Home » » KESENJANGAN

KESENJANGAN

Written By Haris Ahmad on Saturday, November 6, 2010 | 2:15 PM

II. KEMISKINAN
A. Batasan Kemiskinan
Kemiskinan tidak identik dengan kelaparan dan hidup dalam kekurangan. Pada masyarakat di mana sumber kehidupan sangat terbatas, semua orang kelaparan dan kekurangan maka semua anggauta yang mendapat akses ke sumber kehidupan secara adil dapat dianggap semua kaya (atau semua miskin). Kalau aksesnya timpang, akan ada orang yang mengakumulasi sumber, sehingga akan muncul stratifikasi sosial, adfa yang kaya dan ada yang miskin. Jadi kemiskinan adalah situasi yang timbul akibat perbedaan distrinusi sumber kehidupan yang tersedia. Ada tiga batasan kemiskinan:
1). Batasan absolut; Penetapan tingkat ekonomi yang tegas di mana orang yang penghasilannya dibawah tingkat itu dikatakan miskin, di mana batasan itu relatif tidak berubah ketika masyarakat secara keseluruhan menjadi bertambah atau berkurang kekayaannya. Garis kemiskinan itu ditentukan berdasarkan perrhitungan minimal orang untuk dapat makan, berpakaian, bertempat tinggal dan merawat kesehatannya  - semuanya itu untuk menjaga agar yang bersangkutan tetap sehat dan produktif. Penetapan garis kemiskinan dipengaruhi berbagai pertimbangan politik (pemerintah berusaha memperkecil jumlah orang miskin), harga diri (malu kalau negeri banyak orang miskin), atau sebaliknya mengarap belas kasihan (mendapart bantuan/derma karena miskin). Garis kemiskinan yang minimal adalah dengan menghitung berapa harga kecukupan gizi untuk satu orang. Kalau besaran itu sudah ditemukan dikalikan 3 dengan asumsi satu keluarga tertdiri dai suami isteri dan satu anak.   
2). Batasan relatif;  Orang miskin dalam perbandingan relaif dengan standar yang sebagian dibuat oleh gaya hidup masyarakat. Orang yang disuatu tempat dipandang miskin, di tempat lain dengan penghasilan dan gaya hidupnya mungkin sudah termasuk orang kaya.
3). Batasan budaya; kalau difinisi absolut dan relataif memakai pendekatan ekonomi dan gaya hidup, difinisi budaya memandang kemiskinan bukanlah ketimpangan pembagian sumber semata, tetapi lebih pada kegagalan orang untuk mencapai tingkat ekonomi yang lebih tinggi. Orang miskin adalah orang yang mengalami kekurangan secara permanen. Tidak ada orang yang mau atau senang hati menjadi miskin, tetapi mereka memang lahir dalam keluarga miskin bahkan dalam beberapa generasi. Sejak kecil mereka hidup dalam kemiskinan, pendidikan tidak memadai, pengalaman dan ketrampilan tidak berkembang, tidak memiliki akumulasi modal kerja,  sehingga mereka selalu kalah dalam persaingan merebut sumber kehidupan.   
Bank Dunia menetapkan dua tingkatan garis kemiskinan, $ 1 atau $ 2 per kapita perhari, agar dapat membandingkan posisi kemiskinan absolut negara satu dengan yang lain. Kalau memakai standar $ 2, jumlah orang miskin di Indonesia akan mencapai hampir 100 juta orang. Biro Pusat Statistik menentukan garis kemiskinan yang berbeda-beda untuk setiap kabupaten. Angkanya berkisar dari Rp. 225,000 sampai dengan Rp. 457,558 (BPS, 2008).  Memakai ukurang BPS ini, jumlah penduduk miskin sekitar 35 juta orang (17,5% dari jumlah penduduk).
Dari peta pembagian sumber kehidupan, tampak sekali ketimpangan dan ketidak adilan sebagai penyebab kemiskinan. Di Amerika Serikat, 20% kelompo orang terkaya menguasai 49% sumber kehidupan sosial, sedang 20% penduduk miskin hanya kebagian 4%. Di negara lain, ketimpangan semakin terasa, seperti di Brazilia, Zimbapwe, Paraguay, 20 % orang kaya menguasai 60% sumber, sedang 20% miskin hanya kebagian 2% sumber kehidupan.



B. Orang Miskin
1). Bekerja dengan otot: Stigma yang biasa ditempelkan pada orang miskin sebagai pemalas yang tidak mau bekerja keras, tidak sepenuhnya benar. Mereka pekerja keras tanpa mengenal jam kerja, tetapi tetap miskin, karena mereka bekerja dengan otot dan keringat semata. Buruh tani, buruh nelayan, buruh pabrik, buruh konstruksi, buruh pelayan toko, buruh kuli angkut,  pembantu rumah tangga, dan masih banyak lagi buruh kerja-kasar yang semuanya harus bekerja keras dengan penghasilan yang rendah.
2). Rejeki di jalan; Fungsi jalan raya ternyata bukan hanya untuk transportasi, tetapi juga menjadi lahan untuk memperoleh penghasilan bagi banyak orang. Ada pekerja bidang transportasi, seperti sopir becak, sopir/kenek angkuran/bus kota dan pengatur lalu lintas amatir (pak ogah) . Ada pekerja informal yang memanfaatkan orang yang berlalu-lalang di jalan, seperti tukang tambal ban, pedagang asongan (koran, minuman/makanan ringan), tukang parkir, pemulung, dan pedagang kaki lima, . Masih ada kelompok pengais rejeki yang mengharap belas kasihan di jalan raya, yakni pengemis, pengamen dan gelandangan.
Fenomena “rejeki di jalan” menjadi ciri dari kehidupan di kota besar, berhubungan dengan gejala urbanisasi. Kota menguasai sumber kehidupan dan desa miskin sumber , sehingga orang semua pergi ke kota untuk mengais rejeki. Persingan menjadi sangat keras, orang mengerjakan apa saja untuk memperoleh penghasilan berapa saja.
3). Daerah teringgal; Indonesia sebagai negara kepulauan mencakup daerah yang luas dengan spesifikasi yang beerbeda-beda. Masyarakat di Jakarta memiliki gaya hidup seperti kota metropolita dunia, sebaliknya masyarakat di Irian Jaya ada yang hidup seperti di jaman batu.  Secara umum semakin kepinggir (daerah perbatasan) khususnya daerah di Indonesia sebelah timur tingkat sosial ekonomi masyarakat semakin rendah. Jumlah daerah tertinggal cukup besar, yakni 199 dari 457 kabupaten atau 44% kabupaten/kota di Indonesia. Di dalam kabupaten teringgal itu terdpat 20% kecamatan yagn sangat tertinggal. Oleh pemerintah dibentuk Kementrian Daerah Tertinggal untuk menanagani daerah tertinggal ini secara khusus.
Daerah tertinggal adalah daerah yang belum banyak tersentuh pembangunan dan modernisasi, Infrastruktur  (transportasi, enerji-listrik, pendidikan dan kesehatan) seadanya, industri dan ekonomi belum tumbuh. Batasan relatif mungkin tidak memasukkan penduduk tertinggal ini sebagai orang miskin, karena pakaian adalah barang mewah – semua orang di masyarakat itu tidak memakai baju dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi kalau diukur memakai batasa absolut, jelas mereka semua adalah penduduk  miskin.

C. Penyebab Kemiskinan
Perspektif Fungsionalis
1). Stratifikasi; sistem sosial menempatkan orang/kelompok dalam posisi yang mengembang tugas tertentu, ada yang menghasilkan makanan, mendidik anak, membangun rumah, mengobati penyakiut, dan seterusnya. Kalau ada tugas yang tidak dikerjakan, masyarakat itu tidak akan lestari. Masing-masing tugas memiliki tingkat kesulitan dan nilai penting yang berbeda. Ada tugas yang menuntut bakat alam yang langka, tetapi lebih banyak tugas yang menuntut pendidikan lama dan sulit. Orang yang melaksanakan tugas yang penting dan sulit akan memperoleh penghargaan (ekonomik dan sosial) yang lebih. Perbedaan tugas dan konsekuensinya itulah yang menciptakan strata ekonomi/sosial di masyarakat.
Kenyataan di masyarakat sbanyak bertentanagn dengan teori mengenai hubungan antara tugas dengan penghargaan. Sering terjadi penghargaan tidak berkorelasi dengan pentingnya suatu tugas dan besarnya sumbangan terhadap masyarakat. Kalau para buruh merasa kerjanya tidak mendapat imbalan yang sesuai akan terjadi ketidak percayaan terhadap stratifikasi. Terjadi disorganisasi-sosial yang berujung kapada perubahan stratifikasi.
2). Ekonomi; Masyarakat adalah kelompok orang yang saling interelasi dan interdepndensi, di mana perubahan di satu bagian sosaial akan mempengatuhi bagian lain. Kalau penghasilan orang  miskin meningkat, banyak orang memiliki uang untuk membeli barang, sehingga harga menjadi naik, terjadi inflasi. Kalau tidak mau inflasi, jumlah pengangguran dan kemiskinan dibiarkan terus bertambah, dengan kata lain kemiskinan adalah dampak ikutan dari usaha mempertahankan elemen lain (stabilitas) dari ekonomi.
Temuan teknologi baru juga dapat menjadi sumber perubahan ekonomi. Robot dan otomatisasi industri dapat mengurangi jumlah pekerja yang berarti akan menambah jumlah pengangguran. Begitu pula pergerakan jenis industri yang diminati masyarakat akan mengubah perekonomian masyarakat. Perubahan-perubahan semacam itu dibutuhkan agat industri/ekonomi menjadi sehat (biaya produk ditekan serendah-rendahnya), tetapi dampaknya akan menimbulkan pengangguran dan kemiskinan. Ini yang sering dinamakan pengagguran struktural (structural unemployment) karena pengangguran itu teimbul sebagai dampak langsung dari perunahan strukktur ekonomi.
3). Fungsi kemiskinan; Kemiskinan itu ada karena kemiskinan mempunyai fungsi positif bagi masyarakat atau bagi kelompok tertentu dalam masyarakat. Dengan kata lain, masyarakat memperoleh keuntungan dari orang-orang yang miskin,yaitu:
1. Kemiskinan ada agar ada orang yang mau mengerjakan pekerjaan yang kotor, membosankan, bayarannya murah, atau berbahaya, seperti mengangkut sampah, mencuci-menyeterika-mengepel lantai-membersihkan toilet, membersihkan dinding kaca gedung bertingkat, dan menggali kuburan. Orang miskin tidak mempunyai pilihan kecuali bersedia mengerjakan pekerjaan-pekerjaan itu dengan bayaran yang murah.
2. Kemiskinan menyubsidi kelompok kaya. Pekerjaan domestik dikerjakan dengan bayaran yang murah, agar pemilik rumah dapat mempunyai waktu untuk terlibat dalam pekerjaan profesional, aktivitas budaya dan rekreasi.
3. Kemiskinan menciptakan lapangan kerja bagi lembaga atau yayasan untuk mengurusi kemiskinan, dan instasnsi (polisi, satpam) yang menjamin oranh kaya tidak terganggu oleh orang miskin.
4. Kemiskinan menciptakan pasar barang murah, barang afkiran pabrik, barang sisa pakai, dan pasar makanan murah (penjualnya bisa sama-sama miskin bisa penjualnya orang kaya).
5. Orang miskin membatu memberi status simbol kepada orang kaya dengan berperan sebagai pelayan. Orasng kaya menjadi merasa bahagia ketika dirinya “dihormati dan dipuji-puji.” Kalau semua orang kaya dan semua ingin dihormati,  tidak ada yang memperoleh pengormatan dan tidak ada yang berbahagia.   
Perspektif Konflik
Marx memandang perjuangan kelas akan menimbulkan distribusi sumber yang tidak sama, yang kemudian menciptakan sistem stratifikasi di masyarakat modern. Agar memperoleh strata tinggi dalam distribusi yang tidak adil, orang tidak mengandalkan bakat atau posisi pekerjaan yang poenting, tetapi lebih melalui pemaksaan, eksploitasi, dan krturunan. Sekali posisi diperoleh, mereka terus mempertahankannya dari kelompok yang tidak beruntung dengan segala macam cara. Bahkan mereka berhasil membuat hukum berfihak kepada mereka, karena merekalah yang membuat/menulis hukum (tidak ada orang miskin yang menjadi anggauta legislatif).
Menurut Marx orang kaya sekedar memakai kekayaannya untuk mempertahankan posisi kekayannya. Mereka secara halus sering berhasil meyakinkan kelompok miskin, bahwa ketimpangan distribusi sumber kehidupan itu bersifat alamiah, dan menguntungkan semua fihak. Melalui sekolah dan media disugestikan bahwa semua orang dapat sukses kalau mau berusaha keras. Jadi kemiskinan adalah akibat kurang keras bekerja, semuanya karena kesalahan diri sendiri. Pandangan orang dibelokkan dari benteng-benteng srtukturtal yang dipakai orang kaya untuk tetap berkuasa. Kemiskinan adalah masalah pribadi bukan masalah sosial, silahkan berusaha memperbaiki diri sendiri, jangan berkeinginan untuk mengubah struktur stratifikasi dalam sistem sosial.
Seseorang yang sukses memasuki strata yang lebih tinggi, akan mewariskan stratanya kepada anaknya. Ini mempersulit orang lain untuk naik kelas. Perubahan atau gerak orang darti posisi sosialnya ke posisi yang lain dalam tingkatan stratifikasi disebut mobilitas sosial. Pendidikan dapat menjadi jalan pintas orang menaiki jenjang strata yang lebih tinggi. Namun perlu dicatat, bahwa orang kaya mempunyai peluang yang lebih terbuka untuk mendapat pendidikan yang lebih baik, sehingga tetap menutup mobilitas sosial orang miskin.

Perspektif Interaksionis
Interaksionis lebih meusatkan perhatinnya pada elemen subjektif dari realitas sosial – bagaimana orang mendifinisi dirinya sendiri dan peluangnya melalui interaksi sosial dengan orang disekitarnya. Inilah teori analisis kultural mengenai kemiskinan, yang terpusat pada value, sikap, dan orientasi psikologis yang dimiliki kelompok orang miskin. Ide dasarnya adalah orang yang hidup miskin menmgembangkan orientasi kultural yang membantu mereka menyesuaikan diri dengan kondisi kehidupannya sehingga mereka tetap merasa bahagia dalam kadaannya. Orientasi kultrural, keyakinan dan norma yang lama menjadi milik si miskin justru akan membuat si miskin semakin sulit mengentaskan diri dari kemiskinan. Si miskin cenderung semakin terisolir dari pusat kekuatan, pusat pengambilan keputusan sosial, dan kelompok/organisasi yang berpengaruh. Akibatnya, orientasi kultural si miskin menjadi semakin cenderung fatalis dan tak bersaya, merasa tidak mempunyai kontrol terhadap dirinya sendiri. Pengalaman hidup mereka telah mengajari bahwa tanpa usaha diri sendiri masa depan tidak akan berubah menjadi baik (Orcar Lewis, 1966).
William Wilson (1991) mengemukakan, bahwa menganggur berlama-lama akan menyumbang orientasi kultural dalam bentuk perasaan telah gagal mencapai tujuan yang telah direncanakan tanpa celah yang memberi kesempatan bangkit. Orienasi yang membuat mereka putus asa, karena mereka tidak dapat mengontrol nasib dan keyakinannya. Mereka tidak mau berkorban untuk masa depan karena mereka tidak melihat ada hubungan antara usaha sekarang dengan hasil di masa depan. Artinya kemiskinan kemudian membuat si miskin semakin miskin.
Kultural analisis seolah-olah menyalahkan si miskin, menghapa mereka mengembangkan karakter yang merugikan diri sendiri. Kesimpulan itu bukan tujuan dari analisis kultural karena sebenarnya interaksionis ingin menyadarkan masyarakat bahwa kondisi sosial tertentu – diskriminasi, peluang yang langka, isolasi sosial – dapat menimbulkan budaya miskin, dan budaya ini akan memperparah kemiskinan.  Akar maslahnya dalah ketimpangan pembagian sumber kehidupan, yang harus diubah untuk memberantas kemiskinan.
D. Kemiskinan sebagai masalah sosial yang kompleks
Kemiskinan menjadi masalah, karena dapat menimbulkan berbagai kesulitan hidup bagi individu maupun masyarakat. Gaya hidup miskin juga bersifat tidak produktif sehingga dapat menghambat pekembangan budaya manusia. Pada dasarnya masalah sosial adalah masalah yang kompleks, satu maslah berhubungan dengan masalah lain. Ketika terjadi situasi yang menimbulkan keresakah masyarakat, sangat sulit mengurai apa masalahnya, karena masalah yang satu terkait dengan masalah lain, kadang-kadang menjadi sebab kadang menjadi akibat. Kemiskinan akan menimbulkan masalah pendidikan pada anak-anak. Kalau pendidikan buruk, sesudah dewasa mereka akan kalah bersaing memperoleh posisi yang baik di dunia kerja, muncul pengangguran yang membuat generasi yang tetap miskin. Untuk mecukupi kebutuhan minimal-hidup, terjadi tindak kriminal dan pelacuran. Di sisi lain, kemiskinan membuat asupan gizi dan kesehatan terbatas, berakibat produktivitas menjadi rendah. Kalau produktivitas rendah berarti penghasilan juga rendah.  
Share this article :

0 Komentar:

Post a Comment

Silahkan berkomentar disini walaupun hanya "Hay". Kami akan menghargai komentar anda. Anda berkomentar saya akan berkunjung balik

 
Support : Aris Decoration | Galaxy Young
Copyright © 2014. All in here - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger