Home » » ANEKA MASALAH GANGGUAN PENCERNAAN PADA ANAK

ANEKA MASALAH GANGGUAN PENCERNAAN PADA ANAK

Written By Haris Ahmad on Wednesday, June 9, 2010 | 2:03 PM

Yang paling umum terjadi pada balita adalah diare dengan aneka penyebab.
Pada bayi, terutama karena saluran cernanya belum matang, sedangkan pada
balita kebanyakan karena salah makan. Berikut beberapa masalah gangguan
pencernaan seperti dijelaskan Dr. Eva J. Soelaeman, Sp.A dari RSAB Harapan
Kita, Jakarta.

GUMOH

Normal terjadi pada bayi karena berkaitan dengan fungsi pencernaannya yang
masih belum sempurna. Juga karena kapasitas lambungnya masih terbatas dan
otot polos saluran cernanya masih lemah. Tak heran kala ia tengah
bersemangat minum, lambung tak dapat menampung aliran susu yang masuk, yang
bisa menyebabkan gumoh. Gumoh bisa juga keluar dari hidung. Tapi tak perlu
cemas, seperti diketahui, mulut, hidung, dan tenggorokan memiliki saluran
yang berhubungan. Jadi, mungkin karena gumohnya banyak dan tak semuanya bisa
keluar dari mulut, maka cairan itu mencari jalan keluar lewat hidung.

Cara Mengatasi:

Sendawakan bayi setiap habis menyusu. Hindari juga posisi telentang setelah
bayi disusui karena cairan yang masuk ke tubuh bayi akan mencari posisi yang
paling rendah. Nah, bila ada susu dalam lambung, akan ada refleks yang bisa
menyebabkan bayi muntah.

Yang perlu dikhawatirkan bila bayi tersedak dan muntahnya masuk ke saluran
pernapasan alias paru-paru. Tentu saja ini berbahaya. Terlebih bila si bayi
tersedak susu yang sudah masuk ke lambung karena sudah mengandung asam dan
akan merusak paru-paru. Jika ini yang terjadi, tak ada pilihan lain kecuali
membawanya ke dokter.

MUNTAH

Muntah karena refluks juga sering terjadi pada anak di bawah satu tahun.
Yang normal, frekuensinya hanya 1-2 kali sehari. Penyebabnya lagi-lagi
karena saluran pencernaan yang masih belum sempurna. Tepatnya, pada daerah
antara tenggorokan dengan lambung terdapat suatu "klep" yang menyerupai
pentil ban. Di sini udara bisa masuk tapi tak bisa keluar lagi. Nah,
seharusnya makanan yang sudah masuk ke lambung juga tidak boleh kembali lagi
ke atas/tenggorokan.

Namun karena "klep" bayi belum sempurna, kondisinya masih longgar. Alhasil,
makanan yang sudah masuk lambung dan sudah tercampur asam lambung, sering
kembali lagi ke tenggorokan. Karena terlalu sering maka akan melukai
tenggorokan bayi. Biasanya keadaan ini akan membaik setelah masa bayi lewat.
Namun pada sebagian anak ada yang tetap mengalami gangguan refluks hingga
besar.

Cara mengatasi:

Ubah cara makan anak. Ketimbang sekali makan dengan porsi banyak, lebih baik
makan dikentalkan dengan posisi setengah duduk. Bila anak muntah, hentikan
makan. Tunggu beberapa saat sampai ia bisa menerima makanan kembali. Namun
bila bayi terlalu sering muntah, gelisah, dan sulit tidur, sebaiknya segera
bawa ke dokter.

Begitu juga pada anak balita yang setiap habis makan selalu merasa mual-mual
atau muntah. Dokter biasanya akan memberi obat tambahan untuk memperkuat
"klepnya" tadi.

DIARE

Selain infeksi virus, salah satu penyebab diare pada bayi adalah penggunaan
susu formula. Bila dilihat dari segi pencernaan, ASI merupakan makanan
terbaik bagi bayi karena ASI mengandung zat lengkap termasuk enzim laktase
yang berguna untuk mencernakan laktosa. Perlu diketahui, jika tubuh
kekurangan enzim laktase akan memunculkan gejala-gejala kembung atau mencret
setelah minum susu. Nah, komposisi susu formula walau telah diolah secanggih
mungkin, tetap tidak akan bisa menyamai ASI.

Sedangkan penyebab diare pada balita lebih beragam. Bisa karena infeksi
bakteri, virus, dan amuba. Bisa jadi juga akibat salah mengonsumsi makanan.
Protein susu sapi merupakan bahan makanan terbanyak penyebab diare. Makanan
lain penyebab timbulnya alergi ialah ikan, telur, dan bahan pewarna atau
pengawet.

Cara Mengatasi:

Ketika diare, jaga jangan sampai terjadi dehidrasi. Usahakan si kecil tetap
minum (ASI, susu formula, atau cairan lain). Pada anak yang sudah lebih
besar, berikan larutan oralit. Biasanya balita perlu sekitar 3 bungkus
oralit yang masing-masing dicampur ke dalam 200 cc air. Jangan berikan
sekaligus, tapi sedikit demi sedikit sampai habis. Hindari memberi makanan
yang merangsang timbulnya sakit perut. Untuk sementara, beri makanan lembek
agar mudah dicerna.

MAG

Biasanya dokter lebih memilih istilah dispepsia untuk gejala-gejala seperti
perut kembung dan agak perih yang terjadi pada anak-anak. Namun orang awam
sering mengasosiasikan gejala tersebut sebagai mag. Padahal, mag pada
anak-anak tidak sama dengan yang terjadi pada orang dewasa. Perbedaannya,
mag pada orang dewasa biasanya bisa sampai mengakibatkan luka lambung.
Sedangkan pada anak jarang terjadi, paling hanya iritasi lambung.

Penyebab iritasi umumnya karena anak mengonsumsi makanan yang sebenarnya
belum dapat diterima lambung, semisal makanan pedas. Tidak semua anak tahan
dengan makanan pedas. Bahkan selain bikin perut perih, makanan pedas bisa
berakibat lebih parah, yakni muntah-muntah dan BAB berdarah.

Cara Mengatasi:

Sebaiknya bila ada gejala-gejala dispepsia, anak harus diperiksa dan diobati
lebih lanjut. Untuk sementara, hindari makanan yang asam berminyak, pedas,
dan juga minuman seperti soft drink. Jika perutnya sakit, berikan makanan
lunak.
Share this article :

0 Komentar:

Post a Comment

Silahkan berkomentar disini walaupun hanya "Hay". Kami akan menghargai komentar anda. Anda berkomentar saya akan berkunjung balik

 
Support : Aris Decoration | Galaxy Young
Copyright © 2014. All in here - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger