Home » » PROBLEMATIK SOSIAL

PROBLEMATIK SOSIAL

Written By Haris Ahmad on Saturday, November 6, 2010 | 2:14 PM

I. PENDAHULUAN
A. Batasan
Kehidupan manusia sebagai individu selalu terikat dalam kelompok sosial. Orang membutuhkan lingkungan sosial dalam bentuk ikatan keluarga, pertemanan dilingkungan kerja, kesatuan pandangan politik di sebuah organisasi, dan ikatan kewaganegaraan. Suka atau tidak suka, ketika orang berada di lingkungan sosial akan menghadapi masalah-maslah sosial. Orang akan terlibat dengan masalah sosial, dan orang akan terpengaruh masalah sosial. Rentang masalahnya sangat luas, mulai dari masalah kesenjangan, masalah penyimpangan, masalah perubahan, dan masalah kebutuhan.
Masalah sosial adalah suatu kondisi yang mempengaruhi sejumlah besar orang dalam bentuk-bentuk yang tidak dikehendaki, di mana diarasakan perlu dilakukan sesuatu melalui aksi bersama secara sosial.  
1). Kondisi yang mempengaruhi sejumlah besar orang: berapa jumlahnya agar suatu masalah dapat dikategorikan sebagai masalah sosial, tidak bisa dipastikan, tetapi kalau kalau suatu masalah mempengaruhi “banyak orang” sehingga mereka semua merasakan, membahas (dan menulisnya di media) hal yang sama, maka itu menjadi masalah sosial. Memasuki abad 21, masyarakat dunia memasuki abad informasi di mana media massa menjadi jembatan yang menghubungkan umat manusia di seluruh dunia. Peran koran, majalah, radio, televisi dan komputer/internet sangat dominan dalam membentuk opini masyarakat yang mengangkat suatu masalah menjadi masalah sosial. Itu tidak berarti medialah yang menciptakan masalah. Masalah itu ada, dan pemberitaan media akan menyadarkan masyarakat mengenai keberadaannya. Kalau masalah pribadi yang diberitakan secara luas (bisa karena rekayasa fihak tertentu) padahal masalah itu pada hakekatnya tidak melibatkan “orang banyak,”  pemberitaan itu tidak akan mendapat atensi dan respon yang memadai dari masyarakat.  
2). Dalam bentuk-bentuk yang tidak dikehendaki: Masyarakatlah yang menentukan atau menilai apakah suatu “bentuk yang mempengaruhi” termasuk masalah sosial atau bukan. Nilai itu berbeda antara masyarakat satu dengan masyarakat lain. Nilai itu juga bersifat dinamis, bergerak dan berubah mengikuti gerak perkembangan budaya masyarakat itu sendiri. Bisa terjadi, suatu kondisi dianggap sebagaimasalh sosial yang bsesar, tetapi di masyarakat lain tidak dianggap sebagai masalah. Atau suatu kondisi yang di masa lalu dianggap[ hal yang biasa, sekarang dipandang sebagai masalah sosial.
Aspek umum yang banyak dijadikan kriterium penilaian adalah kerugian masyarakat yang bersifat aktual maupun potensial, yang bersifat material maupun moral/psikologik. Penilaian besarnya kerugian yang ditanggung masyarakat akan menentukan apakah suatu masalah akan tertangkat sebagai maslah sosial.
3).  Dirasa perlu dilakukan sesuatu: Penanda penting dari kepedulian masyarakat mengenai adanya masalah sosial adalah keyakinan bahwa dapat dilakukan sesuatu untuk mengatasinya. Keyakinan itu akan menimbulkan niatan dan kemauan yang kuat untuk melakukan tindakan. Masalah menjadi bukan masalah kalau tidak mengusik kepedulian semua fihak untuk mengatasi masalah itu.
4). Aksi bersama secara sosial: Keterlibatan banyak orang dapat tercermin dari bagaimana masalah itu ditangani.  Situasi yang  mengganggu orang banyak akan membentuk opini masyarakat, sehingga penanganannya akan melibatkan semua orang yang memiliki opini yang sama, menjadi tanggung jawab bersama. Kalau yang mencoba mengatasi masalah hanya satu orang, itu bukan masalah sosial tetapi itu masalah indiividual.
Pemahaman mengenai masalah sosial secara populer banyak yang rancu dan tidak tepat. Kesalahan pemahaman itu dibahas memakai difinisi di atas sebagai acuan, sebagai berikut:
1). Masalah sosial adalah domain pakar ilmu sosial: Masalah sosial itu sangat luas sehingga bahasan dan penanganannya bersifat multidisiplin. Masalah politik luar negeri dan terorisme adalah ranah pakar politik dan keamanan; perpajakan, inflasi dan pengagguran mungkin lebih banyak dibahas pakar ekonomi;  dan dekadensi moral,  kekerasan dalam rumah tangga lebih banyak membutuhkan analisis teori-toeir psikologis.
2). Masalah sosial dimunculkan oleh organisasi sosial dan atau tokoh masyarakat yang disegani: Organisasi sosial dan tokoh masyarakat memiliki banyak pengikut dan mempunyai akses yang luas ke media massa, sehingga mereka mempunyai peluang yang besar untuk membentuk opini masyarakat. Adanya masalah sosial yang bersifat “direkayasa,” biasanya cacat pada keyakinan dan motivasi untuk menanganinya dalam bentuk aktivitas sosial. Organisasi sosial dan tokoh panutan masyarakat bukan dokter yang mendapat legitimasi untuk menyatakan adanya suatu situasi bermasalah sosial.
Rekayasa dalam bentuk diseminasi informasi melalui media massa dan organisasi tidak efektif, kalau situasinya tidak benar-benar melibatkan banyak orang. Sebaliknya kalau situasi bermasalah itu memang benar-benar ada, diseminasi akan membentruk opini masyarakat. Kelompok “takut masalah”  berusaha tidak menimbulkan masalah dengan menghindari publisaitas situasi bermasalah (tidak peduli situasinya benar-benar ada atau tidak ada). Sikap semacam itu justru berbahaya, karena masalah sosial tidak dapat dipecahkan dengan didiamkan (dianggap tidak ada). Kalau tidak segera disadari masalah menjadi semakin parah dan semakin sulit mengatasinya.    
3). Semua orang setuju; Masalah sosial melibatkan banyak orang, tidak berarti semua orang di masyarakat itu setuju. Ada perorangan, kelompok atau fihak yang berpendapat lain. Masalah kemiskinan yang dialami oleh sebagian besar penduduk suatu negeri, mungkin bagi kelompok kaya dianggap sebagai sesuatu yang menguntungkan (karena dapat memperoleh buruh dengan bayaran yang sangat murah).
4). Perilaku menyimpang sebagai masalah sosial: Berbicara mengenai maslah sosial, orang sering langsung memikirkan perilaku menyimpang sebagai penyebabnya, seperti teroris yang tega membunuh orang tidak bersalah, kriminal yag menjarah harta orang lain, dan orang gila yang berkeliaran di jalan. Kenyataannya, orang normal justru lebih banyak menimbulkan masalah sosial, seperti polusi knalpot mobil, pembuangan sampah, dan pola hidup eksklusif.
5). Dipicu oleh orang-orang yang “Jelek”; Masalah sosial sebagai sesuatu yang negatif, merugikan, tentu dipicu oleh orang-orang yang tidak sosial, orang-orang yang jahat/jelek. Kriteria baik atau buruknya seseorang bersifat relatif, sehingga bisa saja seseorang yan dituduh menjadi pemicu timbulnya masalah sosial digambarkan sebagai orang yang “jelek.” Kebijakan pimpinan negara menekan harga beras (dengan mengimpor beras murah) menimbulkan masalah sosial karena merugikan jutaan petani. Bahkan penyebaran atau dakwah agama oleh “orang suci” dapat menimbulkan maslah sosial.
6). Orang senang kalau suatu masalah sosial dapat dipecahkan; Orang yang tidak setuju suatu situasi dianggap sebagai masalah-sosial, tentu tidak senang kalau situasi bermasalah itu diatasi, karena dia akan rugi. Penjual senjata gelap memperoleh keuntungan dari negara yang kacau akibat pemberontakan bersenjata; tentu tidak mengharapkan ada perdamaian yang menghentikan perang.
7). Masalah sosial mudah diatasi/diselesaikan; Hilangnya berita dari media massa tidak berarti masalahnya selesai. Masalah sosial tidak dapat selesai dengan didiamkan atau dilupakan keberadaannya. Perhatian terhadap maslah itu, dengan mempelajari dan memahami ini masalahnya dapat menjadi awal yang baik bagaimana masalah sosial dapt dipecahkan secara efektif. Namun sekedar mengetahui dan memahami saja tidak cukup, karena msalahnya tetap belum terpecahkan. Harus dibuat rencana pemecahan yang pelaksanaannya melibatkan aksi sosial. Salah satu indikator terpecahkannya suatu masalah adalah perubahan institusi sosial yang terlibat dengan masalah itu, baik institusi pemerintah maupun institusi sosial kemasyarakatan. Tanpa perubahan institurional tidak mungkin maslah sosial dapt dipecahkan.  
B. Sikap Terhadap Masalah Sosial
1). Tidak peduli; Sifat individual membuat orang tidak peduli dengan masalah yang tidak melibatkan dirinya. Baru kalau suatu situasi secara langsung mengancam kebahagiaan hidupnya – mengganggu kelancarfan usaha, mengurangi pendapatan, atau mengancam nilai-nilai keyakinannya – sikap      “sadar-masalah” nya mengemuka.
2). Pasrah; Berbeda dengan sikap tidak peduli, pada sikap pasrah sesunguhnya orang menyadari adanya masalah sosial, tetapi masalah dipandang sebagai nasib buruk dan sikap pasif. Orang yang sedang mendapat nasib buruk silahkan bertahan dan menerima nasibnya. Sikap pasrah tidak menolak melakukan sesuatu, tetapi lebih karena fikiran untuk mencoba melakukan sesuatuitu tidak pernah terlintas.
3). Sinis; Sikap sinis menganggap membicarakan maslah sosial hanya membuang-buang waktu. Mereka minta maaf karena lebih mengedepankan interes-pribadi alih-alih memperhatikan masalah sosial. Setiap orang harus menolong dirinya sendiri. Kalau ada yang kelihatannya mau membantu memecahkan masalah sosial, motivasi utamanya adalah memanfaatkan masalah sosial itu untuik kepentingan pribadinya. Tidak ada yang gratis di dunia
4). Religius; Agama umumnya menganggap masalah sosial sebagai cobaan atau hukuman dari Tuhan, karena masyarakat telah berlumuran dosa.  Orang atau masyarakat yang terkena hukuman harus melakukan introsepksi, dan berusaha megentaskan diri dari masalah melalu jalan Tuhan. Sebaliknya orang yang terbebas dari kutukan akan mendapat pahala kalau mau menyantuni mereka yang terkena bencana.  
5). Romantik; Menggunakan pengalaman hidup masa lalunya sebagai kriteria adanya masalah sosial, serta menganggap cara-cara masa lalu sebagai cara terbaik mengatas masalah sosial dewasa ini. Ketika kemerdekaan tidak kunjung memberi kemakmuran bagi rakyat, orang-orang tua justru merindukan aturan dan pola hidup kolonial yang dirasakan lebih adil tertatur dan taat hukum.
6). Ilmiah; Pakar ilmu sosial cenderung menunda penilaian sampai bukti-bukti yang relevan dapat dikumpulkan dan diteliti. Perlu dilakukan pengamatan yang objektif dan cermat mengenai permasalahannya, fakta-fakta yang relevan, nilai-nilai yang terlibat, pilihan kebijakan dan kemungkinan hasilnya. Sulit bagi para ilmuwan untuk berada dalam posisi netral ketika mewacanakan suatu masalah. Interes penguasa politik, kecenderungan kebijakan dan nuansa emosi yang berkembang di masyarakat mau tidak mau akan mempengaruhi orientasi sikapnya.
C. Perspektif teoritik mengenai Masalah Sosial   
Perspektif teoritik memberi asumsi-asumsi dasar mengenai hakekat dan perilaku masyarakat, yang secara umum dapat menjadi sumber analisis yang spesifik. Tiga perspektif akan dipakai menganalisis masalah sosial, yakni prerspektif fungsionalis, konflik, dan interaksionis.
1). Perspektif fungsionalis: Ide fungsionalis diperoleh dari biuologi yang memandang tubuh terbangun dari bermacam-macam bagian – masing-masing bagian itu mengemban fungsi dalam suatu saling tergantung. Apabila satu bagian tidak ber “fungsi” akan mempengaruhi seluruh operasi secarfa biologis, bahkan sampai kematian. Analog dengan kehidupan biologis, masyarakat adalah suatu sistem yang dibangun oleh sejumlah ganian atau elemen yang saling berkaitan, masing-masing elemen mengemban atau menyumbang  fungsi tertentu dari totalitas kehidupan sosial.  Semua elemen terikat dalam hubungan saling tergantung, dan tetap berfungsinya setiap elemen menjamin kelangsungan kehidupan masyarakat itu sendiri. Saling hubungan itu diatur dalam penjanian antar elemen dalam acuan sistem  adat, moral, etik, hukum.
Dalam sistem yang saling tergantung, kalau terjadi perubahan dari suatu elemen akan mempengaruhi elemen lain, bahkan pada perubahan yang radikal akan mengubah konfigurasi seluruh elemen dan fungsinya. Setiap elemen pada dasarnya mengemban dua fungsi, yakni fungsi manifes dan fungsi laten. Fungsi manifes adalah hasil yang menjadi  tujuan utama dari suatu institusi, sedang fungsi laten adalah dampak ikutan dari proses itu.  Institusi sekolah misalnya mempunyai fungsi manifes menderdaskan anak didik, meyiapkan mereka menjadi genearasi penerus bangsa. Funsgi latennya banyak, misalnya sekolah menunda usia perkawinan sehingga dapat menghambat laju pertambahan penduduk.
Perspektif fungsinalis mementingkan berlangsungnya kehidupan sosial yang stabil, sehingga cenderung menolak dinamika perubahan fungsi setiap elemen. Pendekatan ini bisa dipandang tidak adil karena fungsi elemen berdampak kepada balikan yang diterima elemen itu berupa kekuatan, kekuasaan serta keculupan ekonomik. Elemen yang memperoleh balikan “kurang” akan merusaha mengubah diri agar medapat balikan “lebih.” Kalau tuntutannya tidak mungkin terpenuhi bisa jadi elemen menjadi disfungsi, menolak memberi sumbangan positif, atau sebaliknya memberi sumbangan yang negatif.  Urbanisasi disatus sisi berfungsi menyediakan tenaga kerja di berbagai bidang industri, tetapi menjadi disfungsi ketika menimbulkan banyak pengangguran dan kemiskinan.
2). Perspektif konflik: Teori yang menekankan adanya pemaksaan, dominasi, konflik dan perubahan di masyarakat sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari. Masyarakat dibangun oleh kelompok-kelompok yang berbeda-beda, setiap kelompok itu berjuang-bersaing merebut sumber sosial yang jumlahnya terbatas, yakni uang, kekuatan, prestise, atau berebut kekuasan untuk menentukan nilai seseorang di masyarakat.  Karl Marx mengemukakan dasar dari konflik adalah perbedaan kelas sosial. Ada dua kelas utama, yakni kals proletar (pekerja), dan kelas borjuis (majikan, pemilik pabrik). Dua kelas ioni terus menerus berjuang meningkatkan posisinya dalam masyarakat. Pekerja berusaha memperoleh penghasilan lebih dan kontrol terhadap pekerjaannya, sebaliknya majikan berusaha memperoleh keuntungan lebih dengan menekan biaya buruh dan membuat buruh bekerja lebih lama. Menurut Marx, konflik itu tidak terdamaikan, karena keuntungan di kelompok satu berarti kerugian bagi kelompok lawanya. Kelompok yang menang akan dapat mendominasi dan menekan kelompok lawannya.
Konflik dapat menjalar bukan saja antra kelas, tetapi uga antar kelompok di dalam kelas tertentu,dilatar belakangi oleh minat dan tujuan kelompok-kelompok kecil yang salng berbeda. Perbedan agama, keyakinan, nilai, dan perbedaan interes antar kelompok dapat memicu terjadinya konflik.   Kelompok yang berkuasa dan memperoleh keuntungan dari kebijakan dan aturan sosial yang berlaku saat itua disebut verted interest group. Kelompok ini berusaha untuk mempertahankan situasi sekarang dan denan menolak perubahan, akan berhadapan dalam konflik yang keras dengan kelompok berusaha mengubah dan merebut kekuasaan.
Teori konflik berpendapat, masalah sosial akan timbul ketika sekelompok orang merasa interesnya tidak terpenuhi atau tidak memperoleh bagian sumber secara memadai, berjuang mengatasi apa yang dianggapnya hal yang merugikan. Teori konflik sangat mementingkan adanya perbedan dan cendeung tidak mengakui pentingnya stabilitas yang dibangun berdasdarkan konsensus antar kelompok masyarakat.
3). Perspektif interaksionis; Menggambarkan bagaimana proses sosial membentuk tingkahlaku, fokusnya pada interalsi sosial sehari-hari antar individu, alih-alih interaksi struktur sosial yang luas seperti politik, pendidikan, dan semacamnya (Blumer, 1962, Hewitt, 2000). Interaksionis memandang masyarakat terbentuk oleh individu-individu yang saling beinteraksi satu dengan yang lain, sehingga untuk memahami masyarakat harus difahami interaksi sosial. Melalui interaksi kelompok, greup, organisasi, dan masyarakat secara seutuhnya diciptakan, dipelihara, dan diubah/dikembangkan.
Dasar interaksi sosial adalah interpretasi atau pemahaman seseorang mengenai tingkahlaku orang lain. Proses memahami dan menginterpretasi itu tergantung kepada kemampuan individu untuk memakai simbol, dan bahasa menjadi simbol utama dalam berinterakasi.
Perspektif interaksionis berpendapat, problema sosial muncul ketika beberapa kondisi sosial dianggap oleh kelompok yang berpengaruh sebagai noda atau angcamanaterhadap nilai-nilai mereka, dan mengganggu situasi yang normal. Pandangan inerkasionis menekankan interaksi tatap muka dalam membentuk realitas sosial, sehingga cenderung mengecilkan peran institusi sosial (misalnya agama dan politik) sebagai pembentuk tingkahlaku,.  
Ringkasan Perspektif Sosiologis

Fungsionalisme
Teori Konflik
Interaksionosme
Pandangan mengenai masyarakat
Suatu sistem yang semua elemennya saling berhubungan dan saling tergantung
Tersusun oleh kelompok-kelompok yang saling berebut sumber sosial yang langka
Intreaksi tatap mukan antar individu menciptakan konsensus sosial
Pandangan mengenai individu

Manusia dibentuk oleh masyarakat untuk melaksanakan fungsi penting bagi masyarakat
Manusia dibentuk oleh posisi dari kelompokknay dalam masyarakat
Manusia adalah simpol manipulator yang menciptakan dunia sosialnya melalui interaksi sosial dan konsensus
Pandangan mengenai perubahan sosial
Sistem sosial cenderung menolak perubahan dan memandangnya sebagai perusak
Perubahan adalah sesuatu yang tidak dapat ditolak dan terus menerus terjadi
Perubahan terjadi ketika tidak ada konsensus mengenai tingkahlku yang diharapkan, dan konsensus baru harus ditemukan
Pandangan mengenai masalah sosial
Disebabkan oleh aktivitas yang disfungsi atau diorganisasi dari sistem sosial
Timbul ketika interesnya tidak terpenuhi dan berusaha mengatasi kerugian yang dirasakannya.
Timbul ketika suatu keadaan dianggap cacat atau merusak kehidupan sosial yang normal
Konsep kunci
Integrasi, interdependen, stabilitas, ekuilibrium
Interes, power, dominasi, konflik, coercion
Interpretasi, konsensus, harapan bersama, pembentukan realitas sosial.

Share this article :

0 Komentar:

Post a Comment

Silahkan berkomentar disini walaupun hanya "Hay". Kami akan menghargai komentar anda. Anda berkomentar saya akan berkunjung balik

 
Support : Aris Decoration | Galaxy Young
Copyright © 2014. All in here - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger