Home » , » PENENTUAN HARGA BARANG PUBLIK

PENENTUAN HARGA BARANG PUBLIK

Written By Haris Ahmad on Friday, January 14, 2011 | 11:17 AM



Penyediaan barang-barang publik yang dibutuhkan oleh pemerintah menimbulkan persoalan karena barang barang tersebut tidak dapat dijual kepada seorang konsumen saja atau karena tidak efisien. Disini akan dibahas mengenai barang publik yang dapat dipungut suatu harga pada barang tersebut, akan tetapi pemungutan harga atas penyediaan barang tersebut tidak dilaksanakan melalui mekanisme pasar. Kasus ini terlihat pada suatu industri yang mempunyai struktur biaya menurun dimana untuk industri tersebut sebetulnya mekanisme pasar dapat dipakai untuk menentukan harga, tetapi harga yang terjadi menjadi sangat tinggi dan jumlah yang diproduksi sangat sedikit. Industri biaya menurun ini juga disebut sebagai monopoli alamiah (natural monopoly), misalnya pos, kereta api, dan sebagainya.

Pajak Untuk Menutupi Defisit
Defisit pemerintah dalam memproduksi barang publik dapat ditutup dengan pajak. Tetapi pemungutan pajak dapat menimbulkan berbagai masalah.
- Apabila pajak yang dikenakan pada masyarakat adalah pajak jenis lump-sum (dikenakan dalam jumlah yang sama pada setiap orang) maka tidak ada masalah dari segi efisiensi karena pajak ini tidak mempengaruhi prilaku masyarakat. Akan tetapi pajak lump-sum bertentangan dengan prinsip kemampuan membayar pajak.
- Apabila dengan pajak pendapatan maka dari segi kemampuan membayar pajak pendapatan bersifat adil, tetapi pajak pendapatan menimbulkan efek pendapatan dan efek subtitusi yang menyebabkan perubahan prilaku konsumen sehingga pajak tersebut dikatakan tidak efisien.



Pungutan untuk Menutupi Defisit
Lebih adil apabila defisi perusahaan-perusahaan negara ditutup dengan pungutan bagi orang yang menikmati jasa perusahaan-perusahaan negara tersebut. Masalahnya, apabila jumlah pungutan terlalu tinggi karena dimaksudkan untuk menutupi biaya produksi maka output yang diproduksikan akan menjadi terlalu sedikit dan harga lebih menjadi tinggi daripada harga pada tingkat output yang efisien, yaitu pada MC=AR.
Apabila defisit perusahaan negara tersebut kecil sedangkan konsumennya banyak maka pungutan tambahan akan menjadi sedikit sehingga masalah efisiensi dapat diatasi dengan karena jumlah pungutan tambahan tidak akan menyebabkan konsumen mengurangi permintaan akan jasa/barang perusahaan negara yang dimaksud

Diskriminasi Harga untuk Menutup Defisit
Sistem diskriminasi harga adalah harga yang berbeda antara jumlah barang yang berbeda. Diskriminasi harga ini banyak dilaksanakan oleh perusahaan air minum, perusahaan listrik yang mengenakan tarif yang berbeda untuk setiap jenis golongan konsumen, seperti penggunaan untuk industri, rumah tangga, dan sebagainya.

Peraturan Pemerintah Untuk Menutupi Defisit
Peraturan pemerintah dapat juga digunakan sebagai suatu sistem pengenaan harga yang ditetapkan oleh suatu perusahaan negara. Pada umumnya peraturan pemerintah menetapkan bahwa harga yang dapat dipungut haruslah dapat memenuhi seluruh biaya produksi, termasuk pengembalian modal.

Teori Second-Best
Didalam first best theory of pricing dikatakan bahwa penetapan harga berdasarkan biaya marjinal. Masalahnya, apabila semua perusahaan swasta kecuali satu perusahaan menetapkan harga berdasarkan prinsip biaya marginal, maka perusahaan yang satu tersebut tidak menggunakan sumber ekonomi secara efisien.
Teori kedua terbaik (second best) menyatakan bahwa apabila dalam suatu perekonomian terdapat banyak industri yang tidak efisien, yaitu tidak menentukan harga yang sesuai dengan biaya marginal, maka pemerintah harus memaksimumkan kemakmuran masyarakat dengan penetapan harga pada perusahaan-perusahaan negara.
Dalam kebijakan keda terbaik pemerintah harus berupaya agar tercapai penggunaan agar sumber ekonomi yang optimal, yaitu pada suatu tingkat harga barang X dimana kerugian masyarakat sama besarnya dengan keuntungan masyarakat akibat penurunan permintaan barang Y.

Peak Load Pricing
Seringkali suatu perusahaan menghadapi kurva permintaan yang berbeda pada dua waktu yang berbeda, sehingga dalam hal ini perusahaan seharusnya menetapkan dua harga yang berbeda untuk kedua jenis permintaan tersebut. Misalkan suatu perusahaan listrik menghadapi permintaan listrik yang berbeda pada siang hari dan pada malam hari, katakan pada siang hari disebut periode off-peak dan pada waktu malam hari disebut periode peak. Dalam kasus ini, periode off-peak berlangsung selama 12 jam dan periode peak 12 jam yang kita definisikan Ws sebagai proporsi waktu siang dan Wm sebagai proporsi waktu malam, sehingga Ws + Wm = 12/24 + 12/24 = 1. Diasumsikan bahwa permintaan akan listrik pada setiap periode tidak bergantung pada harga listrik pada periode yang lain.








Ada tiga kesimpulan yang dapat diambil dari analisa kebijaksanaan harga peak load, yaitu:
1. Harga pada periode off-peak sama dengan biaya marginal jangka pendek.
2. Harga pada periode peak lebih tinggi daripada biaya marjinal pada jangka panjang.
3. Pada kapasitas optimum penerimaan total sama dengan biaya total sehingga para konsumen pada periode peak menanggung seluruh biaya kapasitas.
Share this article :

0 Komentar:

Post a Comment

Silahkan berkomentar disini walaupun hanya "Hay". Kami akan menghargai komentar anda. Anda berkomentar saya akan berkunjung balik

 
Support : Aris Decoration | Galaxy Young
Copyright © 2014. All in here - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger