamin, pembelian mobil di Indonesia ternyata bergantung pada kesukuan konsumen. Pria cenderung mencari merek mobil yang bisa memenuhi kebutuhan merek dalam bersosialisasi, sekaligus menawarkan keuntungan-keuntungan seperti kekuatan mesin dan rancangan yang sporty. Sedangkan wanita cenderung mencari merek-merek yang lebih “hidup dan trendi”, serta memenuhi kebutuhan praktis seperti daya tahan dan kenyamanan berkendara.
Mengenai kesukuan, pembeli yang berasal dari suku Batak dan Melayu lebih mementingkan keamanan. Sementara pembeli dari etnis Cina lebih mementingkan kenyamanan, sedangkan suku Jawa cenderung memperhatikan kebutuhan akan status dan control.
Hasil studi tersebut juga menunjukkan bahwa hampir 95% pembeli mobil baru memperhatikan merek saat memutuskan untuk membeli mobil baru. Merek yang paling menarik adalah merek yang dapat mengembangkan daya tarik emosional. Menggunakan kerangka kerja psikologis untuk mengungkap kebutuhan yang bersifat emosional, teridentifikasi enam segmen buyers, yaitu security, comfort, eximent, status, trendy, dan control. Karakteristik segmen pembeli dan contoh merek yang disukai ditunjukkan pada Tabel 6.
Tabel 6. Karakteristik Segmen Pembeli dan Merek Mobil yang Disukai
Segmen Ciri Konsumen Hal yang Dipentingkan Merek Mobil yang Disukai
Security Buyers Suka bergaul dan mencari kelengkapan keamanan & kelancaran berkendaraan Keamanan Toyota
Comfort Buyers Menyukai hal-hal praktis dan menginginkan kelengkapan yang lebih berguna daripada hanay sebagai penghias Kenyamanan, termasuk hemat bahan bakar dan biaya perawatan murah Suzuki dan Isuzu
Excitement Buyers Ekstrovert Kesenangan Honda
Status Buyers Ambisius, hasrat kekuasaan dan kehormatan yang tinggi Status BMW dan Mercedes
Trendy Buyers Kepribadian menyenangkan Rancangan sporty/trendy Honda dan Suzuki
Control Buyers Senang bersosialisasi Rancangan elegan Mercedes
Sumber : Ovy, 2004.
Studi tersebut jgua menunjukkan peringkat daya tarik dan merek. Berdasarkan peringkat daya tarik merek, BMW dan mercedes menduduki tempat teratas pada kategori merek mewah. Adapun Honda dan Toyota merupakan merek favorit dalam kategori non-mewah dan memperoleh komitmen cukup tinggi dari para pengguna.
Kemungkinan Kolusi
Kolusi adalah persengkongkolan. Kolusi menimbulkan monopoli. Menurut Imanullah, dkk (2004), Toyota, Honda, Suzuki, dan Daihatsu merupakan empat perusahaan penikmat monopoli penjualan mobil di Indonesia yang dilakukan oleh Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM). Jika karena krisis ekonomi beberapa perusahaan otomotif meninggalkan Indonesia, ketika perekonomian kembali membaik dan muncul peta baru dalam industri otomotif dunia, perusahaan-perusahaan tersebut kembali menggandeng mitra lokal untuk memenangkan penjualan mobil. Produsen mobil dunia Daihatsu Motor Company berniat membuat mobil nasional yang proses rancang bangun dan proses pemasarannya dilakukan di Indonesia. Dengan slogan mobil baru di bawah Rp 100 juta Daihatsu bersama dengan Astra (Toyota) bekerjasama membuat mobil kecil (city car) dengan nama Xenia dan Avanza. Suzuki Motor Company melakukan hal serupa. Bekerjasama dengan kelompok Indomobil, Suzuki memproduksi APV (all purpose vehicle). Langkah selanjutnya Suzuki membangun sarana manufaktur berkelas dunia. Pabrik tersebut rencananya akab menjadi basis produksi ekspor APV kawasan Asia dan diproyeksikan masuk ke Amerika Latin, Asia Pasifik, dan Afrika. Honda melakukan cara berbeda. Honda tidak membangun industri mobilnya di Indonesia, tapi mendirikan pabrik komponen yang seluruh kepemilikannya dikuasai oleh Honda Motor Company. Lain lagi yang dilakukan oleh Ford. Produsen ini mengambil alih langsung peran pemasarannya di Indonesia. Jika dulu hak penjualannya dipegang PT Inremco, kini diambilalih oleh Ford di bawah PT Ford Motor Indonesia. Serupa dengan Ford, Nissan menggunakan strategi mobil yang dikendalikan sepenuhnya oleh Nissan Jepang Melalui PT Nissan Motor Indonesia. Masih terdapat potensi pemain baru di industri otomotif Indonesia, yaitu Great Walls (China), Tata Mahindra dan Mahindra (India), Fia (Italia), dan Proton (Malaysia).
Untuk menghalangi masuknya pemain baru, produsen terus perupaya melakukan strategi Differentiated, dengan mendefiinisikan diri secara unik melalui inovasi. Konsep Blue Ocean Strategy (BOS) dapat diterapkan dengan merubah cukup banyak dimensi-dimensi yang menjadi basis utama persaingan. Intinya BOS menawarkan kurva manfaat baru untuk konsumen dengan membuang manfaat-manfaat yang kurang penting. Seperti ada kasus Avanza/Xenia, mereka berhasil menciptakan kategori sendiri yang sebelumnya tidak terjangkau. Avanza/Xenia menggabungkan manfaat mobil kecil (yang hemat BBM), mobil keluarga (ruangan relative luas), dan layanan purna jual yang baik (lewat jaringan layanan purna jual Astra). Jadi dimensi yang diubah termasuk harga, pemakaian bahan bakar, luas mobil, hingga layanan purna jual (Anonymous, 2006a). Menurut Atmaji (2003), untuk menarik perhatian konsumen pabrik mobil mengeluarkan model baru (benar-benar baru) atau mengubah muka dari model lama (facelift).
Antitrust di Industri Otomotif
Sejak 1999, Indonesia memiliki Undang-Undang Persaingan Domestik (yang disebut UU No. 1 mengenai Pelarangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha yang tidak Sehat). UU tersebut berlaku bagi semua bidang usaha, termasuk otomotif. Di masa lalu pemerintah turut bertanggung jawab terhadap timbulnya kegagalan pasar akibat perilaku anti persaingan yaitu ketika gagal dalam program mobil nasional karena perusahaan yang melaksanakan program tersebut ditunjuk langsung oleh pemerintah. Menurut Edward Graham (Senior Fellow Institute for Internasional Economics) dalam Anonymous, 2006b industri otomotif di Indonesia sangat terfragmentasi dan termasuk sektor yang diproteksi. Jika proteksi diturunkan, konsumen diuntungkan karena harga mobil akan turun, namun produsen mobil domestik menjadi tidak kompetitif, karena produknya belum memenuhi standar internasional (seperti mengenai emisi).



DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 1995. OTOMOTIF. Diunduh dari www.hamline.edu
--------------. 1996. ”Mengapa Timor, Mengapa Tommy?” dalam Analisa & Peristiwa Edisi 01/01 6 Maret 1996, diunduh dari www.tempointeraktive.com
--------------. 2003. Persaingan Industri Otomotif Makin Ketat, Indonesia Sebaiknya Fokus ke Sepeda Motor. Kompas, Kamis 18 September 2003, diunduh dari www.kompas.com
----------------. 2004. Penjualan MobilCapai 354.31 Unit. Metro Balikpapan, 19 Januari 2004, diunduh dari www.metrobalikpapan.co.id
----------------. 2005a. Profile. Diunduh dari www.isuzu-astra.com
----------------. 2005b. Pasar Mobil 2005 Masih Potensial. Bernas, Senin 5 Desember 2005, diunduh dari www.bernas.co.id
----------------. 2006a. Inovasi dan Berpikir Holistik. Diunduh dari www.itpin.com
---------------. 2006b. Membahas Undang-Undang Persaingan di Indonesia : Berbagai Tantangan dan Pendekatan. www.columbia.edu
Atmaji, Wahyu. 2003. Persaingan Mobil Murah, Konsumen Diuntungkan. Suara Merdeka, Sabtu 27 Desember 2003, diunduh dari www.suaramerdeka.com
Gaikindo. 2007. Domestic Motor Vehicle Export and Sales in Indonesia by Category Jan-Dec 2006. www.gaikindo.org
Gero, Pieter P. 2001. Menghapus Cap ”Tukang Jahit” Industri Otomotif Nasional. Kompas, Selasa 28 Agustus 2001, diunduh dari www.kompas.com
.
Herbawati, Neneng. 2003. Analisa Manufaktur : Menyoal Arah Industri Mobil Nasional. Bisnis Indonesia, Rabu 23 Juli 2003, diunduh dari www.bisnis.com
Imanullah, Fahmi, Nurul Kolbi, dan Theresia Wahyuni. 2004. Ketika Toyota Bukan Lagi Buatan Jepang. Diunduh dari www.majalahtrust.com
Ovi. 2004. Laporan Utama : Indonesia Basis Produksi Mobil Global. Diunduh dari www.pikiran-rakyat.com
Ray. 2006. Motif Dibalik Pembelian Mobil di Indonesia. Diunduh dari www.otogenik.com
Rochma, Malia. 2005. Industri Mobil, Tak Terpengaruh Harga BBM. Economic Review Journal. No 201. September 2005
Wikipedia. 2007. Toyota Kijang. Diunduh dari http://wikipedia.org
Share this article :

0 Komentar:

Post a Comment

Silahkan berkomentar disini walaupun hanya "Hay". Kami akan menghargai komentar anda. Anda berkomentar saya akan berkunjung balik

 
Support : Aris Decoration | Galaxy Young
Copyright © 2014. All in here - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger