Home » » PERANAN KONVERSI MINYAK TANAN KE GAS LPG

PERANAN KONVERSI MINYAK TANAN KE GAS LPG

Written By Haris Ahmad on Saturday, January 22, 2011 | 9:14 AM


BAB I
PENDAHULUAN
1.             A. Latar Belakang Masalah
Di Negara yang sudah maju dan mapan dalam bidang ekonomi, jumlah pengeluaran belanja rumah tangga konsumen yang tinggi bukanlah menjadi persoalan karena didukung dengan pendapatan individu yang tinggi pula. Tetapi di Negara berkembang seperti Indonesia yang merupakan Negara agraris di mana sebagian besar pendapatan penduduknya berasal dari sektor pertanian terkadang jumlah pengeluaran rumah tangga konsumen yang tinggi tidak seimbang dengan jumlah pendapatan individu yang rendash.
Masyarakat Indonesia cenderung memiliki pendapatan yang rendah sedangkan pengeluaran untuk konsumsi sehari – hari mereka cukup tinggi, sehingga menyebabkan banyaknya masyarakat yang hidup dalam garis kemiskinan. Hal ini sebenarnya bukan hanya disebabkan oleh mahalnya harga kebutuhan tetapi juga karena gaya hidup masyarakat sendiri. Gaya hidup masyarakat Indonesia yang suka menconntoh pula konsumsi msayarakat di Negara maju membuat jumlah pengeluaran dan pendapatan mereka menjadi tak seimbang. Gaya hidup seperti ini serupa dengan teori  James Dussenberry ( 1994 ) yang mengemukakan bahwa orang yang berpendapatan lebih rendah akan meniru pola konsumsi orang yang berpendapatan lebih tinggi di sekelilingnya.
Namun tidak semua masyarakat Indonesia berperilaku seperti itu. Sebagian masyarakat Indonesia ada pula yang pengeluaran rumah tangganya disesuaikan degan pendapatan mereka.
Pendapatan masyarakat Indonesia biasanya lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok daripada untuk  investasi atau menabung. Salah satu kebutuhan pokok yang akhir – akhir ini cukup mendapat sorotan karena harganya yang melonjak tinggi adalah minyak tanah. Sebagian besar masyarakat Indonesia terutama dari kalangan ekonomi menengah kebawah menggunakan minyak tanah baik sebagai bahan bakar untuk memasak ataupun beberapa kegiatan lainnya. Namun akhir – akhir ini minyak tanah menjadi sulit didapatkan dan kalaupun ada harganya juga relatif mahal, sehingga masyarakat menjadi kesulitan untuk memperolehnya. Kelangkaan dan mahalnya harga minyak tanah ini terjadi karena adanya pengurangan suplai dan pengurangan subsidi pada minyak tanah sehubungan dengan adanya kebijakan pemerintah tentang program konversi minyak tanah ke gas LPG ( Elpiji ).
Program konversi minyak tanah ke gas LPG ( elpiji ) dipilih oleh pemerintah sebagai solusi agar masyarakat dapat berhemat dalam pemakaian bahan bakar untuk sehari – hari. Hal ini disebabkan karena semakin melambungnya harga minyak di pasar dalam beberapa tahun terakhir. Harga komiditi tersebut diperkirakan akan terus naik di masa mendatang dan hal ini akan diiringi dengan berkurangnya suplai bahan bakar  minyak. Dua tahun yang lalu misalnya, harga minyak dunia masih berkisar pada harga US $ 50 per barrel dan kini sudah mencapai US & 70 per barrel. Padahal di Indonesia, bahan bakar minyak yang masih di subsidi ( khususnya minyak tanah ), maka dengan semakin mahalnya harga minyak di pasar dunia, subsidi yang dikucurkan pemerintahpun akan semakin besar. Hal ini disebabkan karena harga minyak tanah di Indonesia tidak bisa dinaikkan mengikuti harga pasar dunia. Padahal, sebagian minyak tanah yang dikonsumsi di dalam negeri masih diimpor dari Negara lain.
Melihat keadaan tersebut maka LPG ( elpiji ) lantas dipilih karena produksi dan potensi kandungannya masih cukup besar di Indonesia. Untuk konsumsi domestik sudah lebih dari cukup sehingga sebagian masih bisa di ekspor dari segi ini, berdasarkan kesetaraan nilai kalori, subsidi LPG            ( elpiji ) lebih rendah daripada minyak tanah. Pemerintah dapat menghemat subsidi hingga Rp. 15 – Rp. 20 triliyun jika program ini berhasil.
Dari segi biaya, menurut penelitian atas perhitungan keuntungan konsumen secara ekonomis yang dilakukan oleh pertamina, pemakaian LPG ( elpiji ) juga jauh lebih hemat daripada minyak tanah dalam menghasilkan pembakaran. Dari hasil penelitian tersebut juga menyatakan bahwa pengeluaran untuk membeli minyak tanah lebih besar jika dibandingkan dengan LPG ( untuk tabung ukuran 3 kg ). Biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli minyak tanah selama 1 bulan ( 30 hari ) sebesar                 Rp. 75.000,00 sedangkan LPG dengan tabung 3 kg hanya Rp. 51.000,00, sehingga konsumen dapat menghemat biaya belanja rumah tangga dalam hal ini pengeluaran konsumsi bahan bakar sebesar Rp. 24.000,00. Disamping itu LPG sulit untuk dioplos dan disalahgunakan. Sedangkan dari segi kebersihan, LPG lebih bersih daripada minyak tanah karena pada saat pembakaran tidak menimbulkan jelaga, sehingga dapat mengurangi polusi udara.
Melihat kelebihan dan keuntungan dari penggunaan gas LPG tersebut maka pemerintah mengeluarkan kebijakan tentang konversi minyak tanah ke gas LPG, sehingga pemerintah dapat menghemat APBN dan mengalokasikan anggaran dana APBN untuk hal lain. Tetapi dalam pelaksanaanya ternyata tidak semudah yang dikira di mana persoalan ini masih menemui banyak hambatan, yang diantaranya disebabkan karena masyarakat sudah terbiasa menggunakan minyak tanah, apalagi pemerintah terlalu mendadak dan tidak terencana secara komprehensif.
Dengan melihat fenomena yang terjadi sesuai dengan uraian di atas, maka peneliti bermaksud mengadakan sebuah penelitian dengan mengambil judul : PERANAN PROGRAM KONVERSI MINYAK TANAH KE GAS LPG TERHADAP PENGELUARAN KONSUMSI MASYARAKAT DI DUSUN CERMENAN DESA SUGIHWARAS KECAMATAN NGORO KABUPATEN JOMBANG.
1.             B. Batasan Masalah
Agar penelitian ini lebih terarah dan terfokus pada judul “ Peranan Program Konversi Minyak Tanah Ke Gas LPG Terhadap Pengeluaran Konsumsi Masyarakat Di Dusun Cermenan Desa Sugihwaras Kecamatan Ngoro Kabupaten Jombang, “ maka peneliti perlu mengadakan pembatasan masalah dalam penelitian program konversi minyak tanah menjadi LPG dikaitkan dengan pengeluaran rumah tangga konsumen dalam hal penggunaan bahan bakar di dusun Cermenan, Desa Sugihwaras.
1.             C. Rumusan Masalah
Berdasarkan Latar belakang di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “ adakah peranan program konversi minyak tanah ke gas LPG terhadap pengeluaran konsumsi masyarakat di dusun cermenan Desa Sugihwaras Kecamatan Ngoro Kabupaten Jombang ?”.
1.             D. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan peranan program konversi minyak tanah ke gas LPG terhadap pengeluaran konsumsi masyarakat di dusun Cermenan Kecamatan Ngoro Kabupaten Jombang.
1.             E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk :
1.             Dipakai masyarakat sebagai bahan pertimbangan dalam mendukung program konversi minyak tanah menjadi LPG.
2.             Dijadikan pertimbangan dalam penelitian selanjutnya.
1.             F. Definisi Operasional
Berdasarkan judul penelitian, maka peneliti perlu memberikan definisi operasional yang dimaksudkan untuk memberikan penjelasan terhadap tiap – tiap variabel.
1.             Konversi Minyak Tanah ke Gas LPG
Merupakan program yang dibuat oleh pemerintah sebagai upaya untuk menghemat bahan baker bersubsidi melalui gas LPG yang dinilai lebih irit.
1.             2. Pengeluaran Konsumsi
Merupakan keseluruhan biaya yang harus dikeluarkan ( dalam hal ini biaya untuk membeli minyak tanah ) oleh seseorang untuk memenuhi kebutuhannya di mana pengeluaran tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh pendapatannya tetapi juga lingkungan atau masyarakat sekitar tinggal.


Share this article :

0 Komentar:

Post a Comment

Silahkan berkomentar disini walaupun hanya "Hay". Kami akan menghargai komentar anda. Anda berkomentar saya akan berkunjung balik

 
Support : Aris Decoration | Galaxy Young
Copyright © 2014. All in here - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger