Home » » Rangkuman Matakuliah Kewirausahaan

Rangkuman Matakuliah Kewirausahaan

Written By haris on Wednesday, January 19, 2011 | 3:30 PM


Mata kuliah Pendidikan Kewirausahaan (PKOP4206) berbobot 3 sks dengan 6 pokok kajian yang tertuang dalam 6 Modul. Pada mata kuliah ini membahas dan mengkaji berbagai permasalahan kewirausahaan yang terjadi di era reformasi dan globalisasi.Selanjutnya, dibahas pula bagaimana menjadi wiraswastawan yang tangguh berwirausaha.
Setelah mempelajari Modul ini diharapkan Anda dapat:
  1. menjelaskan konsep-konsep dasar kewirausahaan;
  2. menjelaskan tentang kebutuhan berprestasi dan berkreativitas bagi seorang wirausaha;
  3. mengidentifikasi peluang bisnis dalam kewirausahaan;
  4. menjelaskan manajemen bisnis dalam kewirausahaan;
  5. menunjukkan kebersamaan dan etika bisnis;
  6. mengidentifikasi pengembangan kewirausahaan.
Mata kuliah ini disusun dalam 6 Modul sebagai berikut.
  1. Modul 1: Konsep-konsep Dasar Kewirausahaan/Entrepreneurship
  2. Modul 2: Pendidikan, Kebutuhan Berprestasi, dan Kreativitas bagi Wirausahawan
  3. Modul 3: Identifikasi Peluang Bisnis dalam Wirausaha
  4. Modul 4: Manajemen Bisnis dalam Kewirausahaan
  5. Modul 5: Kebersamaan dan Etika Bisnis
  6. Modul 6: Pengembangan Kewirausahaan
Untuk mempelajari mata kuliah ini, Anda dapat mempelajarinya secara mandiri atau berdiskusi secara berkelompok. Selain itu, Anda dapat mengerjakan latihan-latihan dan tes formatif yang terdapat di setiap akhir kegiatan belajar.
Selanjutnya agar Anda berhasil dengan baik dalam mempelajari mata kuliah ini, ikutilah petunjuk belajar berikut ini.
  1. Bacalah dengan cermat Tinjauan Mata Kuliah ini sampai Anda memahami betul apa, untuk apa, dan bagaimana mempelajari mata kuliah ini!
  2. Bacalah sepintas setiap Modul dan temukan kata-kata yang Anda anggap baru. Tandailah dengan memakai stabilo dan carilah pada kamus yang Anda miliki!
  3. Tangkaplah pengertian demi pengertian dari isi mata kuliah ini, melalui pemahaman sendiri, bertukar pikiran dengan mahasiswa atau guru lain, serta dengan tutor Anda.
  4. Mantapkan pemahaman Anda melalui diskusi melalui pengalaman sehari-hari yang berhubungan dengan masalah-masalah pendidikan kewirausahaan dalam kelompok kecil atau secara klasikal pada saat tutorial.
Selanjutnya silakan Anda mempelajari mata kuliah ini, mulailah dari Modul 1 berurutan sampai dengan Modul 6 dengan baik.

MODUL 1: Konsep-konsep Dasar Kewirausahaan/Entrepreneurship Kegiatan Belajar 1: Konsep-konsep Dasar Kewirausahaan
Rangkuman

Konsep entrepreneurship mulai diperkenalkan pada abad ke-18 di Prancis oleh Richard Cantillon. Pada periode yang sama di Inggris juga sedang terjadi revolusi industri yang melibatkan sejumlah entrepreneur. Kemudian, gagasan tersebut dibahas secara lebih mendalam oleh Joseph Schumpeter, seorang ahli ekonomi Jerman, pada tahun 1911. Melalui teori pertumbuhan ekonomi dari Schumpeter konsep entrepreneurship telah didudukkan pada posisi yang sangat penting dalam pelaksanaan pembangunan.Pengertian entrepreneurship itu sendiri berkembang sejalan dengan evolusi pemikiran para ahli ekonomi di dunia barat, kemudian menyebar ke negara-negara lain termasuk ke Indonesia. Di negara kita sendiri konsep entrepreneurship tersebut dialihbahasakan sebagai kewiraswastaan atau kewirausahaan.
Dari sejumlah definisi yang dikemukakan oleh para ahli baik dalam maupun luar negeri diketahui bahwa terdapat banyak keragaman definisi yang terjadi. Hal ini sangat mungkin karena konsep kewirausahaan itu sendiri merupakan konsep ilmu sosial yang bersifat dinamis dan akan selalu mengalami perubahan seiring dengan kemajuan yang dicapai oleh perkembangan ilmu itu sendiri. Sejumlah definisi yang telah disumbangkan oleh para ahli tersebut merupakan landasan bagi pengembangan studi lebih lanjut.
Kegiatan Belajar 2: Sifat dan Ciri-ciri Kewirausahaan
Rangkuman

Dari beberapa literatur asing dan dalam negeri diperoleh gambaran bahwa begitu banyak rumusan tentang ciri-ciri atau karakteristik dari para wirausaha yang telah memperkaya wacana kewirausahaan itu sendiri. Sejak konsep entrepreneurship diperkenalkan sampai dengan sekarang terdapat kecenderungan adanya berbagai penambahan dalam ciri-ciri tersebut. Hal ini bisa dipahami mengingat semakin modern tingkat kehidupan suatu masyarakat maka akan semakin kompleks dan bervariasi pula hal-hal yang bisa dilakukan oleh seorang wirausaha. Dan setiap perubahan pola kehidupan suatu masyarakat selalu meminta tuntutan kemampuan yang berbeda sehingga sifat, sikap, dan ciri yang dituntut dari seorang wirausaha pada setiap tahap perubahan tersebut akan berbeda-beda pula. Apa yang disajikan dari hasil penelitian Hornaday yang kelihatan begitu mendalam tentang ciri-ciri kewirausahaan tersebut tidak tertutup kemungkinan untuk diperbarui dan diberikan penambahan-penambahan baru, tetapi paling tidak hasil penelitian beliau dapat dijadikan landasan yang sangat berharga untuk mengembangkan studi lebih lanjut.
Kegiatan Belajar 3: Peran dan Fungsi Kewirausahaan
Rangkuman

Pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai oleh negara maju dan upaya peningkatan kesejahteraan yang sedang dilaksanakan oleh negara sedang berkembang, dalam keadaan bagaimanapun konteksnya, banyak bergantung pada mutu sumber daya manusia yang memiliki semangat kewirausahaan, yaitu manusia-manusia yang mampu berpikir logis, sistematis, kritis, kreatif dan inovatif, berwawasan jauh ke depan, dan berani menghadapi tantangan serta tidak takut terhadap berbagai risiko yang akan terjadi. Hal inilah yang menegaskan peran dan fungsi kehadiran para wirausahawan dalam pembangunan.
Terdapat enam peran dan fungsi kewirausahaan dalam pembangunan, yaitu sebagai inovator, perencana, pengambil keputusan, penanggung risiko, dan penghubung.
Daftar Pustaka
  • Afiff, Faisal (1994). Menuju Pemasaran Global. Bandung: Eresco.
  • Archer, Howard (1990). “The Role of the Entrepreneur in the Emergence and Development of UK Multinational Enterprises”: Journal of European Economic History (on line) Available: URL
  • Business Town (2000) “Entrepreneurial: profile of an Entrepreneur. Small business Web Guide (on line). Available: URL
  • Carland, Jame W. et al. (1984). Differentiating Entrepreneurs from small Business Owners: A Conceptualization. Academic of Management Review. April 1984.
  • Clayton, Oliver. (1981). Planning a Career as a Business Owner. Business Education Forum 36.
  • Cole, Arthur (1959. Business Enterprise in its Social Setting. Cambridge: Harvard University Press.
  • Danuhadimejo, Jatmiko (1981). Suatu Tinjauan terhadap Peranan Pendidikan dan Pengembangan Kewirausahaan dalam menunjang Pembangunan di Indonesia. Bandung: IKIP Bandung.
  • Hornaday, A. John (1982). Research About Living Entrepreneur. New Jersey: Prentice Hall, Inc.
  • Howard, Archer (1990). “The Role of the Entrepreneur in the Emergence and Development of UK Multinational Enterprises”: Journal of European Economic History (on line) Available: URL
  • Kartajaya, Hermawan, dkk. (1996) 36 Kasus Pemasaran Asli Indonesia. Jakarta: Elex Media Komputendo.
  • Kent, Calvin A.et al. (1982). Encyclopedia of Entrepreneurship. Englewood Cliffs: Prentice Hall, Inc.
  • Kirzner, Israel M. (1979). Perception, Opportunity, and Profit: Studies in the Theory of Entrepreneurship. Chicago: University of Chicago Press.
  • Koontz, Harold dan O’Donell, Cyrill (1972). Principle of Management, Analysis of Managerial Functions. Kokusha, Tokyo: McGraw Hill Ltd.
  • Kuratko, Donald F. dan Hodgetts, Richard M. (1989). Entrepreneurships: A Contemporary approach. Chicago: The Dryden Press.
  • Matherly, Timothy A. dan Goldsmith, Ronald E. (1985) :The Two Faces of Creativity.” Business Horizons. September – Oktober.
  • Meredith, Geoffrey G. et. al. (1996) Kewirausahaan: Teori dan PraktIk. Seri Manajemen No. 17. Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo.
  • Napitupulu, WP. (1976)” Pendidikan Kewiraswastaan di Indonesia.” Kertas Kerja pada Lokakarya Sistem Pendidikan dan Pengembangan Kewiraswataan di Indonesia. Jakarta, 21 – 23 Juli 1976
  • Porter, Michael E. (1988) Competitive Advantage: Creating and Sustaining Superior Performance. New York: The Free Press.
  • Pusat latihan Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil (1995). Kewirausahaan Indonesia dengan Semangat 17 – 8 – 45. Jakarta: Kloang Klede Jaya.
  • Sagir, Soeharsono (1975). Entrepreneurship Transmigrasi. Bandung: BPFE, Universitas Pajajaran Bandung.
  • Schumpeter, Joseph (1951) “Change and the Entrepreneur” in Essays of J.A. Schumpeter. Ed. Richard V. Clemence (Reading). Mass: Addison Wesly.
  • Shapero, Albert (1975) Entrepreneurship and Economic Development. Milwaukee: Project ISEED, Ltd.
  • Soemanto, Wasty (1984). Alternatif Pendidikan Wiraswasta Menuju Tinggal Landas Pembangunan. Surabaya: Usaha Nasional.
  • Soemarwoto, Otto (1991) Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta: Penerbit Djambatan.
  • Sumahamidjaya, Suparman (1976) Prakata Ketua Panitia. Prakata pada Lokakarya Sistem Pendidikan dan Pengembangan Kewiraswastaan di Indonesia. Jakarta, 21 – 23 Juli 1976
  • Sumarno. (1984). Kontribusi Sikap Mental Wiraswasta untuk Berprestasi. Jakarta: Era Swasta
  • Usman, W. (1995) Pengaruh Globalisasi Terhadap Ekonomi (Kertas Kerja). Jakarta.

MODUL 2: Pendidikan, Kebutuhan Berprestasi, dan Kreativitas Bagi WirausahawanKegiatan Belajar 1: Pendidikan, Kebutuhan Berprestasi, dan Kreativitas
Rangkuman
  1. Kebutuhan berprestasi dan kreativitas merupakan dua aspek yang tidak dapat dipisahkan keduanya perlu dimiliki oleh seorang wirausaha. Jika seorang wirausaha telah meyakini bahwa dirinya mampu mengorganisasikan berbagai kekuatan dan kelemahan yang ada pada dirinya untuk berprestasi maka logikanya ia akan semakin yakin bahwa dirinya akan bisa mengembangkan kreativitasnya.
  2. Kebutuhan berprestasi merupakan dorongan (keadaan) dari dalam yang memacu seseorang bekerja keras untuk mencapai prestasi tertentu. Sedangkan kreativitas adalah kemampuan untuk melahirkan sesuatu yang baru atau sesuatu yang relatif baru baik berupa gagasan atau karya nyata.
  3. Wirausaha yang kreatif dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu pemikir aktivis dan pemikir kreatif. Sedangkan faktor yang menyebabkan kreativitas pada seorang wirausaha adalah kepekaan masalah, aliran gagasan keaslian dan fleksibilitas.
  4. Pengembangan motivasi berprestasi dipengaruhi oleh 2 faktor utama, yaitu kemauan berprestasi dan kemampuan berprestasi.
    Sedangkan pengembangan kreativitas dapat dilakukan dengan cara pemilihan waktu yang tepat, mempelajari bagaimana bersantai secara mental, bersikap waspada dan menciptakan kebiasaan kerja produktif.
Kegiatan Belajar 2: Jalan menuju Wirausaha Sukses 
Rangkuman
  1. Banyak faktor yang mempengaruhi seorang wirausaha dalam mencapai jenjang kesuksesan. Faktor-faktor tersebut, antara lain kemampuan seorang wirausaha dalam menggunakan sumber daya, kejelian dalam melihat peluang pasar, kemampuan dalam memasuki produk, kemampuan dalam memanfaatkan sumber daya luar, dan kemampuan dalam menjalin kemitraan.
  2. Kemampuan seorang wirausaha dalam mengelola sumber daya, seperti tenaga kerja, finansial, dan teknologi merupakan tuntutan praktis yang harus dikuasai oleh seorang wirausaha. Ketiga faktor tersebut merupakan faktor yang berpengaruh secara langsung terhadap pengelolaan operasional organisasi sehari-hari.
  3. Semakin meningkat kebutuhan masyarakat merupakan peluang pasar. Keadaan masyarakat yang heterogen, kebutuhan manusia yang berbeda-beda, dan adanya perbedaan kemampuan serta sumber-sumber ekonomi yang dimiliki oleh suatu masyarakat merupakan faktor-faktor yang menciptakan peluang bisnis.
  4. Kemampuan seorang wirausaha dalam memasarkan produk akan tercermin dari langkah-langkah pemasaran yang ditempuhnya. Agar seorang wirausaha berhasil dalam memasarkan produknya, terdapat tiga langkah yang harus ditempuh, yaitu mengidentifikasi dan mengevaluasi kesempatan, menganalisis segmen pasar dan menentukan target market, serta merencanakan strategi bauran pemasaran untuk target market-nya. Menggunakan sumber daya luar dan kemitraan merupakan cara yang baik untuk membantu seorang wirausaha dalam mengembangkan kemampuan usahanya, mencari informasi dari berbagai sumber, serta mencari solusi dari masalah usaha yang dihadapi.
  5. Menggunakan sumber daya luar dan kemitraan merupakan cara yang baik untuk membantu seorang wirausaha dalam mengembangkan kemampuan usahanya mencari informasi dari berbagai sumber, serta mencari solusi dari masalah usaha yang dihadapi.
Daftar Pustaka
  • Alma, Buchari (1992). Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa. Bandung: Alfabeta.
  • ______. (1999). Kewirausahaan. Panduan Perkuliahan. Bandung: Alfabeta.
  • Daft, Richard L. (1998). Organization Theory Design. 6th Ed. Cincinnati: South Western College Publishing.
  • Darojat, Ojat. (1999). Individual Differences That Make Individual Unique. Essay. Bendigo: Latrobe University.
  • Deny, Richard. (1994) Sukses Memotivasi Jurus Sukses Meningkatkan Prestasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  • Drucker, Peter P. (1985). Innovation and Entrepreneurship Practice and Principles. New York: Harper & Row Publishers.
  • Harefa, Andreas. (2000). Berwirausaha dari Nol: 10 Kiat Sukses dengan Modal Seadanya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  • Kartajaya, Hermawan, dkk. (1996). 36 Kasus Pemasaran Asli Indonesia: Bermain dengan Persepsi. Jakarta: Elex Media Komputindo.
  • Kuratko, Donald F. dan Hodgetts, Richard M. (1989). Entrepreneurship 4 Contemporary Approach. Chicago: The Dryden Press.
  • Mason, Joseph G. (1985) How to Develop Ideas. Nation Business. The U.S. Chamber of Commerce.
  • Meredith, Geoffrey G. et.al. (1996) Kewirausahaan Teori dan Praktik. Seri Manajemen No. 17. Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo.
  • Hisrich, Robert D. dan Peters. Michael P. (1998). Entrepreneurship. 4th Ed. Boston: Irwin McGraw-Hill.
  • Pusat Latihan Koperasi dan Pengusaha Kecil. (1995). Kewirausahaan Indonesia dengan Semangat 17 – 8 – 1945. Jakarta: Kloang Klede Jaya
  • Raudsepp, Fugene. (1970). How Creative Are You? Personnel Journal.
  • Siddigi, M. Nejatullah. (1496). Partnership and Profit Sharing in Islamic Law (Kemitraan Usaha dan Bagi Hasil dalam Hukum Islam) Diterjemahkan oleh Fakriayah Mumtihani. Yogyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa.
  • Sinetar, Marsha. (1985). “Entrepreneurs, Chaos, and Creativity, Can Creative People Really Survive Large Company Structure”. Sloan Management Review.
  • Supriadi, Dedi. (1994). Kreativitas dan Kebudayaan IPTEK. Bandung: Alfabeta.
  • Timpe, A. Dale. (1992). Creativity. New York: Kend Publishing.
  • Vicere, Albert A. (1985). “Managing Internal Entrepreneur”. Management Review.
  • Wanna, John et al. (1996). Entrepreneurial, Management in The Public Sector. Brisbane: Center for Australian Public Sector Management.
  • Widjava. A.W. (1986). Peranan Motivasi dalam Kepemimpinan. Jakarta: Akademika Presindo
  • Zikmund, William dan D. Amico Michael. (1989). Marketing. 3rd Ed. Brisbane: John Wiley & Sons Inc.

MODUL 3: Identifikasi Peluang Bisnis dalam Kewirausahaan Kegiatan Belajar 1: Identifikasi Peluang dalam Kewirausahaan
Rangkuman

Ide-ide dari wirausahawan menciptakan nilai-nilai potensial sekaligus peluang. Dalam mengevaluasi ide untuk menciptakan nilai-nilai potensial (peluang usaha), wirausahawan perlu mengidentifikasi dan mengevaluasi semua risiko yang mungkin terjadi. Keberhasilan, wirausahawan bukan semata-mata karena atas ide sendiri, tetapi dapat juga berasal dari pengamatan dan penerapan ide-ide orang lain.Proses penjaringan agar ide potensial menjadi produk dan jasa real melalui langkah-langkah sebagai berikut, yaitu menciptakan produk baru dan berbeda, mengamati pintu peluang, analisis produk dan proses produksi secara mendalam, menaksir biaya awal, dan memperhitungkan risiko yang mungkin terjadi.
Kegiatan mengidentifikasi pesaing merupakan upaya awal dari wirausahawan untuk dapat masuk ke pasar. Mengenal pesaing adalah hal yang sangat penting bagi wirausahawan. Wirausahawan harus membandingkan secara cermat tentang produk, harga, saluran, dan promosi yang dimiliki pesaing.
Tingkat persaingan berdasarkan tingkat substitusi produk terdiri atas persaingan merek, persaingan industri, persaingan bentuk dan persaingan generik.
Strategi Industri adalah strategi yang dilakukan oleh perusahaan pada pasar bersaing sempurna yang terdiri atas pintu masuk dan penghalang mobilitas, pintu ke luar dan penghalang penciutan, struktur biaya, tingkat integrasi vertikal, dan tingkat globalisasi.
Wirausahawan harus dapat menilai kekuatan dan kelemahan pesaing dan mengestimasi pola persaingan.
Beberapa alat analisis yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi peluang usaha adalah analisis SWOT, Matriks Profil Kompetitif, dan Matriks BCG.
Kegiatan Belajar 2: Merintis Usaha Baru dan Model Pengembangannya 
Rangkuman

Ada 3 cara yang dapat dilakukan oleh wirausahawan untuk memulai suatu usaha atau memasuki dunia usaha, yaitu merintis usaha baru (starting), membeli perusahaan orang lain (buying), dan kerja sama manajemen (franchising).
Dalam merintis usaha baru, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, seperti (1) bidang dan jenis usaha yang dimasuki, (2) penentuan bentuk kepemilikan usaha, seperti perusahaan perorangan, Firma, Persekutuan, dan Perseroan, (3) tempat usaha yang akan dipilih, (4) organisasi usaha yang akan digunakan, seperti struktur organisasi usaha sederhana, struktur organisasi pertumbuhan usaha terbatas, struktur organisasi usaha sistem Departemen, dan struktur organisasi garis pada perusahaan besar.
Ada empat hal penting untuk menganalisis perusahaan yang akan dibeli, yaitu alasan pemilik menjual perusahaan, potensi produk dan jasa yang dihasilkan, aspek legal yang dimiliki perusahaan, dan kondisi keuangan perusahaan yang akan dijual.
Franchise adalah suatu persetujuan lisensi menurut hukum antara suatu perusahaan (pabrik) penyelenggara dengan penyalur atau perusahaan lain untuk melaksanakan usaha. Perusahaan yang diberi lisensi disebut franchisor dan penyalur disebut franchisee. Dalam franchising, perusahaan yang diberi hak monopoli menyelenggarakan perusahaan seolah-olah merupakan bagian dari perusahaan pemberi lisensi yang dilengkapi dengan nama produk, merek dagang, dan prosedur penyelenggaraannya secara standar.
Kegiatan pengembangan kewirausahaan pada modul ini difokuskan pada usaha kecil, hal ini dikarenakan kegiatan usaha kecil baik di Indonesia maupun di dunia cukup besar pengaruhnya terhadap perkembangan ekonomi. Usaha kecil relatif lebih efisien dibandingkan dengan usaha besar, seperti pada kasus krisis moneter sekitar tahun 1998. Menurut Undang-undang No. 9/1995 pasal 5 menyatakan bahwa usaha kecil adalah usaha yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp200.000.000,00 atau memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp1.000.000.000,00.
Usaha kecil adalah usaha yang menyerap 5 – 19 orang yang terdiri dari pekerja kasar yang dibayar, pekerja pemilik, dan pekerja keluarga.
Berdasarkan pengelompokan industri, terdiri atas industri kecil menyerap tenaga kerja 10 – 49 orang, industri sedang 50 – 99 orang, dan industri besar 100 orang lebih.
Daftar Pustaka
  • Kotler, Philip. (1997). Manajemen Pemasaran (Marketing Management 9e). Jakarta: Prenhallindo.
  • Longenecker, J. G., at al. (2001). Kewirausahaan (Manajemen Usaha Kecil). Jakarta: Salemba Empat.
  • Meredith, Geoffrey G. 1996. Kewirausahaan (Teori dan Praktik) Seri Manajemen No. 97. Jakarta: Pustaka Binaman Presindo.
  • Rangkuti, Freddy. (1998). Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  • Suryana. (2001). Kewirausahaan. Jakarta: Salemba Empat.

MODUL 4: Manajemen Bisnis dalam Kewirausahaan Kegiatan Belajar 1: Manajemen Produksi dan Keuangan
Rangkuman

Dalam manajemen produksi terdapat perencanaan yang terdiri atas penempatan produk dan skala produksi, pemilihan proses produksi, serta penentuan lokasi. Pengorganisasian produksi, dan pengendalian produksi yang terdiri atas pengendalian bahan baku, tenaga kerja, persediaan produk, dan mutu produk, serta pengendalian proses produksi, sedangkan dalam manajemen keuangan terdiri atas perencanaan keuangan, analisis yang terdiri atas analisis rasio, analisis persentase per komponen, dan analisis perbandingan. Pengendalian keuangan terdiri atas pengendalian arus kas, sumber dan penggunaan dana, kas, piutang, serta persediaan.Kegiatan Belajar 2: Manajemen Pemasaran dan Sumber Daya Manusia 
Rangkuman

Manajemen pemasaran terdiri atas perencanaan yang terdiri atas penentuan visi dan misi perusahaan, penentuan strategi dan taktik pemasaran. Pemasaran strategis terdiri atas segmentasi pasar, penetapan pasar sasaran, dan penempatan produk sedangkan untuk taktik pemasaran terdiri atas taktik produk, taktik harga, taktik tempat dan distribusi, serta taktik promosi.
Dalam manajemen sumber daya manusia yang perlu diperhatikan adalah perencanaan, penempatan/staffing, pengembangan dan pemeliharaan sumber daya manusia.
Daftar Pustaka
  • Downey, W. David dan Erickson, Steven P. (1992). Manajemen Agribisnis. Jakarta: Erlangga.
  • Handoko, T. Hani. (1995). Dasar-dasar Manajemen Produksi dan Operasi. Yogyakarta: BPFE.
  • Husnan, Suad dan Pudjiastuti, Enny. (1998). Dasar-dasar Manajemen Keuangan. Yogyakarta: UPP AM YKPN.
  • Kotler, Philip. (1997). Manajemen Pemasaran. Jakarta: Prenhallindo.
  • Nuraeni, Ida dkk. (2002). Manajemen Agribisnis. Bogor: STPP.
  • Munawir, S. (1981). Analisis Laporan Keuangan. Yogyakarta: Liberty.
  • Musyadar, Achmad. (2002). Dasar-dasar Akuntansi. Bogor: STPP.
  • Sunyoto, Agus. (1995). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: STIE IPWI.
  • Tjiptono, Fandi dan Diana, Anastasia. (1996). Total Quality Management. Yogyakarta: Penerbit Andi Offset.
  • _________ . Kewirausahaan. Jakarta: Salemba Empat.

MODUL 5: Kebersamaan dan Etika Bisnis Kegiatan Belajar 1: Komunikasi Bisnis dan Negosiasi
Rangkuman

Setiap orang pasti mempunyai kebutuhan yang ingin dipenuhi. Akan tetapi, alat-alat pemenuhan kebutuhan tidak selamanya ada pada diri seseorang yang mempunyai kebutuhan tersebut. Untuk itu, perlu dicarikan jalan bagaimana seseorang dapat memperoleh alat-alat pemuas kebutuhan tersebut yang dikuasai oleh pihak lain. Salah satu cara adalah dengan jalan melakukan perundingan untuk dapat memperoleh alat-alat pemuas kebutuhan. Mengingat jenis kebutuhan seseorang dapat beraneka ragam maka segala sesuatu yang merupakan kebutuhan dapat menjadi objek perundingan atau negosiasi.Perundingan merupakan suatu kegiatan yang memanfaatkan informasi dan kekuatan yang dimiliki guna mempengaruhi sikap dan perilaku pihak (orang) lain, dalam suatu situasi tertentu. Perundingan merupakan satu cara yang terbaik untuk memperoleh alat-alat pemuas kebutuhan yang dikuasai oleh pihak lain. Perundingan harus komunikatif, kreatif, inovatif bahkan harus waspada dan aktif guna menembus berbagai kesulitan dan hambatan dalam perundingan agar tujuan dapat tercapai. Secara praktis perundangan dua pihak itu adalah untuk mencapai sasaran berupa tercapainya persetujuan tertentu.
Setiap perundingan memerlukan persiapan yang matang dari setiap perundingan. Persiapan meliputi pengenalan akan permasalahan, asumsi-asumsi, strategi dalam perundingan, pengenalan dan penguasaan akan informasi, pengenalan akan kekuatan dan kelemahan diri sendiri, serta perhitungan faktor waktu sehingga dengan tepat dapat menerapkan strategi perundingan guna mencapai tujuan.
Garis besar proses perundingan meliputi (1) persiapan sebelum maju ke meja perundingan, (2) bersoal-jawab sebagai awal dalam perundingan yang lebih merupakan penjajagan, (3) memajukan usulan, dan (4) tawar-menawar tanpa melupakan sasaran dan persyaratan/prasyarat. Setiap permasalahan yang dirundingkan hendaknya dikaitkan satu dengan lain agar sasaran dalam perundingan dapat dicapai.
Kegiatan Belajar 2: Kewirausahaan yang Berasaskan Kebersamaan dan Etika Bisnis yang Sehat 
Rangkuman

Seorang wirausaha akan dapat bertahan dan dapat mengembangkan kegiatan usahanya harus dapat mengikuti perkembangan lingkungan, selera para langganan atau konsumen terhadap hasil produksinya. Suatu usaha yang berkembang dapat dilihat dari adanya peningkatan omset penjualan, yang berarti peningkatan volume usaha, pertambahan karyawan, peningkatan laba usaha dan makin meningkatnya kekayaan perusahaan. Untuk meningkatkan operasional perusahaan, diperlukan. Pertama adalah kebersamaan intern perusahaan, untuk mewujudkan komitmen tersebut mutlak diperlukan kebersamaan antara sesama karyawan atau antara pimpinan dengan karyawan sehingga kontribusi tenaga para pegawai dapat maksimal. Kedua adalah kebersamaan perusahaan dengan pihak luar juga harus diperhatikan, yaitu hubungan dengan pasar dalam hal ini konsumen, tetapi tidak kalah pentingnya dengan pihak-pihak yang mendukung operasional perusahaan seperti lembaga keuangan, supplier, dan pemerintah.
Suatu wirausaha akan dikatakan berhasil apabila berkelanjutan perusahaan dalam berusaha, dapat menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat, meningkatkan kesejahteraan karyawan, meningkatkan kualitas hidup konsumennya serta dapat memperbaiki kualitas lingkungan dari lokasi usahanya
Seorang wirausaha harus memiliki kemampuan mengembangkan usaha melalui kiat-kiat dalam mengidentifikasikan peluang, mampu mengorganisasikan dan menggerakkan berbagai sumber daya dalam memanfaatkan peluang yang ada serta mendayagunakan potensi sumber daya manusia yang ada. Kemauan yang kuat untuk berkarya dengan semangat mandiri tercermin pada kemampuan dalam mengambil keputusan secara cepat dan tepat
Seorang wirausaha harus berani mengambil risiko atas keputusan yang telah ditetapkan, dapat memprediksi keberhasilan usaha dan dapat menekan risiko sekecil mungkin. Selalu kreatif dalam menemukan target-target baru, tekun dalam berusaha tidak mudah menyerah, teliti dalam bertindak, artinya tidak gegabah dalam bersikap serta selalu berpikir produktif untuk selalu menghasilkan yang bermanfaat bagi perusahaannya maupun bagi masyarakat.
Seorang wirausaha harus mampu menjalankan etika bisnis yang sehat dengan cara; selalu menjaga produk dan jasa pada pelanggan, bersikap kebersamaan dengan lingkungan, menjalankan norma bisnis sesuai dengan kebiasaan usaha yang berlaku, serta dalam persaingan menghindar dari cara-cara yang tidak sehat.
Daftar Pustaka
  • N.G. Butelin. (1950). Entrepreneurial Biography; A. Symposium. Explorations in Entrepreneurial History, 1 May 1950, 223-236.
  • B.F Hoselita. (1952). Entrepreneurship and Economic Growth. American Journal of Economics and Sociology, 12 October 1952, 97-110.
  • F. Harbison. (August 1956). Entrepreneurial Organization as A Factors in Economic Development. Quality Journal of Economic, 70.
  • Huisrich, Robert D. (1986). Entrepreneurship and Entrepreneurship Methods for Creating New Companies That Have an Impact on Economic Renaissance of an Area. In Entrepreneurship, Entrepreneurship an Venture Capital. Ed. Robert D. Huisrich. Leington: Mass-Lexington Books.
  • Buchori Alma. (1999). Kewirausahaan. Bandung: Alfabeta.
  • Salim Siagian. (1995). Pengembangan Kewirausahaan di kalangan Pengusaha Kecil dan Koperasi di Indonesia. Bahan pelengkap rapat koordinasi “Program Pemasyarakatan dan Pembudayaan Kewirausahaan”. Dilaksanakan di Pusat Latihan Koperasi dan Pengusaha Kecil 3 April 1995.

MODUL 6: Pengembangan Kewirausahaan Kegiatan Belajar 1: Pengembangan Kewirausahaan di Kalangan Pengusaha Kecil dan Koperasi di Indonesia
Rangkuman

Wirausaha adalah orang-orang yang mempunyai sifat-sifat kewirausahaan, keberanian mengambil risiko, keutamaan, kreativitas, dan keteladanan dalam menangani usaha atau perusahaan dengan berpijak pada kemauan dan kemampuan sendiri. Pengertian kewirausahaan identik dengan entrepreneurship karena dalam entrepreneurship mencakup terutama sikap (1) pengambilan inisiatif atau prakarsa, (2) pengorganisasian atau upaya menggerakkan mekanisme sosial dan ekonomi untuk mengubah sumber daya atau keadaan menjadi lebih baik, (3) keberanian menerima risiko. Para ekonom mengartikan entrepreneurship sebagai seseorang yang mampu mengombinasikan dengan tepat berbagai sumber daya untuk menghasilkan nilai yang lebih besar dibanding sebelumnya dan sekaligus membawa perubahan, inovatif, dan cara-cara baru. Sedangkan menurut para psikolog entrepreneurship adalah orang yang mempunyai daya dorong tertentu yang diperlukan untuk memperoleh sesuatu untuk bereksperimen, melakukan sesuatu atau malahan untuk menghindari sesuatu. Bagi seorang pengusaha biasa entrepreneur dianggap sebagai ancaman dan oleh para pemilik modal entrepreneurship adalah sangat didambakan karena kemampuannya untuk menghasilkan kekayaan bagi dirinya dan bagi orang lain.Perkoperasian di Indonesia pengembangannya diselenggarakan melalui peningkatan kemampuan organisasi, manajemen kewirausahaan dan permodalan dengan didukung oleh peningkatan jiwa dan semangat berkoperasi. Di sini kewirausahaan memegang peranan dalam pengembangan perkoperasian karena jiwa wiraswasta yang dimiliki oleh para pengurus, anggota dan para kader koperasi akan menjadikan koperasi berkembang dan maju. Jiwa kewirausahaan di kalangan generasi muda, koperasi, dan golongan ekonomi lemah perlu terus dipupuk dan dikembangkan melalui peningkatan kemampuan berproduksi, berusaha dan bekerja sama serta kemampuan menciptakan daya saing dalam pemasaran hasil produksinya. Pengembangan ekonomi rakyat diutamakan pada pengembangan kewiraswastaan, penyediaan sarana dan prasarana, fasilitas pendidikan dan pelatihan, bimbingan dan penyuluhan, serta bantuan permodalan
Semangat kewirausahaan perlu dimasyarakatkan dan dibudayakan oleh para pemimpin pada umumnya dan pengusaha pada khususnya, dengan cara menumbuhkan:
  1. kemauan yang kuat untuk berkarya terutama dalam bidang ekonomi dan semangat mandiri;
  2. mampu membuat keputusan yang tepat dan berani mengambil risiko;
  3. tekun, teliti dan produktif;
  4. berkarya dengan semangat kebersamaan dan etika bisnis yang sehat.
Kegiatan Belajar 2: Strategi Mengembangkan Kewirausahaan 
Rangkuman

Kewirausahaan adalah kesatuan terpadu dari semangat nilai-nilai dan prinsip serta sikap, kiat, seni, dan tindakan nyata yang sangat perlu, tepat, dan unggul dalam menangani dan mengembangkan kegiatan usaha. Batasan kewirausahaan melekat pada orang-orang secara pribadi, tetapi sebagian melekat pada kelembagaan. Dengan demikian, pengembangan kewirausahaan tidak hanya menyangkut pribadi perseorangan, tetapi memerlukan wadah, yaitu perusahaan yang ditangani atau dikembangkan.
Beberapa prinsip umum dalam penumbuhan, pengembangan, dan penyebarluasan kewirausahaan, yaitu semangat, sikap, perilaku dan kinerja seseorang atau kelompok orang. Kemauan dan kemampuan kewirausahaan yang dipengaruhi oleh faktor keturunan atau bakat, upaya penumbuhan, dan pengembangan. Setiap daerah selalu muncul orang-orang yang mempunyai bakat wirausaha dengan tingkatan yang berbeda-beda. Pada intinya semangat sikap dan perilaku kewirausahaan tidak semua orang dapat memiliki, tetapi dengan bekerja keras mau mengambil contoh orang lain tentunya jiwa kewirausahaan berangsur-angsur akan tumbuh dan berkembang
Pengembangan kewirausahaan secara tradisional banyak kita jumpai pada masyarakat Minang, warga keturunan, dan pola magang yang dilakukan oleh pedagang keliling dan banyak usaha lazim yang dilakukan secara turun-temurun di mana usaha bisa menjadi besar karena terdapatnya jiwa kewirausahaan dari si pemiliknya
Untuk pembinaan usaha kecil agar dapat menjadi besar perlu ada seleksi, kemudian diberikan pelatihan yang intensif dalam jangka panjang selanjutnya mereka diberikan kesempatan magang dalam bidang tertentu agar menjadi ahli pada bidangnya selanjutnya dapat memulai usahanya dengan mandiri.
Strategi pengembangan kewirausahaan pada dasarnya berpijak pada keyakinan bahwa kinerja seseorang atau kelompok orang merupakan hasil akhir dari 3 unsur yang selalu berintegrasi, yaitu kemauan, kemampuan, dan kesempatan.
Pendidikan kewirausahaan sangat perlu dan diajarkan sejak usia dini sehingga kurikulum pendidikan di SD, SLTP, dan SMU materi kewirausahaan harus dimasukkan sebagai pokok bahasan sehingga jiwa kewirausahaan akan dimiliki seluruh anggota masyarakat.
Daftar Pustaka
  • B.F Hoselita. (12 Oktober 1952). Entrepreneurship and Economic Growth. American Journal of Economics and Sociology. p. 97-110
  • F. Harbison. (August 1956). Entrepreneurial Organization as A Factors in Economic Development. Quality Journal of Economic p. 70.
  • Huisrich, Robert D. (1986). Entrepreneurship and Intrapreneurship Methods for Creating New Companies That have an Impact on Economic Renaissance of an Area ” in “Entrepreneurship, Intrapreneurship an Venture Capital. Ed. Robert D. Huisrich. Leington: Mass-Lexington Books.
  • N.G. Butelin. (1 May 1950). Entrepreneurial Biography, A Symposium. Explorations in Entrepreneurial History. p. 223-236.
  • Salim Siagian. (3 April 1995). Pengembangan Kewirausahaan di Kalangan Pengusaha Kecil dan Koperasi di Indonesia. Bahan Pelengkap Rapat Koordinasi “Program Pemasyarakatan dan Pembudayaan Kewirausahaan”. Dilaksanakan di Pusat Latihan Koperasi dan Pengusaha Kecil.
  • S. Hardjoseputro. (1987). Berjaya karena Wiraswasta. Jakarta: Galaxy Puspa Mega.
sumber: pustaka
Share this article :

0 Komentar:

Post a Comment

Silahkan berkomentar disini walaupun hanya "Hay". Kami akan menghargai komentar anda. Anda berkomentar saya akan berkunjung balik

 
Support : Aris Decoration | Galaxy Young
Copyright © 2014. All in here - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger