Home » » Handout Observasi

Handout Observasi

Written By Haris Ahmad on Saturday, November 6, 2010 | 2:17 PM

OBSERVASI
Handout MK Observasi – Alwisol
Prodi Psikologi UM

1. PENGANTAR
Secara fisiologis, observasi adalah fungsi tubuh untuk berinteraksi dengan lingkungan. Panca indera (mata, telinga, hidung, lidah dan kulit) menangkap fenomena stimulasi yang ada di lingkungan, mengubah stimulus itu menjadi impuls-impuls informasi untuk dikirim ke cortex sebagai pusat sistem syaraf. Informasi itu oleh cortex kemudian dianalisis, diolah, dimaknai, menjadi persepsi atau pemahaman mengenai suatu stimulus.
Berdasarkan pemahaman itulah organisme bereaksi atau merespon stimulsasi yang diterimanya. Singkat kata, observasi melibatkan alur stimulus – penginderaan – aktivitas analisis cortex – persepsi – respon, yang merupakan dasar dari aktivitas kehidupan.  Bahkan observasi adalah kehidupan itu sendiri. Tanpa kemampuan melakukan observasi manusia (dan binatang) tidak dapat berinteraksi dengan lingkungan, tidak dapat memahami dan merespon apa yang ada disekitarnya, kondisi yang akan membuat mustahil bertahan hidup.

Sultan terduduk memandang tanpa berkedip buah pisang yang tergantung ditengah kandangnya. Sudah beberapa kali dia berusaha meloncat menggapainya, tetapi pisang itu letaknya terlalu tinggi. Tangannya memegang dua buah tongkat yang ujungnya berlobang. Dia sudah mencoba menyengget pisang dengan sebatang tongkat, tetapi tongkat itu masih kurang panjang. Akhirnya tanpa sengaja dia memasukkan ujung tongkat yang satu ke lobang ujung yang lain, sehingga tongkat itu menjadi tersambung. Ditimangnya tongkat yang menjadi panjang sambil tetap menatap pisang yang tertgantung tinggi. Tiba-tiba dia bangun mengangkat kedua tangannya sambil berteriak keras, seperti mengatakan: “AKU TAHU!”  Memakai tongkat yang pajang, dengan mudah dia dapat meraih pisang itu (Kohler,1941).

Sesuatu itu dapat difahami kalau dapat dilakukan observasi terhadapnya. Budaya berkembang melalui observasi. Tidak ada ilmu kalau tidak ada observasi. Proses pengembangan ilmu memakai observasi itu sama dengan observasi dalam kehidupan sehari-hari, yaitu mengamati fakta-fakta, merekam dan mengolah fakta itu menjadi data yang siap untuk dianalisis, menganalisis data, mengambil kesimpulan, dan akhirnya siap bertindak menanggapi fenomenai atau entitas kehidupan. Sebuah kesimpulan dapat menjadi titik awal dari konsep dan konstruk ilmu pengetahuan. Kesimpulan itu diuji kebenarannya, dikembangkan, dan disempurnakan melalui observasi-observasi lanjutan. Kesimpulan yang salah ditinggalkan, diganti dengan kesimpulan baru. Bukankan Galileo Galilei dengan pengamatan bintangnya (astronomi) telah mengubah kesimpulan dari bumi menjadi matahari sebagai  sebagai pusat pusaran alam semesta? Bukankah James Watt dengan pengamatan ketel uapnya telah mengubah paradigma perindustrian dengan mesin uapnya?

Observasi sebagai metoda ilmiah mula-mula dikembangkan di ranah antropologi-etnografi. Peneliti mendatangi suatu tempat, mengamati perilaku, adat-istiadat, bahasa dan budaya masyarakatnya. Ketika pengamatan tidak segera memperoleh informasi yang dibutuhkan, peneliti kemudian “menanyakan” apa yang ingin diketahuinya kepada responden tententu yang disangkanya mengetahui informasi itu. Metoda Observasi menjadi Metoda Wawancara. Ketika jumlah pertanyaannya cukup banyak, dan respondennya juga juga harus banyak orang (tidak cukup satu atau dua orang kunci), daftar pertanyaan itu kemudian ditulis, dan jawabannya juga dalam bentuk tertulis. Ini adalah perubahan bentuk metoda wawancara menjadi metoda kuesioner. Kalau dalam pengamatan terlibat unsur penilaian, baik ketika pengamatan dilakukan atau dalam analisisnya, metoda observasi menjadi berkolaborasi dengan Metoda Asesmen. Untuk menyingkat waktu, peneliti bisa melakukan intervensi, menciptakan suatu situasi agar muncul tingkahlaku tertentu untuk dapat diamati. Metoda Observasi menjadi Metoda Eksperimen. Agar dapat diperoleh data yang reliabel, suatu peristiwa ditimbulkan berulang-ulang sehingga dapat dilakukan pengamatan yang juga berulang-ulang. Teknik ini meburuhkan rekayasa dan kontrol terhadap situasi.
Ini adalah penyempurnaan Metoda Observasi menjadi Metoda Laboratorik.

Gambaran di atas semata-mata untuk menunjukkan kedudukan observasi dalam metodologi ilmiah, karena tidak ada maksud untuk menjelaskan semua metoda ilmiah dari kerangka berfikir observatif. Ilmu sosial memakai observasi untuk mengamati tingkahlaku, motivasi, perasaan, alur fikiran, model dan gaya interaksi serta komunikasi. Tentu bukan pengamatan yang “biasa” seperti yang dilakukan orang sehar-hari, tetapi pengamatan yang terstruktur, sistematik, terkontrol, agar dapat diperoleh data yang objektif, valid, dan reliabel.


2. DIFINISI METODA OBSERVASI

Metoda observasi adalah kegiatan mengindra suatu objek atau peristiwa, merekam hasil pengindraan secara sistematis, untuk memperoleh data yang objektif, valid dan reliabel.
1. Kegiatan mengindra: observasi bukan hanya kegiatan mengamati memakai mata, tetapi juga pengamatan memakai indera lain (hidung, telinga, lidah, dan kulit). Sebagai suatui metoda yang tujuannya jelas, pengindraan dilakukan dengan sengaja baik dengan mendatangi tempat objek atau terjadinya peristiwa (disebut penelitian in-vivo), maupun dengan mengusung objek ke tempat tertentu atau laboratorium (disebut penelitian ex-vivo). Agar dapat diperoleh hasil yang lebih cermat, observasi dapat memakai alat bantu pengindraan, seperti kaca pembesar/mikroskop, sensor elektrik, rekaman audiovisual, dan semacamnya.   
2. Objek atau peristiwa: Observasi yang sehari-hari sehari-hari, dikenakan kepada semua stimulus yang merangsang indra, dan minat pribadi serta kemenarikan stimulus itu yang akan menentukan apakah atensi akan membuat objek itu menjadi fokus pengamatan. Observasi dalam riset berbeda dengan observasi sehari-hari, dalam hal pembatasan secara ketat objek atau peristiwa yang menjadi fokus pengamatan. Fokus objek yang diamati bisa sempit atau luas. Misalnya pada peneiltian tingkahlaku anak hiperaktif, fokus sempit bisa mengamati berapa kali anak hiperaktif itu memukul temannya dalam periode waktu tertentu (batasa operasionalnya harus dapat membedakan mana yang tingkahlaku mendorong dan mana tingkahlaku memukul),  sedang fokus luas meliput dan tingkahlaku (apa saja) yang dilakukan berturutan, mulai dari duduk – berdiri, berlari, menendang, dst.  .
3. Merekam hasil observasi: sebagai metoda ilmiah, data penelitian harus dalam bentuk rekaman tertulis. Disini berlaku hukum: Semua data harus ada catatannya, dan semua yang tidak ada catatannya berarti tidak ada.
4. Sistematik: Pada dasarnya semua ciri observasi-riset dapat diringkas menjadi satu, yaitu sistematik. Semua proses -- pelaksanaam, analisis dan pengambilan kesimpulan – harus direncanakan dengan cermat, mengikuti sistem yang menjamin tercapainya tujuan yang dikehendaki.
5. Data yang objektif, valid, dan reliabel: Ini adalah syarat keilmuan. Kesimpulan mengenai konsep dan atau konstruk yang ditemukan/diuji kebenarannya dapat diterima secara ilmiah kalau memenuhi syarat objektivitas, validitas dan reliabilitas.

Berbagai disiplin ilmu humaniora memakai metoda observasi, seperti antropologi, sosiologi, psikologi, ekonomi-pemasaran, dan layanan klinik. Metoda  observasi memiliki kelebihan dalam hal memberi peluang peneliti untuk mengumpulkan data yang segar dari situasi 'apa-adanya.'  Peneliti diberi kesempatan untuk melihat apa yang terjadi di tempat kejadian dan memahami objek dalam konteks kejadiannya, bebas dari kontaminasi dan eror subjektivitas. Data yang diperoleh adalah deskripsi objek yang teramati secara objektif, bukan pandangan atau laporan diri yang terkontaminasi subjektivitas pribadi. Data itu valid dan reliabel karena peneliti dapat mengamati secara detil – mendalam – berulang-ulang mengenai  suatu objek sesuai dengan proposisi penelitian.    

Penelitian tentang pola interkomunikasi antara orang tua dengan anaknya, dilakukan memakai tiga metoda.  Metoda observasi menghitung berapa kali (ferkuensi) dan berapa lama (durasi) seorang bapak berbicara dengan anaknya, serta mendengarkan apa saja yang menjadi pokok pembicaraan (topik) di antara mereka berdua. Metoda wawancara menanyakan kepada orang tua dan anak frekuensi, durasi, dan topik itu secara langsung, sedang metoda kuesioner menanyakan semua itu secara tertulis. Data frekuensi-durasi-topik hasil observasi jauh lebih objektif, valid dan reliabel dibanding data hasil wawancara dan kuesioner. Semua orang tua tentu ingin menjadi “orang tua yang baik” dan sikap pribadi semacam itu akan mempengaruhi jawaban dalam wawancara dan kuesioner menjadi lebih normatif.

Pada banyak kasus, peneliti tidak cukup sabar untuk memakai observasi yang ‘murni.’ Alih-alih menunggu sampai munculnya kejadian yang akan diamati, mereka menanyakan mengenai peristiwa itu kepada orang yang diamati. Itu berarti observasi plus wawancara.  Metoda campuran semacam itu, klasifikasinya tergantung dari besarnya peran; kalau observasi lebih banyak berperan dapat dipandang sebagai metoda observasi, tetapi kalau sebaliknya – wawancara yang lebih banyak berperan – lebih dipandang sebagai metoda wawancara.





3. MEMILIH METODA OBSERVASI
Metoda observasi dapat dipandang sebagai induk atau asal-muasal dari metoda ilmiah lainnya, namun itu tidak berarti metoda itu cocok untuk dipakai dalam disain penelitian apa saja. Topik tertentu mungkin cocok dengan metoda observasi (dalam arti hasil kesimpulan penelitian bisa optimal), sedang topik lain lebih cocok dengan metoda kuesioner. Begitu pula ancangan teori tertentu lebih condong memakai observasi dalam usaha pengembangan konsp-konsepnya dibanding dengan ancangan teori lainnya. Ada beberapa hal yag harus dipertimbangakan sebelum memutuskan untuk meneliti dengan memakai metoda observasi dalam mengumpulkan data;

1. Obyek kongkrit: Observasi lebih cocok dengan objek atau masalah yang dapat diamati (observable) seperti tingkahlaku, gerak-aktivitas fisik, mobilitas, deskripsi bentuk dan struktur/elemen. Semua entiti atau variabel yang diteliti dengan metoda observasi harus dibatasi secara operasional menjadi sesuatu yang teramati. Semua objek yang dapat dibatasi secara operasional menjadi sesuatu yang konkrit -- menjadi dimensi yang dapat diamati -- dapat diteliti dengan metoda observasi. Metoda observasi dapat meneliti perasaan atau emosi, dalam bentuk operasional ekspresi-emosi seperti wajah yang merah, tangan bergetar, nafas yang terengah-engah, atau menjerit dan menangis.

Konsep-konsep dalam psikologi dan sosiologi tersebar diantara dua kutub, yakni dari konsep yang  mudah dioperasionalkan menjadi observable teramati ke konsep yang sukar dioperasionalkan menjadi observable. Motivasi misalnya, relatif mudah dioperasionalkan menjadi banyaknya enerji yang dicurahkan, atau banyaknya waktu yang diperuntukkan menanggapi suatu objek. Siswa yang motivasi belajarnya tinggi tentu mencurahkan banyak enerji dan menyediakan banyak waktu untuk belajar. Di sisi lain, persepsi (pandangan atau isi-isi fikiran) cenderung sukar dioperasionalkan menjadi tingkahlaku yang dapat diamati. Sikap guru mengenai Ujian Nasional tidak dapat dilihat dari bagaimana tingkahlaku guru yang cenderung terikat dengan norma kedinasan (harus setuju). Guru yang sangat tidak setuju dengan Ujian Nasional-pun tetap bersedia menunggu/mengawasi pelaksanaan Ujian Nasional.

2. Variabel Non-Verbal: Pengamatan yang paling banyak dilakukan adalah pengamatan visual, bahkan sering pengamatan disalah-sinonimkan sebagai pengamatan visual. Masalahnya, ketika mengamati stimulus audio terutama bahasa atau kata, orang cenderung untuk memperoleh informasi lanjutan dengan merespon dengan kata, menjadi komunikasi atau interaksi verbal. Metoda observasi menjadi bergeser atau terkontaminasi dengan metode wawancara.

3. Deskripsi Konteks: Pengamatan terhadap suatu objek atau peristiwa tidak bisa murni terbebas dari pengamatan terhadap hal-hal disekitar objek yang menjadi fokus. Justru ini menjadi salah satu kelebihan dari observasi, yakni dapat  menghasilkan penjelasan kaitan-kaitan antara fenomena satu dengan yang lain. Penelitian yang masalahnya bersifat kontekstual, bukan hanya menanyakan “apa?” tetapi juga “mengapa dan bagimana” cocok diteliti dengan metoda observasi.  Variabel-variabel penelitian bukan hanya dipilah independen dan dependen, tetapi juga digambarkan bagaimana hubungan anteseden-konsekuen dan atau sebab- akibat antara keduanya. Begitu pula variabel-variabel ekstra (moderator dan intervening) digambarkan keterlibatannya dengan variabel penelitian dalam rekaman data penelitian.

Ketika mengamati anak yang mengalami gangguan sulit makan, observasi bukan hanya mendata jam makan dan banyaknya makan, tetapi juga mengamati hal-hal yang berkaitan dengan proses makan anak. Apakah keberadaan seseorang di sekitarnya mempengaruhi proses makan anak?  Mengapa anak melakukan sesuatu dengan cara tertentu? Bagaimana kegiatan makan itu sendiri berlangsung? Analisis terhadap informasi yang lengkap tentang “makan” dapat memperoleh kesimpulan tentang anak yang sulit makan dan bagaimana menanganinya.

4. Konsumsi Waktu: Metoda observasi membutuhkan waktu yang relatif lebih panjang, dibanding dengan metoda-metoda lainnya. Pengamat yang ingin memperoleh data yang benar-benar alami (natural) memerlukan kesabaran, baik untuk menunggu munculnya peristiwa yang menjadia afokus pengamatan, maupun untuk berada di lapangan tanpa mengganggu keaslian peristiwa yang akan diamati. Lebih-lebih kalau peristiwa itu harus diamati secara beruntun, lamanya observasi longitudinal menjadi sangat tergantung kepada lamanya peristiwa itu berlangsung. Usaha menyingkat waktu dalam aplikasi metoda observasi, bisa dilakukan dengan mengkolaborasikan observasi dengan eksperimen. Obyek atau masalah penelitian diusung ke laboratorium, dan diciptakan suasana artifisial semirip mungkin dengan suasana alami. Berikutnya, dilakukan intervensi atau tritmen tertentu, sehingga tingkahlaku yang dikehendaki (yang menjadi fokus penelitian) berpeluang untuk muncul. Praktek semacam ini hampir pasti mengorbankan sifat “asli” data observasi, sehingga generalisasinya menjadi kurang meyakinkan. Kesimpulan yang diambil dasarnya adalah pengamatan laboratorium yang tidak sama dengan kondisi alami. Sepanjang sifat artifisialnya tidak berlebihan mungkin masih dapat dipandang sebagai metoda observasi, sebaliknya kalau suasana laboratorium dan intervensinya sangat menonjol kolaborasi itu lebih tepat dibahas dalam metoda eksperimen.  

5. A-Teori: Ketika melakukan pengamatan, seorang peneliti dituntut melakukannya secara objektif, dan membuang jauh-jauh subjektivitasnya. Sumber dari subjektivita adalah logika, akal sehat, pengetahuan atau pengalaman awal, dan teori yang berkaitan dengan fokus penelitian. Hampir tidak mungkin meninggalkan teori dirumah ketika peneliti pergi kelapangan penelitian (karena teori itu ada di kepalanya). Jadi penelitian yang fokusnya belum dikembangkan teori tentangnya sangat cocok dengan observasi; paling tidak  pemahaman mengenai suatu fokus masih langka. Tidak berarti observasi hanya cocok dengan penelitian survey nomotetik, karena observasi juga dapat menghasilkan kesimpulan idiografik.

Hampir semua halaman rumah penduduk ditumbuhi rumput yang kasar-kotor-tidak teratur dan tidak sedap dipandang mata. Dari pengalamannya sebagai ‘orang kota’ seorang peneliti-pengamat akan cenderung menyimpulkan penduduk di daerah itu pemalas dan tidak menghargai kebersihan. Subjektivitas semacam itu salah, karena masyarakat justru memakai rumput itu sebagai  ‘keset hidup.’ Di daerah itu air sulit diperoleh, dan membersihkan kaki dengan air merupakan kemewahan dan pemborosan. Rumput dibiarkan tumbuh liar halaman untuk membersihkan kaki (keset) ketika masuk ke rumah.   

Metoda observasi bersifat nomotetik, ketika dikenakan pada daerah yang luas untuk memahami suatu fenomena, khususnya fenomena sosial. Kebenaran dari kesimpulannya diperoleh dengan mencari taraf umum atau signifikansi perbedaan frekuensi. Masalah-masalah pemasaran produk, selera atau pilihan masyarakat, pendapat umum mengenai sesuatu, poling politik, adalah contoh survey yang nomotetik. Metoda observasi bersifat idiografik, ketika dipakai untuk meneliti satu kasus secara mendalam. Kebenaran dari kesimpulannya diperoleh dari luasnya generalisasi, dan keruntutan logika sebab-akibat yang terlibat di dalamnya. Penelitian secara mendalam biasanya memakai metoda campuran untuk memanfaatkan semua peluang untuk memperoleh data. Observasi yang sudah tercampur dengan metoda lain, biasanya dipandang sebagai metoda pelengkap, bukan metoda utama. Skinner menyimpulkan bahwa kecemasan tidak dibawa dari lahir, tetapi diperoleh melalui pengalaman-belajar, dengan meneliti satu subjek (Albert) di laboratorium. Penelitian ini dikenal dengan nama Eksperimen Albert, karena observasi dilakukan terhadap tingkahlaku Albert yang ‘ditakut-takuti’ dengan suara keras. 

Observasi yang a-teori menjadi bagian dari pendekatan kualitatif atau pendekatan dengan analisis emik. Difinisi situasi tergantung kepada apa yang ditangkap dari pengamatan observer. Observasi semacam ini tidak memakai ancangan atau rencana yang pasti apa yang akan diobservasi dan mengapa hal itu diobservasi, dalam rangka memperoleh data yang benar-benar objektif mencerminkan keadaan lapangan, bukan cerminan dari teori yang dimiliki peneliti. Dampak tanpa  teori atau tanpa rencana itu observasi menjadi tergantung kepada kepekaan peneliti, sehingga justru data kualitatif dianggap subjektif, bias, impresionistik, dan idiosinkratik. Kebalikan dari observasi a-teori adalah observasi terstruktur dari pendekatan kuantitatif atau pendekatan etik, di mana kerangka kerja konseptual ditentukan sebelum meneliti, disusun difinisi dan hipotesa-hipotesa untuk menuntun arah pengamatan. Analisis etik menggunakan kerangka kerja konseptual dari peneliti, sementara pendekatan emik menggunakan kerangka kerja konseptual mereka yang diteliti. Observasi berstruktur menggunakan pendekatan etik, dimana kerangka kerja standar yang ditentukan sebelumnya menuntut untuk dijawab, sedang observasi takberstruktur menjadi bagian dari penelitian kualitatif yang menggunakan pendekatan emik, di mana definisi situasi tergantrung kepada apa yang  ditangkap dalam pengamatan observer.









4. STRUKTUR DALAM OBSERVASI

Jenis observasi terentang pada kontinum observasi berstruktur ke tak-berstruktur. Observasi yang sangat berstruktur adalah observasi terencana sempurna, apa yang akan diobservasi dan kondisi/situasi tempat event itu berlangsung sudah diketahui sebelum peneliti melakukan observasi; sedang observasi tak-berstruktur adalah observasi yang miskin perencanaan, peneliti datang ke lapangan dengan tujuan ‘memahami sesuatu’ tanpa merencanakan apa, dimana dan bagaimana data akan diperoleh. Diantara kedua ekstrim itu ada Observasi yang setengah berstruktur, yakni observasi yang sudah mempunyai tujuan apa yang akan diobservasi dan sasaran dimana observasi dilakukan, tetapi dalam bentuk yang samar atau tidak sistematis.

Observasi berstruktur dipakai oleh riset positivistik, aktivitasnya dibatasi oleh arah tujuan mencatat pocapan dan tingkahlaku. Rancangan pengamatan disusun memakai taksonomi yang dikembangkan dari teori yang dipakai sebagai dasar dan hipotesis penelitian. Data hasil observasi akan dipakai untuk membuktikan atau menolak hipotesis itu. Observasi dilakukan dengan perencanaan yang cermat - variabel, sub variabel dan indikator tingkahlaku yang akan diobservasi di deskripsikan secara spesifik; serta bagaimana mengobservasinya diterntukan sejak awal. Observer masuk kelapangan dengan membawa seperangkat instrumen penuntun observasi (observation guide), berisi daftar tingkahlaku yang menjadi fokus pengamatan. Hasil pengamatan bisa berupa frekuensi – jumlah berapa kali sebentuk tingkahlaku muncul, atau berupa durasi – berapa lama suatu event tingkahlaku terjadi. Observasi berstruktur yang ideal memisahkan observer dengan subjek yang diamatinya, sehingga event yang diamati benar-benar terjadi secara alami – tanpa ada pengaruh dari kehadiran peneliti.

Observasi tidak berstruktur memakai paradigma fenomenologi sebagai kebalikan dari kebalikan dari observasi berstruktur dari paradigma positivistik. Fenomenologi memandang realitas tidak bersifat eksternal dan objektif, tetapi realitas itu merupakan kreasi-fikir indiividu, sehingga realitas itu bersifat subjektif. Dunia nyata adalah fenomena yang hermeneutik (interpretatif). Alih-alih membuktikan hipotesis, observasi takberstruktur bertujuan untuk membangun  atau menemukan hipotesis atau proposisi.  Peneliti mendatangi lapangan dengan menanggalkan semua teori yang dimilikinya agar dapat menangkap fenomena apa adanya, mengikuti tradisi Moreno “mengamati diri orang lain dengan memakai mata atau kerangka pandang orang itu sendiri” (Robert Waldl, 2004. Teori, pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki peneliti akan mengarahkan atensi, memberi penilaian awal, dan mempengaruhi sikap pengamatannya; tanpa peneliti itu menyadari bahwa data hasil observasinya telah terkontaminasi oleh isi-isi fikirannya sendiri. Bukan berarti observasi tak-berstruktur itu ngawur dan tidak sistematis, tetapi lebih menekankan pada usaha menjala multi stimulus dengan multi sensorik untuk kemudian memilah data-data yang bermakna melalui analisis situs; pengklasifikasian, pengelompokan, penjenjangan, pengkaitan,  pengujian lanjut, dan pengabstraksian.  Observasi tak berstruktur idealnya dilakukan oleh peneliti yang ikut terlibat dan merasakan kegiatan obyek yang diamatinya dalam complete participant.

 

Kedudukan peneliti dalam melakukan observasi oleh Gold (dalam Adler and Adler, 1994)  dibedakan menjadi 4 jenis yang diletakkan dalam kontinum, yakni complete participant (pengamat berusaha menjadi bagian dari yang diamatinya)-- participant as observer (seorang atau beberapa orang subjek amatan berperan sebagai pengamat) –observer as participant (pengamat berada dan mengambil bagian dalam kegiatan subjek amatan) – complete observer (pengamat tidak bersentuhan dengan subjek amatan misalnya mengamati dari rekaman video atau one way screen). Titik tengahnya adalah keseimbangan antara keterlibatan dengan pemisahan- kedekatan dengan mengambil jarak-atau keakraban dengan formalitas yang asing. Complete observer memakai observasi yang berstruktur, sedang Observer as particitant - participant as observer – complete participant memakai observasi tidak berstruktur. Semakin ke arah complete participant semakin hilang strukturnya.

 

5. OBSERVASI BERSTRUKTUR – COMPLETE OBSERVER

Struktur dalam observasi adalah proses perencanaan; semakin lengkap perencanaannya semakin sempurna berstrukturnya. Perencanaan itu meliputi seluruh kegiatan penelitian, apa-bagaimana-kapan-dimana penelitian dilakukan. Pada struktur yang sempurna, peran observer tinggal menjadi semacam ‘robot’ yang melaksanakan semua rencana yang sudah tersusun. Umumnya peneliti berkedudukan sebagai murni sebagai pengamat (complete observer). Pada kasus tertentu di mana kehadiran peneliti tidak dapat disamarkan,  peneliti menjadi partisipan-observer; berbaur dalam batas-batas tertentu dengan subjek yang diteliti - yakni berusaha agar subjek tidak terganggu/tidak berubah akibat kehadiran peneliti itu sehingga data yang terekam masih asli-alamiah seperti apa adanya. Melayani tradisi kuantitatif, data yang dikumpulkan adalah angka dari besaran-besaran yang terukur, bisa frekuensi berapa kali suatu entitas atau dimensi waktu, dimensi luasan, dimensi berat, dan dimensi lainnya. Observasi berstruktur sangat mementingkan objektivitas, merekam kejadian apa adanya sesuai rencana yang sudah disusun. Resiko rencana yang kurang lengkap adalah terabaikannya (tidak terekam)  kejadian yang tidak direncanakan untuk diamati, dan ini menjadi salah satu kritik tajam terhadap observasi berstruktur. Sekurang-kurangnya, struktur menentukan sejak awal hal-hal berikut:

Masalah – tujuan – hipotesis penelitian (asumsi-teori-kerangka berifikir)
Penelitian tentu berangkat dari permasalahan; penelitian itu dilakukan karena ada suatu masalah yang penting-menarik-krusial untuk dipecahkan. Pada observasi berstruktur masalah penelitian dideskripsi dalam rincian yang jelas batasannya. Ada tiga pokok masalah penelitian, pertama adalah adanya perbedaan atau kesenjangan antara apa yang terjadi dengan harapan – bagaimana seharusnya hal itu terjadi;  antara situasi yang salah dengan bagaimana yang benar, buruk-baik, seadanya-sempurna. Semakin jauh realitas dengan harapan ideal, semakin gejala itu bermasalah. Masalah kesenjangan dapat berubah menjadi masalah eksperimen dan atau pengembangan ketika penelitian bertujuan untuk membuktikan apakah tritmen atau kebijakan tertentu dapat memecahkan suatu masalah. Kedua, masalah perbedaan dua variabel yang setara. Pembuktian mengenai persamaan dan perbedaan dua variabel itu dapat memperdalam pemahaman mengenai karakteristik khas suatu objek dan dasar rasional untuk menentukan pilhan-pilihan. Ketiga, masalah hubungan antar variabel, bisa berupa asosiasi, korelasi, atau sebab-akibat. Apakah dua (atau lebih) variabel saling berhubungan menjadi suatu masalah, kalau pemahaman mengenai hubungan-hubungan itu dapat dipakai untuk menjelaskan suatu fenomena, atau dapat menjadi dasar untuk memecahkan suatu masalah secara lebih meyakinkan.

Tradisi positivisme memakai penelitian untuk memecahkan suatu masalah. Agar suatu maslah dapat dipecahkan seorang peneliti harus sudah memahami masalah itu, teori dan konsep yang mungkin dapat menjelaskan masalah itu serta variabel-variabel yang terkait dengan permasalahannya. Dengan kata lain, pemecahan masalah itu sebagian terletak pada diri peneliti itu sendiri;  pengalaman-pengetahuan-kreativitasnya, sebagian lainnya terletak pada pemahaman mengenai  sifat-hakiki suatu masalah sebagaimana ditunjukkan oleh data hasil penelitian (Kerlinger, 2004). Tidak ada kaidah standar bagaimana suatu masalah penelitian harus dirumuskan, yang penting rumusan itu benar-benar dapat memaparkan secara efisien permasalahan yang akan dikaji. Dari berbagai kajian metode riset dapat disimpulkan beberapa syarat rumusan masalah yang baik:
1. Merumuskan dalam kalimat tanya: masalah adalah suatu persoalan, suatu pertanyaan yang akan dijawab oleh penelitian itu sendiri. Kalimat rumusannya harus jelas – tidak wayuh arti.
2. Melibatkan sekurang-kurangnya dua variabel: bisa mencari saling hubungan sebab akibat atau asosiasi, bisa juga mencari perbedaan antara variabel-variabel penelitian.
3. Tergambar dalam ruimusan itu, kaitan antara variabel-variabel yang diteliti, sekaligus memberi arahan bagaimana data dari setiap variabel yang terlibat dapat diperoleh atau dikumpulkan. 

Variabel yang pengumpulan datanya  cocok dilakukan dengan metoda observasi berstruktur adalah variabel yang kongkrit, tingkahlaku yang teramati, dan kontekstual.  Kalau tiga syarat itu terpenuhi, langkah-langkah observasi dapat distruktur dengan lebih baik.

        Contoh konstruk variabel yang cocok dengan observasi berstruktur
Variabel
Kongkrit – observable - konteks
Gaya belajar siswa di rumah
Kapan, dimana, berapa lama/berapa kali, penerangan, fasilitas, posisi badan
Interaksi dalam keluarga
Frekuensi, durasi, isi, inisiatif, terminasi
Tingkah laku orang gila
Berjalan di tengah jalan, berlari, menari, berteriak, mengejar kendaraan, memberi tanda dengan lambaian tangan, duduk diemperan toko.
Tikus lapar
Diam, lari berputar, lari bolak balik, meloncat, menabrak, menggigit
      
       Contoh konstruk variabel yang tidak cocok dengan observasi berstruktur
 Variabel
Tidak Kongkrit – observable - konteks
Gaya berfikir siswa
Berfikir meloncat-loncat, tidak fokus, konsentrasi, melamun
Kepemimpinan dalam keluarga
Wibawa, penghargaan, kehormatan, moralitas
Emosi orang gila
Halusinasi, tertekan, tegang, bingung, memikirkan diri sendiri
Tujuan penelitian secara umum adalah menyelesaikan atau memecahkan masalah yang diteliti, melalui pemahaman yang komprehensif mengenainya. Dari sisi moral ada dua kubu pendapat mengenai tujuan penelitian, pertama penelitian harus bertujuan sesuatu yang positif, bermakna, atau mencapai sesuatu yang lebih baik. Kubu kedua memandang penelitian sebagai sesuatu yang bebas makna – tujuan penelitian adalah mengembangkan ilmu pengetahuan, dimana hasil penelitian bisa bermuara pada aplikasi yang positif bagi kehidupan manusia atau sebaliknya. Kubu ini berpendapat, pengetahuan selalu mempunyai multi wajah dalam penerapannya, bisa positif atau negatif. Dari sudut pandang keilmuan,  tujuan penelitian bisa diklasifikasi menjadi penelitian kajian baru, pengembangan, pembuktian dan pengujian. Observasi berstruktur lebih banyak cocok denga penelitian pengembangan dan pembuktian/pengujian berupaya untuk mengembangkan konsep-konsep lanjutan, atau menguji kebenaran teori itu, atau membuktikannya dengan sejumlah data aplikatif. Observasi tak-berstruktur lebih cocok cenga penelitian kajian baru.
1. Tujuan kajian baru: Penelitian berusaha menemukan sesuatu yang baru, sesuatu yang kreatif dan aktual. Masalahnya ada pada kata “baru” karena sering orang berpendapat tidak ada ilmu yang benar-benar baru di dunia. Semua saling berhubungan karena hakekat ilmu itu sendiri bersifat akumulatif. Belum lagi, sebaran penelitian di dunia sangat luas (walaupun dewasa ini arus informasi sudah sangat masif) membuat informasi mengenai suatu penelitian tidak diterima di tempat lain, sehingga seorang peneliti yang menganggap topik penelitiannya itu “baru” ternyata telah rampung dikaji di tempat belahan dunia lain. Dalam hal ini, kajian baru menjadi bersifat relatif. Misalnya, observasi tingkahlaku remaja yang baru saja diberitahu bahwa dia terpapar HIV/AIDS sejak bayi tentu lebih kreatif dan aktual dibanding observasi tingkahlaku remaja pacaran.  Begitu pula mengobservasi kelekatan ibu-anak hidrocephal bisa menghasilkan kajian baru dibanding dengan mengobservasi tingkahlaku anak dalam masa pelatihan  toilet training.

2. Tujuan pengembangan: Memperluas, memperdalam, memerinci dan atau mengaplikasikan suatu konsep.  Penelitian berangkat dari suatu konsep, yang tujuannya adalah menambah atau menyempurnakan konsep itu. Konsep kecerdasan misalnya, semula hanya berkaitan dengan pengukuran kemampuan kognitif. Konsep ini kemudian dikembangkan menjadi kecerdasan emosional dan kecerdasan religius.

3. Tujuan pembuktian dan pengujian. Penelitian ulang, apa yang sudah di lakukan oleh seorang peneliti diulang dilakukan (oleh peneliti lain) penelitian yang sama. Kalau pengulangan itu dibuat identik, sama persisi dengan penelitian terdahulu, berati tujuan penelitian bersifat pembuktian, apakah hasil penelitian yang diulang itu benar-benar menghasilkan seperti yang dilaporkan. Pengulangan bisa dilakukan pada sampel yang berbeda, untuk menguji apakah daya pakai dari kesimpulan penelitian sesuai dengan ancangan generalisasinya.

Tujuan penelitian juga dapat diklasifikasi menjadi tujuan deskriptif, eksplanatif, dan eksploratif. Observasi dapat menghasilkan deskripsi subjek penelitian yang benar-benar objektif dan natural. Observasi terhadap tingkahlaku penderita schizophrenia dapat mendeskripsi tingkahlaku berurut-turut dalam skedul menit bahkan detik. Data itu menjadi eksplanatif ketika dianalisis saling hubungan sebab-akibat antara tingkahlaku satu dengan yang lain, dan antara ingkahlaku itu dengan peristiwa yang memicunya. Penelitian menjadi eksploratif kalau dapat menarik kesimpulan-kesimpulan yang sifatnya hipotetik, untuk dikaji lebih lanjut dengan penelitian lainnya.

Memecahkan masalah dapat dilakukan tanpa melalui penelitian tetapi dilakukan berdasarkan pengalaman dan kemampuan berfikir. Pada tingkat tertentu, fikiran yang mendasari pengambilan keputusan sering tidak dapt dijelaskan bahkan oleh pengambil kebijakan itu sendiri, semacam intuisi. Fikiran tentang pemecahan masalah itu dalam penelitian disebut hipotesis, dan data penelitian akan dipakai untuik menguji apakah hipotesis mengenai hubungan antar variabel penelitian - yang dikonstruk berdasarkan teori dan pengalaman peneliti – terbukti didukung oleh data atau tidak. Hipotesis memfokuskan usaha pemecahan masalah pada konstruk-konstruk tertentu sebagaiman yang tampak dari pernyataan hipotetik yang diajukan. Hipotesis memprediksi bentuk hubungan atau perbedaan antara variabel-variabel penelitian yang mengarahkan alur penelitian. Ketika data penelitian mendukung suatu hipotesis, maka dapat ditegakkan kesimpulan pemecahan masalahnya. Kalau ternyata data tidak mendukung hipotesis, penelitian akan memulai proses dari awal – menyusun hipotesis baru, mengumpulkan data sesuai dengan variabel yang ada dalam hipotesis dan kemudian membuat kesimpulan mengenai hipotesis baru itu. Singkat kata, penelitian adalah membuktikan hipotesis. Orang menjadi kurang nyaman dengan hipotesis, karena merasa gerak kreativitas dan eksplorasi penelitian menjadi terbelenggu oleh hipotesis. Pandangan semacam itu kurang tepat, karena hipotesis merupakan salah satu langkah proses berfikir yang membuat penelitian menjadi efektif-efisien dan parsimoni. Tanpa hipotesis peneliti mengalami kerancuan untuk menetapkan data apa yang akan dia kumpulkan; akibatnya bisa terjadi data yang penting menjadi terlewat (tidak direkam) dan data yang dikumpulkan adalah informasi trivial.

Kalimat hipotesis dalam bentuk proposisi yang singkat, menggambarkan prediksi hubungan antar variabel yang dipermasalahkan. Contoh redaksi masalah dan hipotesis sebagai berikut:

        Contoh Masalah dan Hipotesis
Masalah
Hipotesis
Apakah ada hubungan antara kecantikan pemakaian kosmetik wajah?
Ada hubungan antara kecantikan dengan pemakaian kosmetik wajah
Makin cantik wajahnya semakin banyak jenis kosmetik dan kuantitas kosmetik wajah yang dipakai.
Apakah perasaan takut terpapar HIV/AIDS mengurangi frekuensi kunjungan ke PSK?
Ada hubungan antara perasaan takut terpapar HIV/AIDS dengan frekuensi kunjungan ke PSK
Semakin gencar sosialisasi bahaya penyakit HIV/AIDS, akan menimbulkan rasa takut terpapar pada laki-laki hidung belang, sehingga frekuensi kunjungan ke PSK menurun
Apakah ada hubungan antara pemakaian tato dengan perilaku agresi?
Ada hubungan antara pemakaian tato dengan perilaku agresi
Tato di bagian tubuh yang mudah dilihat orang lain, bentuknya lemar, berwarna-warni dan nuansanya mengancam dimiliki oleh orang yang bersifat agresif.

Variabel Penelitian dan Instrumen Penelitian
Dalam suatu penelitian (apapun jenis penelitiannya) yang diteliti adalah variabel-variabel, suatu konstruk yang memiliki bermacam-macam nilai. Prestasi belajar mempunyai variabilitas yang tinggi ketika siswa yang diteliti mempunyai nilai beragam, mulai dari nilai 0 sampai 10, variabilitasnya rendah kalau semua hanya mendapat nilai 6 dan 7, dan menjadi bukan variabel kalau semua siswa mendapat nilai 6.
Variabel yang diteliti dinamakan variabel penelitian, sedang variabel yang mungkin terkait dengan penelitian tetapi tidak diteliti disebut variabel ekstra

Seorang guru menggambar memberi pujian kepada semua gambar yang dikumpulkan siswa dengan kalimat yang sama: “bagus, gambar ini bagus.”  Penelitian mengenai dampak pujian guru terhadap motivasi siswa untuk menggambar lebih baik – tidak dapat dilakukan, karena “pujiannya” tidak bervariasi. Bandingkan dengan penelitian mengenai dampak kesesuaian pujian guru dengan pandangan anak mengenai gambarnyaterhadap motivasi menggambar.  Kesesuaian itu bervariasi (ada yang sesuai dan ada yang tidak sesuai) sehingga memungkinkan untuk dapat diteliti.   

Variabel dapat didefinisikan dengan dua cara. Pertama, batasan dengan menggunakan kata-kata lain. Inilah yang lazim dilakukan oleh kamus. "Kecerdasan adalah intelek yang bekerja"; atau  "ketajaman mental", atau "kemampuan untuk berpikir abstrak". Batasan-batasan demikian menggunakan konsep-konsep atau ungkapan-ungkapan konseptual lain untuk menggantikan ungkapan variabel yang didefinisikan. Kedua, batasan dengan dengan menyatakan  tindakan-tindakan atau kelakuan-kelakuan yang terungkapkan atau tersiratkan.  "Kecerdasan adalah kemampuan membaca dan memahami cerita yang berikan.” Difinisi semacam ini disebut difinidi operasional. Definisi operasional melekatkan arti pada suatu konstruk atau variabel dengan cara menetapkan kegiatan-kegiatan atau tindakan tindakan yang perlu untuk mengukur konstruk atau variabel itu. Kemungkinan lainnya, suatu definisi operasional merupakan spesifikasi kegiatan peneliti dalam mengukur suatu variabel atau memanipulasikannya. Contoh definisi operasional yang terkenal, walaupun ekstrem, adalah ini:

“Inteligensi (atau kecemasan, prestasi, dan lain-lain) ialah skor yang dicapai pada tes inteligensi X”; “inteligensi ialah ihwal yang diukur oleh tes inteligensi X.”

Definisi itu menunjukkan bagaimana skor variabel diperoleh, tanpa menyinggung tingkat kebaikan pengukuran inteligensi dengan instrumen yang disebutkan itu. (Keadekuatan tes tersebut tentunya sudah terjamin sebelum peneliti menggunakannya). Secara umum, ada dua macam definisi operasional: (1) terukur dan (2) eksperimental. Definisi operasional terukur memaparkan cara pengukuran suatu variabel (contoh-contoh definisi inteligensi di atas)  Definisi operasional eksperimental menyebutkan rincian rincian hal yang dilakukan penyelidik dalam memanipulasi sesuatu variabel.

Dalam penelitian kuantitatif, semua data harus berupa angka  yang diperoleh melalui proses asesmen. Variabel-variabel penelitian diukur, diamati, dinilai, dihitung, sehingga diperoleh besaran berupa angka. Observasi kebanyakan menghasilkan data frekuensi dan atau durasi, berapa kali suatu gejala muncul dan berapa lama gejala itu muncul. Tidak tertutup kemungkinan, observer memberi penilaian dalam pengamatannya  sehingga observasi menghasilkan skor, misalnya pada pengamatan suara menyanyi pengamen (merdu-sember), dan pengamatan kecepatan mengemudi supir taxi (40, 50, 60…. Km). Proses asesmen ini menjadi salah satu pembeda observasi berstruktur dengan observasi tak-bersturktur. Pada observasi berstuktur, apa yang akan diamati sepanjang penelitian ditentukan dengan memerinci variabel penelitian menjadi sub variabel dan menjadi indikator tingkahlaku (yang harus diamati) berdasarkan teori yang dijadikan pijakan peneltian. Pada observasi tak-berstruktur peneliti hanya membawa fokus penelitian; selebihnya mengandalkan kepekaan dan kreativitas untuk memilih apa yang akan diobservasi dalam melakukana penelitian. Observasi berstuktur membutuhkan kajian teori agar rincian sub-variabel benar-benar sesuai dengan variabel asalnya. Berdasarkan rincian sub-variabel itu dibuat instrumen observasi atau penuntun observasi. 

Obsever mendatangi lapangan sudah membawa instrumen observasi yang siap pakai; Deskripsi tingkahlaku apa yang harus direkam, dan bagaimana cara merekamnya disusun secara rapi sehingga mudah diterapkan.
Kesimpulan penelitian ditarik berdasarkan data yang diperoleh; padahal data yang diperoleh itu semuanya berasal dari observasi dengan menggunakan tuntunan observasi. Jadi, benar-tidaknya kesimpulan tergantung kepada valid-tidaknya instrumen yang dipakai. Tuntunan observasi menjadi tolok ukur mutu penelitian itu sendiri. Mula-mula dari ancangan teori yang dipakai, variabel penelitian dirinci menjadi beberapa sub-variabel. Setiap sub variabel kemudian dianalisis untuk menemukan tingkahlaku yang cocok untuk mengungkapnya, dan akirnya tingkahlaku dideskripsi secara jelas dan pilah-pilah. Misalnya penelitian mengenai hubungan antara ibu dengan bayinya, memakai teori Cassidy (2003), attachment ditandai dengan kuantitas dan kualitas hubungan interpersonal antara ibu dengan bayi. Indikator kuantitas adalah seringnya dan berapa lamanya setuhan antar ibu-bayi, sedang indikator kualitas adalah isi atau kegiatan yang mengikat kebersamaan keduanya.     

Observation guide
Variabel                             :  attachment
Waktu Observasi              : Jam ………s/d jam …….
Subyek                              :              
Tempat observasi            :
Observer                           :  

Sub Variabel
Indikator
Deskripsi tingkahlaku
Jam….s/d jam …….






Kuantitas
Merawat
Mendatangi dan mengecek kenyamanan bayi






Memeluk
Mengangkat dan memeluk






Menggendong






Menemani
Berada di daerah tatapan bayi






Menunggui  bayi






Kualitas
Perhatian

Tatapan mata






Senyuman






Lagu nina bobok






Komunikasi verbal






Bermain






Tersenyum/tertawa






Feeding
Kebersihan
Menyusui






Mengganti  popok








Subjek penelitian
Perencanaan dan pengaturan dalam penelitian kuantitatif termasuk menentukan siapa orang yang akan diteliti. Subyek penelitian di ambil dari populasi yang menjadi sasaran generaslisasi penelitian. Ada dua macam populasi, pertama populasi tak terhitung yaitu semua subjek di suatu negara bahkan di seluruh dunia yang memiliki ciri-ciri sama dengan subjek yang akan diteliti. Kedua populasi terhitung, yaitu jumlah subjek yang memiliki ciri-ciri yang sama dengan subjek yang akan diteliti di daerah penelitian. Observasi mengenai kebiasaan merokok misalnya, jumlah populasi perokok di Indonesia bahkan di dunia tidak terhitung, mungkin sampai milyaran orang. Di daerah penelitian, yakni di perusahaan X, dari total karyawan 100 orang ada populasi perokok sebanyak 700 orang. Meneliti semua 700 orang akan sangat menyita tenaga-waktu-biaya, dan juga tidak perlu karena meneliti sebagian populasi itu hasilnya akan sama persis dengan kalau dilakukan penelitian ke semuanya. Bagian dari populasi yang mewakili dan mencerminkan sifat yang sama dengan populasi, dinamakan sampel.

Prinsip pokok dalam sampling (penentuan pemilihan subjek sebagai anggauta sampel) adalah keterwakilan.  Sampel yang baik adalah miniatur populasi atau populasi dalam jumlah kecil. Semua sifat dan ciri populasi harus tercermin dalam sampel. Kondisi itu dapat dicapai kalau dalam pemilihannya, semua subjek mempunyai peluang yang sama untuk terpilih mewakili populasi. Ini dinamalan prosedur sampling  a acak (random). Sifat keterwakilan berbanding lurus dengan jumlah subjek anggauta sampel; semakin besar jumlah anggautanya semakin besar nilai kewakilan dari sampel itu, tetapi tetap dengan pertimbangan bahwa sampel yang sangat besar menjadi sia-sia atau pemborosan karena waktu dan biaya penelitian menjadi sangat besar pula. Justru indahnya penelitian terletak pada sampling yang bijak, bagaimana meneliti dengan anggaran kecil tetapi hasilnya meyakinkan dan secara ilmiah-metodologis dapat dipertanggung jawabkan. Jumlah anggauta sampel berbanding lurus dengan homogenitas populasi. Semakin heterogen populasi – semakin banyak jumlah anggauta sampel yang dibutuhkan. Jadi, aturan umum agar sampling menghasilkan miniatur populasi:
1. Prosedur sampling acak (random)
2. Jumlah anggauta sampel sebesar-besarnya
3. Memperhatikan heterogenitas populasi.   

Sistem analisis
Validitas dan reliabilitas dari data observasi berstruktur dapat disandarkan pada validitas dan reliabilitas instrumennya. Kalau instrumen observasi telah dibuktikan memiliki indeks validitas dn reliabilitas yang signifikan, maka data yang diperoleh dari instrumen itu dapat dianggap valid dan reliabel. Data observasi ber-struktur adalah angka-angka (frekuensi maupun skor) sehingga perhitungan validitas dan reliabilitasnya memakai kaidah-kaidah statistik seperti instrumen penelitian pada umumnya.
Validitas instrumen dapat diukur dengan memakai teknik validitas konstruk, validitas isi, dan validitas kriterium. Validitas konstruk diukur dengan memakai analisis faktor. Validitas isi dilakukan dengan verifikasi atau uji pakar. Validitas kriterium mengkorelasikan hasil observasi dengan keriterium objektif, atau dengan kriterium hasuil pengukuran instrumen lain yang sudah terbukti valid.

Reliabilitas instrumen observasi lebih mudah diperoleh. Kalau observasi dilakukan oleh banyak observer, reliabilitas tes-retes dapat diperoleh dengan mencari korelasi hasil observasi antar rater terhadap subjek yang sama. Kalau observernya hanya seorang, korelasi antara observasi satu dengan observasi yang lain dapat menegakkan reliabilitas, tentu dengan memilih subjek yang diketahui memiliki ciri-ciri yang relatif sama. Dalam hal penelitian mengenai variabel yang homogen, dapat dilakukan hitung reliabilitas belah dua.

Data hasil observasi  berstruktur dianalisis dengan memakai bantuan analisis statistik inferensial. Pada umumnya data hasil observasi berupa frekuensi, sehingga analisisnya memakai pendekatan non parametrik. Namun tidak tertutup kemungkinan observasi menghasilkan data skor sehingga analisisnya memakai pendekatan parametrik.

Kekuatan dan Kelemahan Observasi berstruktur  (Woods, P. (1999)
Kekuatan
1.  Relatif bebas dari bias subjektivitas observer, menghitung frekuensi dan durasi layaknya pengukuran objektif yang meminimalisir inferensi dari observer.
2. Reliabilitasnya tinggi, manakala dipakai tim pengamat reliabilits hasil amatan mereka bisa mencapai 80%, sepanjang konstruk dan deskripsi indikator dalam instrumennya memenuhi syarat.
3. Generalisabilitinya tinggi, karena instrumen dapat dikenakan kepada jumlah subjek yang besar.
4. Datanya bersifat pasti – persis, tidak kacau – membingungkan
5. Dapat menyumbang struktur dari penelitian secara keseluruhan.
Kelemahan 
1. Kalau melibatkan pengukuran, reliabilitas pengukurannya kurang baik, karena materi kualitatif dapat diinterpretasi secara salah.
2. Sebagian besar interaksi tidak terekam
3. Mengabaikan konteks waktu dan jarak temporal ketika mengumpulkan data
4. Tidak cukup bagus untuk membangun pemahaman yang segar
5. Penentuan kategori apa yang diamati dapat membatasi temuan spesiifik dalam penelitian
6. Mengabaikan proses, perkembangan, pertumbuhan, dan perubahan.

 

7. OBSERVASI TAK-BERSTRUKTUR - COMPLETE PARTICIPANT

 

Pada strategi complete participant, peneliti berusaha untuk luluh dalam keanggutaan kelompok yang ditelitinya, hidup bersama-melakukan kegiatan yang sama-bahkan mencoba untuk berfikir dengan cara yang sama. Namun tetap saja ada perbedaan yang signifikan, antara keanggautaan kelompok yang asli dengan keanggautaan peneliti. Keanggautaan yang asli diikat oleh kebersamaan tertentu (bisa budaya, ras, etnik, atau kesamaan premodial lainnya), sedang keanggutaan peneliti dimaksudkan untuk ikut memperoleh persamaan-persamaan pengalaman-perasaan-tujuan. Keanggautaan peneliti tidak pernah benar-benar total complete, karena pada tingkat partisipasi sempurna peneliti akan kehilangan interes-interes pribadinya sebagai peneliti luluh dalam interes kelompok yang ditelitinya. Complete participant dicapai ketika peneliti memperoleh hak dan kuajiban yang sama dengan anggauta kelompok lainnya, sehingga peneliti bebas memperoleh akses informasi dan data yang benar-benar valid, karena informasi itu dideskripsi dari kerangka sudut pandang kelompok subjek penelitian, bukan dari interpretasi peneliti. Hal-hal yang sulit diperoleh peneliti complete participant dapat diperoleh dengan mudah oleh peneliti participant as observer, karena peneliti ini memang anggauta asli dari kelompok yang diteliti. Dari kelompok itu dipilih seorang (atau beberapa orang) untuk dilatih menjadi seorang peneliti yang tugasnya meneliti kelompoknya sendiri. Kalau mereka benar-benar jujur dan memahami tujuan penelitian yang tidak mengancam siapapun, peluang untuk memperoleh data yang mendalam sangat besar.


Peneliti harus tetap sadar tujuan. Mengadopsi keyakinan, kerangka sudut pandang, bahkan norma kehidupan dari suatu kelompok dengan tujuan memperoleh informasi yang mendalam mengenai kelompok tersebut. Tujuan ini tidak perlu ditutup-tutupi atau disembunyikan, karena hubungan semacam itu bersifat jangka panjang – tidak terputus sesudah penelitian berakhir. Menjadi tugas peneliti untuk memperoleh kepercayaan dari kelompok barunya, bahwa penelitian dia lakukan atau informasi yang dia kumpulkan tidak membahayakan atau merugikan kelompok. Complete participant tidak berarti complete membership, dalam pengertian peneliti benar-benar menjadi anggauta dengan segala resiko dan komitmennya karena tiga alasan. Pertama, complete membership dapat menimbulkan bias dalam pengumpulan informasi. Sebagai angauta dia justru akan menyaring, informasi mana yang pantas atau tidak pantas diketahui masyarakat – semacam mekanisme pertahanan diri agar kelompok tetap terjaga eksistensinya. Kedua, peneliti bisa berada dalam kedudukan yang dilematik-moral ketika kelompok melibatkan dirinya dengan kegiatan-kegiatan yang bertentangan dengan acuan tingkahlaku yang sudah dia miliki (sebelum menjadi anggauta kelompok baru) atau bertentangan dengan hukum/aturan umum. Terlibat menjadi kelompok delinkuen atau kelompok adiksi narkotik tidak berati harus mau ikut-ikutan mencuri atau mengisap ganja. Ketiga, ketika peneliti yang semula sangat diterima/dihargai keanggautaannya ternyata terbukti hal itu dia lakukan untuk kepentingan penelitiannya, dia akan dicap sebagai penipu - orang yang sangat pintar berpura-pura – yang menghalalkan segala cara untuk mencapai sesuatu (tidak peduli apakah tujuan penelitiannya itu baik atau buruk).

Wyn Sargent, seorang antropolog dari Amerika Serikat pada tahun 1973 telah melakukan pernikahan sensasional dengan kepala suku Dani – Obahorok -  di lembah baliem Irian jaya, untuk memperoleh informasi mengenai kehidupan seksual masyarakat di sana. Praktek penelitian semacam itu dianggap sebagai pelecehan budaya oleh pemerintah Indonesia, dan peneliti itu dideportasi (Kompas, 1999)

Suku Dani adalah suku yang hidup primitif di hutan Irian Jaya, tanpa pakaian – mengenakan KOTEKA untuk membungkus kemaluannya. Obahorok sebagai kepala suku mempunyai lebih dari 10 isteri. Atas nama ilmu pengetahuan, seorang antropolog luluh dalam masyarakat itu dan menyediakan diri kawin dengan dengan kepala suku. Motivasinya jelas, ingin memahami kehidupan domestik (rumah tangga) masyarakat primitif. Totalitas complete participant semacam itu menimbulkan konflik etik dan moral (memakai perkawinan yang sakral sebagai wahana penelitian), bahkan koflik hukum dan politik (menipu kepala suku dan menyalahgunakan visa/izin penelitian).    




Peneliti
Dibutuhkan kemampuan berinteraksi dan penyesuaian diri yang sangat baik, kepribadian-sikap-tutur kata-kontrol emosi dan tingkahlaku di atas rata-rata agar seseorang bisa menjadi complete participant.  Praktis peneliti yang memutuskan untuk memakai disain complete participant beranggapan dirinya mampu melakukan kegiatan pengumpulan data sendiri. Kalau ada pembantu peneliti, perannya benar-benar dibatasi sebagai sekretaris yang mentranskrip perolehan data. Peneliti menjadi pemain tunggal, bahkan dalam banyak penjelasan metoda kualitatif, peneliti berperan sebagai insrumen penelitian itu sendiri. Penelitian berlangsung lama (bisa bertahun-tahun tergantung masalah dan kemudahan akulturasi budaya), dan tergantung kepada kapasitas kemampuan pribadi peneliti dalam bidang yang menjadi fokus penelitiannya..

Observasi tidak terstruktur tidak berarti sama sekali tanpa struktur - ada struktur dan prarencana tetapi lentur (fleksibel) dan tidak sistematis. Struktur itu tidak berupa daftar tingkahlaku atau daftar event yang hendak diobservasi beserta jadwal dan sistematik pencatatannya, tetapi lebih berupa tujuan dan kerangka menyusun data menuju pemecahan suatu masalah. Tujuan dan kerangka itu bersifat lentur, setiap saat dapat berubah sesuai dengan tendensi data dan pengalaman selama berada di lingkungan yang diteliti. Peneliti pada observasi tidak terstruktur memandang tidak mungkin menghilangkan subjektivitas dari data penelitian; jadi peneliti dapat mengambil peran apapun mulai dari complete participant sampai complete observant. Sebaliknya peneliti observasi terstruktur berusaha bersikap objektif sehingga harus mengambil jarak dengan hal yang diamatinya.

Perekaman data
Complete participant menghasilkan data yang multiwajah. Fenomena apa saja yang dipandang “penting” oleh peneliti direkam secara deskriptif. Satu-satunya batasan adalah minat atau tujuan penelitian. Pengamatan di lapangan tidak sebaiknya tidak disibukkan dengan pencatatan, yang hanya akan membuat hilangnya sifat alami objek. Semua tergantung kepada kemampuan peneliti mengingat apa merangsang inderanya. Kalau melakukan pencatatan on the spot, hendaknya dilakukan dalam bentuk yang singkat, simbol-simbol untuk membantu ingatan dalam merekonstruksi skedul suatu event. Ada tiga strategi yang umum dipakai:
1. Rekaman terjadwal: setiap kurun waktu tertentu (misalnya setiap 3 jam sekali) peneliti merekam semua hasil pengamatannya.  Setiap selesai melakukan observasi harus segera dilakukan perekaman data, tidak boleh ditunda-tunda. Skedul waktu rekaman yang pendek akan menghasilkan data yang lebih objektif; sebaliknya pada skedul yang panjang peluang untuk “lupa” semakin besar sehingga alur cerita terpaksa disambung/dilengkapi dengan akal sehat/subjektivitas peneliti. Kelemahan sekaman skedul pendek adalah  kesibukan bolak-balik ke lapangan dapat  merusak sifat alami lingkungan atau kedudukan peneliti sebagai complete observer. Berapa panjang skedul waktu tergantung kepada panjangnya event yang diamati. Pengamatan di sekolah misalnya, dapat diatur dalam skedul setiap 100 menit – sampai 150 menit dilakukan perekaman data, karena di sekolah siswa diatur dalam skedul dua atau tiga jam pelajaran diselingi istirahat. Sebaiknya perekaman data dilakukan tidak lebih dari 3 jam pengamatan.

2. Rekaman anekdot: peneliti yang melakukan pengamatan secara acak dapat menemukan event atau tingkahlaku yang menarik dalam kaitannya dengan tujuan dan kerangka penelitian. Kejadian itu diamati sampai tuntas, dan segera pulang ke basecamp untuk melakukan rekaman. Kapan melakukan perakaman tidak teratur jadwalnya, tergantung kepada ada tidaknya event yang memenuhi kriteria untuk direkam. Gabungan antara rekaman terjadwal dengan rekaman anekdot mungkin lebih fleksibel, sesuai dengan hakekat complete participant yang lentur. Kalau tidak ada event yang menarik, rekaman dilakukan setiap 3 jam. Kalau ada event-amatan, rekaman dilakukan kalau pengamatan dianggap sudah paripurna, bisa kurang atau lebih dari skedul 3 jam jadwal rekaman.

3. Rekaman kasus: Sesudah melakukan perekaman peneliti melakukan analisis dan interpretasi terhadap data yan sudah ditulisnya. Apabila terdapat informasi yang meragukan, perlu dilakukan pengecekan untuk memvalidasi informasi itu. Pengecekan dilakukan ke dua sumber data lain, untuk dibandingkan dengan data sumber pertama; ini dinamakan triangulasi. Peneliti mendatangi lapangan dengan tujuan mengecek data, artinya subjek amatan sudah ditentukan, bisa sampai ketentuan sumber siapa atau event apa yang akan diamati. Selesai pengamatan baru dilakukan perekaman.


Tanpa membawa penuntun observasi, peneliti harus peka untuk memilih data apa yang perlu direkam. Sering sebagai “orang baru” di suatu lingkungan penelitian, observer tertarik dengan sesuatu yang berbeda dengan pengalaman dirinya sendiri. Itu tidak dapata dihindari, tetapi harus diperhatikan bahwa penelitian bukan mencari apa yang lain dari yang lain karena belum tentu hal itu berhubungan dengan tujuan penelitian. Berikut beberapa hal penting yang dapat direkam sepanjang observasi berlangsung:
   

     Topik yang menjadi fokus Complete Observation
Topik
Deskripsi Amatan
Pelaku
Deskripsi subjek: tampang, pakaian, penampilan, ciri-ciri khas, khususnya yang mewakili deskripsi umum seusianya.
Bagaimana orang bisa menjadi anggauta kelompok itu?
Persamaan dan perbedaan antar anggauta kelompok.
Bagaimana subjek memperlakukan secara berbeda subyek-subyek lain?
Apa status dan peran subjek?
Aktivitas
Deskripsi peristiwa, tingkahlaku dan aktivitas
Deskkripsi aktivitas peneliti
Gerakan, peta lokomosi dalam periode tertentu
Interaksi, peta saling hubungan dan posisi subjek dalam hubungan itu
Percakapan; siapa yang terlibat dan apa isinya, siapa yang berkuasa dan siapa yang dikuasai
Apa yang dilakukan bersama, dan apa yang dilakukan individual?
Siapa yang berbicarfa dan siapa yang mendengarkan?
Apa sumbangan subjek terhadap peristiwa yang terjadi?
Objek
Peralatan apa yang dipakai dalam kegiatan?
Bahan-bahan yang diproses
Benda-benda yang terlibat dalam kegiatan subjek
Kejadian
Berapa banyak, siapa saja yang ada dalam event itu dan apa perannya
Mana kegiatan yang dilakukan secara rutin, dan mana yang sesekali?
Bagaimana aktivitas itu diorganisasi, diberi label, dievaluasi, dan dijustifikasi?
Siapa yang mengambil keputusan -------untuk siapa?
Apa yang dikatakan, oleh siapa kepada siapa?
Apa yang paling sering muncul sebagai topik bahasan?
Apakah ada komunikasi non verbal? Dari siapa ke siapa?
Bgaimana peristiwa-peristiwa terpisah itu saling berhubungan?
Bagaimana perubahan-perubahan diatur dan stabilitas dipertahankan?
Aturan-aturan apa yang berlangsung di suatu peristiwa?
Apa yang menjadi anteseden suatu peristiwa dan mengapa belrlangsung seperti itu?
Tempat
Deskripsi lingkungan fisik atau peristiwa
Dimana peristiwa itu terjadi, kapan?
Waktu
Berapa lama?
Berapa sering?
Perasaan
Apakah ada konflik antar subyek?
Ekspresi perasaan marah, benci, sedih dll, apakah dilakukan dengan kntrol yang baik?
Bagaimana reaksi kelompok apabila ada anggautan yang emosional?
Bagaimana mengelola kebutuhan perasaan empati dan simpati anggauta?
Tujuan
Apakah riwayat, tujuan, dan nilai-nilai kelompok dapat diamati?

Subyek Penelitian
Penelitian kualiatif tidak mengenal sampling, karena sifat tak-terstruktur juga berlaku bagi subjek penelitian. Ketentuannya hanya “subyek siapapun yang dapat memberi informasi yang diharapkan,” dengan menafikan batas-batas lokasi dan keanggautaan. Misalnya, penelitian nelayan menetapkan daerah nelayan Muncar sebagai sasaran penelitian. Ternyata banyak juragan perahu Mayang yang tinggalnya di Surabaya, bahkan Jakarta. Peneliti mau-tidak-mau harus mengamati subjek yang kekuasaannya dibidang perikanan sangat besar di kota-kota itu. Jumlah subjek yang diteliti (tidak dinamakan sampel, karena memang tidak mewakili populasi secara statistik) tidak ditentukan. Selama peneliti masih belum puas dengan proposisi-proposisi yang ditemukannya, penelitian terus berlanjut, dengan subjek lama maupun subjek baru. Umumnya pertimbangan menghentikan observasi adalah kalau data yang diperoleh sudah jenuh, artinya data yang diperoleh sudah bersifat replikasi, mengulang-ulang data yang terdahulu dikumpulkan.

Pendekatan kualitatif mengenai suatu kasus mungkin sejak awal menentukan penelitian difokuskan pada  kasus seorang subjek A. Ini tidak berarti subjek penelitiannya satu. Data mengenai kasus itu dapat diperoleh dari banyak sumber  yang mengenal Subyek A. Pemilihan sumber informasi yang tepat menjadi kunci dari pendekatan kualitatif, karena pengamatan akan menghasilkan informasi yang kaya. Sebaliknya sumber yang tidak tepat justru akan membawa pengamatan ke tempat yang salah. Ada baiknya membuat deskripsi beberapa tokoh dan calon sumber di lapangan, kemudian berdasarkan deskripsi itu dilakukan penyaringan mana yang akan diamati pertama kali. Analisis situs akan menunjukkan arah pengamatan lebih lanjut, dan pemilihan sumber yang lebih terfokus.

Validitas dan Reliabilitas Data Observasi Tak-berstruktur

Penelitian kualitatif sering tidak mempedulikan validitas dan reliabilitas data penelitiannya, karena sifat penelitian yang cenderung subjektif lebih menekankan pada hasil dan bukan pada proses. Pendapat semacam itu tidak seluruhnya benar, karena untuk memperolah kesimpulan yang adekuat dibutuhkan proses yang jernih. Ada tiga cara memperoleh jaminan validitas data:
1. Observasi unobtrusive: semakin kecil gangguan atau kerusakan yang diakibatkan oleh kehadiran peneliti di lapangan, data semakin valid. Subjek tidak berpura-pura di depan peneliti, mereka tidak melakukan sesuatu yang berbeda dengan kebiasaan selama ini, mereka melakukan kegiatan kesehariannya seperti apa adanya tanpa terpengaruh kehadiran peneliti. Agar dapat memperoleh data yang benar-benar mendalam dan autentik (valid) peneliti melibatkan diri secara total dalam waktu yang lama, agar keberadaannya dipandang sebagai hal yang “biasa,” sehingga subjek juga bertingkahlaku “biasa.”

2. Validasi Responden: Cara sederhana untuk mengetahui ketepatan transkrip adalah dengan membacakan transkrip itu kepada subjek penelitian. Komentar mereka mengenai mengenai tingkahlaku mereka sendiri menjadi bukti apakah pengamatan sudah benar. Subjek validasi hendaknya dipilih yang terbuka dan memiliki pemahaman yang baik mengenai dirinya sendiri. Manakala ditemukan subjek yang tepat, validasi responden akan menghasilkan data yang kaya – sumber itu akan menunjukkan mana informasi yang salah/benar dan mungkin dapat menambah informasi yang belum tercakup. Validasi responden tidak cocok untuk topik-topi penelitian yang sensitif seperti kebijakan institusi/organisasi, masalah pribadi domestik, dan semacamnya. Pelaksanaannya harus ekstra hati-hati, sebaiknya pada akhir sesi observasi gangguan hubungan antara peneliti dengan subjek penelitian tidak menyulitkan proses penelitian secara keseluruhan.

3. Triangulasi: Triangulasi metoda adalah memakai tiga metoda untuk meneliti hal yang sama. Triangulasi waktu adalah melakukan observasi hal yang sama di tiga waktu yang berbeda. Triangulasi subjek adalah mengamati tiga subjek mengenai rumpun tingkahlaku yang sama. Triangulasi observer adalah membandingkan hasil pengamatan tiga observer terhadap subjek atau event yang sama. Semuanya bertujuan melakukan pengecekan rekaman data dan mengurangi subjektivitas. Triangulasi dapat disesuaikan dengan masalah-tujuan dan situasai penelitian, sehingga daya pakainya luas. Nilai validitas yang dihasilkan sangat bagus, setara dengan validasi kriterium pendekatan kuantitatif.    

Reliabilitas observasi seperti pada observasi berstruktur memakai reliabilita tes-retes, tanpa memakai analisis statistik. Dilakukan pengulangan observasi mengenai seorang subjek atau satu event, dan hasilnya dibandingkan. Semakin banyak perasmaan atau kesejajarannya, maka data itu semakin reliabel. Agar pembadingannya kalis dari subjektivitas, yang  melakukan pembandingan dipilih orang yang netral, yang tidak terlibat dengan minat penelitian.

Analisis
Paradigma kualitatif tidak memisahkan secara tegas kegiatan pengumpulan data dengan analisis data. Sesudah data direkam, data itu siap dianalisis disebut analisis di lapangan atau analisis situs. Pendekatan kualitatif memakai data yang direkam sebagai pintu untuk masuk ke dalam ruang masalah yang lebih dalam. Pada pendekatan kuantitatif, ada semacam perpindahan dari fase pengumpulan data ke fase analisis data; analisis dilakukan sesudah semua data terkumpul. Pendekatan kualitatif mengalisis data segera sesudah data itu direkam, disebut analisis situs. Tentu ada pada ujung kegiatan lapangan ada analisis data keseluruhan, yang disebut analisis akhir. Analisis situs mencoba untuk memfokuskan observasi lebih lanjut sebagai berikut:
1.  Apakah ada kejadian yang mungkin berhubungan dengan kejadian yang telah direkam yang luput dari pengamatan?  Apa yang harus diamati berikutnya untuk melengkapi rekaman yang sudah ada? Buat daftar pertanyaan yang menunjukkan kekurangan dari data hasil observasi itu dan tentukan prioritas fokus observasi pada tahap berikutnya.

2. Apakah data rekaman yang ada sudah mewakili kejadian yang sebenarnya? Dimana dan kapan dapat dilakukan pengamatan untuk menguji/mengecek validiatas dan reliabilitas data observasi? Apakah ada sumber atau informan yang dapat menguji keabsahan data itu? Dimana dan kapan dapat dilakukan pengamatan yang hasilnya cenderung berbeda dengan data yang ada?

3. Lakukan abstraksi terhadap data yang sudah ditranskrip, dan tentukan kata kuncinya. Apakah kata kunci itu sudah pernah muncul sebelumnya? Apakah dapat digabung dengan analisis sebelumnya, atau disandingkan untuk melihat persamaan dan perbedaannya?  Apakah dapat dilakukan eliminasi/membuang/mereduksi data yang tidak penting? Seberapa penting kata kunci itu dalam menjawab masalah penelitian?

Analisis situs dalam penelitian kualitatif sangat penting, antara lain untuk terus menerus menarik atensi peneliti terhadap proyek penelitiannya. Catatan>transkrip>analisis yang terus menerus dilakukan dapat menjamin bahwa proses penelitian terus berlangsung dalam kadar ilmiah, bukan kegiatan “kalau ada kesempatan” dan mengandalkan “ingatan.” Contoh berikut tentang Penelitian Kehidupan Pengemis, dilakukan observasi pengemis di satu perempatan jalan selama 10 hari, menghasilkan 60 lembar transkrip, dan 6 lembar analisis situs, sebagai berikut:

No: 03
Pengamatan jam 11.00-12.00
Tanggal : 15 Agustus 2010
Tempat : Perempatan Blimbing
Subjek: Pengemis
Ada tiga pengemis, dua orang perempuan tua dan seorang remaja laki-laki. Perempuan 1 memakai kebaya lengan pendek dari kain bergambar bunga yang berwarna hijau tua, dipadu dengan kain panjang yang sudah lusuh. Cukup menutup tubuh tetapi dipakai sekenanya. Memakai sandal jepit, kakinya kelihatan hitam dan pecah-pecah. Badannya cukup besar, kekar, tidak kurus. Kulitnya menghitam, tetapi wajahnya cukup bersih mungkin karena sering dilap dengan kain selendang yang diikatkan dikepalanya. Begitu lapu merah berhenti dia mulai bergerak menghampiri mobil yang berhenti, selalu di arah jendela sopir. Tanpa kata, tidak mengucapkan kata-kata, mengacungkan tangan, kalau jendela mobil tertutup dia mengetuk pelan. Segera pergi ke mobil berikutnya kalau diberi uang atau diberi tanda oleh sopir yang menganggkat tangan dan melambaikan ke belakang. Pengemis itu bergerak ke arah mobil kedua. Sasarannya mobil pribadi, mobil angkuta dan sepeda motor dilewati tidak diacungi tangan. Di barusan depan, dia bergerak dari mobil satu ke mobil di sampingnya, sesudah tiga mobil di depan dia bergerak ke mobl dibelakangnya dipilih yang berhenti di samping pembatas tengah jalan. Sampai baris ke enam lampu hijau menyala dan dia menghindar dengan berdiri di sela-sela buk marka jalan. Ternyata sesudah lampu merah menyala dia melanjutkan dengan arah yang sama, kesamping 3 mobil dan ke belakang 5 mobil. Sesudah itu, pada waktu lampu hijau dia menepi dan berjalan ke depan. Jadi, dia selalu meminta-minta dari arah depan mobil, tidak dari arah belakang.

Peneliti melakukan penelitiannya dengan menyamar sebagai karyawan toko elektronik di sudut jalan. Ketika sedang melakukan pengamatan, peneliti mencatat hasil amatannya dengan kalimat-kalimat singkat, simbol-simbol yang dia ketahui maknanya untuk mempermudah perekaman. Pengamatan satu jam menghasilkan empat lembar catatan di buku notes kecilnya. Sesudah satu jam, dia masuk ke warung bakso di dekat perempatan itu, dan membuat transkrip pengamatan satu jam itu menjadi 6 halaman folio. Kutipan di atas adalah bagian dari transkripnya. Dirumah transkrip itu kemudian dibaca ulang dan dilakukan analisis situs yang hasilnya sebagai berikut:

Analisis situs Transkrip 03:
1. Pengemis berbadan tegap, tidak kurus, berpakaian tua, lusuh, tetapi tidak kotor
2. Wajahnya tidak memelas, mungkin sedih dan lelah.
3. Pengemis mendatangi mobil dari arah depan
4. Pengemis menjaga keselamatan diri, tidak berada di tengah jalan menjelang lampu hijau menyala
5. Cukup mengacungkan tangan, tidak perlu dengan kata-kata
6. Pengendara sepeda motor tidak di-ngemisi, mungkin merepotkan karena dua tangan pengendara tidak bebas ketika motornya berhenti.
7. Dalam satu kali lampu merah berapa penghasilannya?
8. Dia bekerja berapa jam sehari? Kapan mulai dan berakhirnya?
9. Apakah ada koordinasi antara pengemis satu dengan yang lain?
10. Apakah ada “semacam ijin” dari polisi?
11. Kapan dia makan dan apa yang dimakannya?
12. Apakah ada muatan emosional dalam pengemisan?
Kata Kunci: Pengemis perempuan, Keselamatan mengemis, Mengemis di perempatan jalan   

Dari analisis situs diperoleh kesimpulan masih banyak kekurangan dari data pengamatan, seperti; penghasilan mengemis, lamanya jam praktek mengemis, koordinasi pengemisan, izin mengemis, makan, dan muatan emosional selama melakukan kegiatan. Kekurangan itulah yang harus dilengkapi pada observasi berikutnya. Tentu harus direncanakan pengamatan pada jam yang lebih pagi, agar dapat mengetahui proses kedatangannya, dan observasi pada sore hari ketika dia pulang, Kalau dapat dikuntit sehingga dapat diketahui rumahnya - hasil observasi menjadi lebih sempurna. Kalau menguntit tidak dapat dilakukan, mungkin dapat dipertimbangkan pada akhir sesi observasi dipakai metoda wawancara. Metoda wawancara ini sengaja tidak dipakai sejak awal, karena observasi non-struktural non-partisipan ternyata menghasilkan data yang sangat kaya, benar-benar alamiah dengan validita dan reliabilita yang tinggi. Kalau wawancara dipakai pada awal sesi observasi, bisa terjadi kerusakan situs, seperti: hari kedua dia tidak mengemis di perempatan itu lagi karena takut diwawancarai, atau dia datang dengan pakaian yang lebih bersih (karena malu kepada peneliti), atau sebaliknya pakaiannya lebih kotor (untuk meyakinkan kepada peneliti bahwa dia memang betul-betul miskin), dan perubahan-perubahan lainnya yang membuat peneliti mengamati tingkahlaku yang “dibuat-buat” - data menjadi tidak akurat, tidak valid dan tidak reliabel.

Ada berbagai model analisis observasi kualitatif, salah satunya diusulkan oleh Seidel (1998) yang
Membagi proses analisis menjadi tiga tahapan, Noticing, Collecting and Thinking.
Noticing adalah proses mengenali isi, muatan, dan hal-hal penting yang ada di dalam transkrip. Pengenalan ini sudah dimulai ketika melakukan analisis situs, yaitu dengan mengenali kata kunci dari di dalam transkrip. Satu persatu transkrip dibaca ulang untuk dikenali isinya; tingkahlaku, aktivitas, makna-fikiran-perasaan, partisipasi, seting, konteks, situasi, ciri-ciri subjek, peristiwa, struktur sosial, dan sebagainya – tergantung kepada jenis dan fokus penelitian, kemudian setiap kategori isi diberi kode untuk mempermudah pengelompokan data. Pengategorian bisa disusun bertingkat menjadi taksonomi, ada kategori induk atau kategori besar yang menjadi superordinate dan ada yang menjadi kategori bawahan atau suboerdinate. Cara yang sering dipakai untuk mengembangkan kategori adalah dengan membandingkan isis transkrip satu dengan transkrip lainnya. Gajala atau indikator yang muncul berulang patut dipertimbangkan untuk dipandang sebagai kategori. Ketika sebuah kategori sudah dikodifikasi, bisa terjadi muncul indikator yang berbeda secara konsisten dengan kategori itu. Sifat berbeda yang berulang terjadi itu bisa menjadi kategori baru. Semakin sering suatu kategori muncul, itu berarti kategori itu semakin penting – menjadi kategori axial bahkan menjadi kategori inti yang siap dikembangkan menjadi hipotesa hasil penelitian.

Collecting adalah langkah kedua analisis, yaitu memilih dan mengelompokkan kategori untuk disatukan menjadi sesuatu yang bermakna. Ini mirip dengan mainan potongan gambar, bagaimana menyatukan potongan-potongan itu menjadi sesuatu yang utuh. Penelitian biasanya mempunyai sekurang-kurangnya 3 kelompok kategori (yang berarti akan ada tiga temuan hipotetik), dan pengelompokan potongan informasi itu bisa salah tempat, sehingga harus terus meneur dikaji untuk dilakukan revisi pengelompokan. Data yang tidak terpakai di gugus A, mungkin merupakan bagian penting dari simpulan gugus B, dan setrusnya. Pada mulanya data hasil observasi tampak kacau, tersebar mengenai apa saja, tidak saling berhubungan. Proses collecting menyusun data itu menjadi satu kesatuan makna. Kategoti-kategori dipilah-pilah berdasarkan persamaan tema, persamaan pola proses kejadian,  hubungan sebab akibat, subordinasi, dan alasan atau pertimbanghan lainnya sesuai dengan tampilan datanya.  

Thinking merupakan bagian akhir atau finalisasi temuan penelitian. Fikiran diarahkan untuk memperoleh gambaran yang komprehensif  mengenai informasi hasil penelitian dalam hubungannya dengan tujuan dari penelitian itu sendiri. Pertanyaan besarnya adalah: apakah hasil penelitian dapat menjawab atau memberi pencerahan atau  memecahkan masalah yang diteliti? Apakah tujuan penelitian dapat dicapai?

Fikiran berusaha memakai kumpulan kategori yang telah disusun dalam tema, pola,  hubungan sebab akibat, dan subordinasi, sebagai dasar menyusun hipotesis atau bahkan teori tentang permasalahan yang diteliti.  Disini kreativitas, logika, dan khasanah pengetahuan peneliti mengenai masalah yang ditelitinya berperan penting. Kumpulan kategori menjadi pemicu suatu kesimpulan kreatif, menjadi bukti signifikansi dari proposisi yang diajukan. Uji signifikansi hasil penelitian kualitatif dapat dilakukan dengan peratanyaan sederhana: “Apakah orang lain berpeluang membuat kesimpulan semacam itu tanpa melakukan observasi di lapangan? “  Kalau jawabannya “bisa” observasi dan penelitian secara keseluruhan sia-sia, tidak menghasilkan sesuatu seperti yang seharusnya. Sebaliknya kalau jawabannya “tidak bisa” itu berarti penelitian telah berada di jalur yang benar, penelitian berhasil mengambil kesimpulan yang signifikan. 

Pertimbangan etis 
Meskipun observasi sering mengklaim netralitas dengan menjadi non-intervensionis, ada beberapa pertimbangan etis yang mengelilinginya. Dalam penelitian tebuka jelas subyek tahu bahwa mereka sedang diamati, sedang dalam penelitian rahasia subjek tidak tahu sedang diamati. Penelitian rahasia atau tertutup tampaknya melanggar prinsip informed consent, menyerang privasi subyek dan ruang pribadi, memperlakukan para peserta sebagai instrumental/obyek penelitian dimana peneliti dalam posisi tidak menampakkan  perannya, atau lebih tepatnya menyangkal melakukan penelitian. Namun di sisi lain, ada beberapa bentuk informasi yang secara sah dalam domain publik tetapi akses yang hanya tersedia untuk peneliti rahasia misalnya, informasi mengenai komunitas homoseksual. Penelitian Terselubung mungkin diperlukan untuk mendapatkan akses ke kelompok-kelompok yang terpinggirkan dan stigma, atau kelompok yang tidak bersedia menyetujui permintaan dari seorang peneliti untuk terlibat dalam penelitian. Ini mungkin termasuk kelompok-kelompok dalam posisi sensitif, pengguna dan pemasok narkoba, penderita HIV, aktivis politik, para pelaku penyiksa anak, informan polisi, dan penyerang rasial. Alasan melakukan penelitian rahasia antara lain; menghidari konflik dengan kelompok yang kuat yang beroperasi diam-diam, dapatnya dilakukan penelitian pada topik-topik sensitif tetapi penting, dan untuk mengurangi beban permasalahan teknis yang sulit dalam penelitian -padahal  isu mengenainya sangat menarik. Dalam serangkaian contoh dari penelitian yang dilakukan diam-diam, terbuti bahwa tidak melakukan penelitian rahasia berarti mengingkari akses publik ke daerah-daerah yang menjadi perhatian yang sah, ke kelompok rahasia yang dapat memanipulasi kerahasiaan itu untuk keuntungan mereka, dan menghalangi publik untuk tahu mengenai mengenai kelompok atau situasi yang  kurang dipahami. 

Bahwa penelitian rahasia rentan dengan masalah etik tampak misalnya pada studi tentang sebuah geng, dimana peneliti harus ekstrim tidak 'membuka samarannya' ketika menyaksikan pembunuhan.  Juga  peneliti dihadapkan pada konflik antara kepentingannya sebagai peneliti dan tanggung jawabnya sebagai warganegara, ketika yang bersangkutan meneliti kelompok ekstremis yang ternyata melakukan kegiatan terorisme. Bahka peneliti sendiri mengalami perlakuan yang sangat “kejam” ketika memasuki kelompok  pendaki gunung, di mana keanggotaan kelompok harus mengikuti perploncoan memanjat gunung yang sangat berat dan menyakitkan (peneliti harus menjadi pendaki gunung sepenuhnya untuk mendapatkan penerimaan group). 

Dilema etis sangat banyak, dari ketegangan antara invasi dan perlindungan privasi dengan hak pubil untuk “tahu', antara informed consent dan pelanggaran atas nama kepentingan yang lebih luas dari 
publik, antara observasi yang dangkal/merangsang/tontonan olah raga sampai penelitian sosial penting. Pada masalah dilema antara melindungi individu dan melindungi masyarakat luas, muncul pertanyaan “siapa yang diuntungkan?”' Siapa yang dilayani  penelitian, siapa yang dilindungi penelitian, apakah  lebih baik melindungi kepentingan individu atau lebih baik melindungi kepentingan masyarakat luas, akankah  ancaman penelitian benar-benar merusak atau merugikan orang, atau penelitian akan sedikit  meningkatkan mereka, akankan penelitian memperlakukan subyek secara instrumental dalam kepentingan pengumpulan data penting yang belum diperoleh?  Peneliti tidak dapat menghindar dari kewajiban moral untuk mempertimbangkan, memakai pertimbanghan kode etik, setiap kasus mungkin harus dinilai berdasarkan kepentingannya sendiri. Selanjutnya, isu non-intervensi, penuh masalah. Bahkan observasi non-intervensi bukan sesuatu yang benar-benar bersih, karena para peneliti tinggal dunia yang mereka teliti, membuat mereka mungkin tidak netral. Misalnya, pengawasan sekolah, di mana kehadiran seorang inspektur di kelas memiliki pengaruh kuat terhadap apa yang terjadi, adalah tidak jujur untuk berpura-pura bahwa kehadirannya tidak berpengaruh terhadap proses yang “biasa” terjadi di sekolah. 

Kalau penelitian tanpa intervensi saja masalah etiknya begitu banyak, pada penelitian dengan intervensi ditambah dengan masalah etis dari intervensi itu sendiri. Observasi tingkahlaku tikus dalam eksperimen Maze misalnya, tikus-tikus percobaan harus dibuat lapar, 24 jam tidak makan tidak diberi makan/minum. Apakah intervensi ini etis? Penelitian perasaan takut yang dilakukan Skinner kepada Albert menghasilkan teori: takut tidak dilahirkan tetapi diperoleh dari belajar. Teori ini kemudian berkembang, perasaan-perasaan yang lain seperti marah dan sedih semuanya diperoleh dari beljar. Masalahnya Skinner melakukan intervensi (membuat Albert menjadi ketakutan kepada kelinci), yang kemudaian diintervensi lagi agar ketakutan itu hilang.  (Feist dan Feist, 1998). Intervensi semacam itu sangat tidak etis.

Seorang observer ingin mengetahui bagaimana reaksi para pengemis di perempatan jalan, ketika Satpol PP melakukan pembersihan Gepeng (gelandangan dan pengemis). Kalau mengunggu sampai jadwal pembersihan dilakukan, bisa-bisa penelitian menghabiskan waktu, sehingga dilakukan rekayasa – Satpol PP diminta melakukan pembersihan untuk ditonton reaksi pengemisnya. Diperoleh data yang cukup signifikan – munculnya perasaan marah, sedih, takut silih berganti, usaha untuk meloloskan diri dengan segala cara, sampai-sampai ada pengemis yang tiba-tiba berubah menjadi pedagang asongan menjual madu dalam botol-botol kecil.

Masalahnya bukan pada dampak dari intervensi yang tidak dapat dihilangkan begitu saja.  Ketika peneliti berusaha menebus  “dosa” pelanggaran etiknya dengan mengganti kerugian dua kali lipat penghasilan mereka (uang itu tidak dapat mengganti rasa takut dan stress jantung), masalah pelanggaran etik itu tetap tidak dapat dihapus. Bahkan intervensi yang tampaknya menguntungkan harus dilakukan dengan sangat hati-hati agar tidak berpotensi menimbulkan dampak intangible (dampak yang tidak dapat diduga kapan munculnya di masa yang akan datang). Memberi reinforcement kepada anak yang berperestasi bisa berdampak anak menjadi lebih termotivasi belajar lebih giat atau sebaliknya anak menjadi sombong dan lupa belajar. Bukan berartipenelitiantidak boleh melakukan intervensi, tetapi lebih sebagai peringatan bahwa intervensi rentan dengan pelanggaran etik. 


Kekuatan  dan Kelemahan Observasi Tak-berstruktur (Woods, P. 1999)
Kekuatan:
1. Luluh dengan aktivitas alamah
2. Peneliti memiliki akses ke tempat, peristiwa, dan orang sama seperti subjek yang diteliti.
3. Peneliti memiliki akses ke dokumen yang relevan, termasuk laporan dan catatan rahasia.
4. Memudahkan pemakaian alat bantu rekording (tape-recorde dan kamera)
5. Peneliti bisa “ikut mengalami” yang dapat mempertinggi pemahaman mengenai suatu event

Kelemahan
1. Pada jenis partisipan sebagai observer, biasanya mereka kurang peka dengan “keanehan” di kelompok budayanya, karena hal itu sudah dilakukannya sehari-hari.
2. Pada complete participation juga ada bahaya over-identification sehingga sudut pandang peneliti terpengaruh – cenderung melindungi kelompok barunya. Akibatnya peneliti yang mestinya merekam data-data penting, justru melindungi menyembunyikan data itu (karena pengungkapannya bisa membahayakan eksistensi kelompok). Timbul konflik antara tujuan pribadi dengan tujuan penelitian.
3. Hadir sebagai peneliti complete participation membutuhkan waktu-tenaga-fikiran yang sangat boros, disamping kemampuan penyesuaian diri-pribadi yang tinggi.  
4. Unsur subjektivitas peneliti sulit dipilah dari data



Kepustakan
Adler, P. A., & Adler, P. 1994. Observational techniques. In N. K. Denzin & Y S. Lincoln (Eds.), Handbook          
             of qualitative research (pp. 377-392). Thousand Oaks, CA: Sage Publications.).

Cassidy, J., (2003). Continuity and Change in the Measurement of Infant Attachment: Comment on Fraley
             and Spieker. Journal of Developmental Psychology Vol 39, No 3, 409-412

Feist, Jess dan Gregory Feist (1998). Theories of Personality. Boston: McGraw-Hill Company, Inc

John V. Seidel (1998). Qualitative Data Analysis Qualis Research, Qualis@qualisresearch.com,  
             www.qualisresearch.com

Kerlinger, Asas-asas penelitian behavioral, 2004, Jogjakarta: Gadjahmada University Press.

Wolfgang Kohler (1941) 'On the nature of associations', in Proceedings of the American Philosophical
              Society 84, 1941.
Kompas-Online (1999). Senin 7 Juni 1999. (http://www.kompas.com/kompas-cetak/9906/07/DIKBUD 
Robert Waldl (2004)J.L. Moreno’s Influence On Martin Buber’s Dialogical Philosophy, Miami: ASGPP 
Woods, P. (1999) Successful Writing for Qualitative Researchers, London, Routledge.
Share this article :

0 Komentar:

Post a Comment

Silahkan berkomentar disini walaupun hanya "Hay". Kami akan menghargai komentar anda. Anda berkomentar saya akan berkunjung balik

 
Support : Aris Decoration | Galaxy Young
Copyright © 2014. All in here - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger