Home » , » Tinjauan Umum Pasar Uang Internasional

Tinjauan Umum Pasar Uang Internasional

Written By Haris Ahmad on Friday, January 14, 2011 | 11:21 AM


Bisnis internasional dipermudah oleh pasar keuangan internasional yang menyebabkan perdagangan valas dan aliran modal berjalan lancar antarnegara. Bab ini akan menguraikan dampak ketidaksempurnaan pasar, berbagai pasar keuangan internasional dan peranannya dalam memperlancar bisnis internasional. Transaksi yang berasal dari bisnis internasional menyebabkan uang mengalir dari satu negara ke negara lain.

• Kajian Teori : Ekuilibrium di Pasar Uang
- Fungsi permintaan uang agregat Md=P x F(R,Y) atau Md/P=F(R,Y), dimana F(R,Y) adalah permintaan akan sejumlah daya beli. Md/P merupakan sejumlah uang untuk membeli sekeranjang komoditi yang dibutuhkan yaitu sama dengan jumlah daya beli likuid yang dibutuhkan oleh masyarakat tersebut.
- Fungsi penawaran uang Ms/P=F(R,Y). Ms diatur secara tetap oleh bank sentral, sedangkan pengaruhnya diabaikan.
- Keseimbangan dipasar uang adalah Md=Ms. Pasar selalu bergerak menuju suku bunga dimana penawaran uang riil jika pada awalnya terjadi kelebihan penawaran uang. Suku bunga segera turun, sedangkan pada awal terdapat kelebihan permintaan uang, suku bunga akan meningkat.
-
• Dampak Ketidaksempurnaan Pasar
Di kebanyakan pasar keuangan domestik, kebutuhan akan dana pinjaman dan pembiayaan disediakan oleh kreditor atau investor dalam negara yang sama. Pada suatu titik ekstrem di mana transaksi internasional sama sekali dilarang, kreditor dan investor akan dipaksa untuk menyalurkan dananya di dalam negeri.
Pada titik ekstrem yang lain, keberadaan pasar sempurna tanpa hambatan (termasuk tiadanya biaya transaksi atau pajak) di pasar keuangan dan pasar kekayaan riil (properti) akan menyebabkan kreditor dan investor melakukan transaksi dalam suatu pasar tunggal dan terintegrasi. Dalam kondisi ekstrem semacam Ini, pasar keuangan akan berintegrasi secara internasional sampai suatu tingkat di mana tidak ada satu peluang pasar yang hanya khusus ada di suatu negara. Adanya pasar kekayaan riil yang terintegrasi sempurna akan menyebabkan siklus ekonomi di semua negara akan bergerak dalam arah yang sama.
Fakta menunjukkan bahwa konfigurasi dari pasar keuangan internasional berada di antara kedua titik ekstrem semacam itu. Beberapa rintangan menghambat pasar kekayaan riil dan finansial untuk menjadi terintegrasi secara penuh, seperti perbedaan pajak, bea masuk, kuota, ketidakleluasaan tenaga kerja untuk berpindah, perbedaan budaya, perbedaan laporan keuangan, dan biaya mentransfer informasi yang substansial antar negara. Meskipun demikian, rintangan-rintangan ini dapat pula menciptakan peluang yang unik bagi pasar tertentu sehingga menarik kreditor dan investor internasional. Sebagai contoh, rintangan seperti bea masuk, kuota, dan ketidakbebasan tenaga kerja untuk berpindah dapat mengakibatkan kondisi ekonomi suatu negara menjadi demikian berbeda dengan negara lain. Investor dan kreditor mungkin saja melakukan bisnis di negara tersebut untuk memanfaatkan kondisi unik tapi menguntungkan dari negara tersebut.

• Motif Melakukan Investasi Internasional
Dengan konfigurasi pasar keuangan yang tidak sempurna, sekarang mari kita simak beberapa motif umum bagi investor dan kreditor untuk memasuki pasar keuangan internasional. Motif ini terbukti telah mendorong internasionalisasi pasar keuangan.

• Motif Investor Melakukan Investasi di Pasar Internasional
investor biasanya mempunyai satu atau lebih motif-motif di bawah ini dalam melakukan investasi di pasar internasional :
 Kondisi perekonomian: Perusahaan-perusahaan di negara tertentu biasanya mengharapkan kinerja lebih menguntungkan dengan beroperasi di negara lain. Misalnya, dilonggarkannya hambatan-hambatan di negara-negara Eropa pada akhir dasawarsa 1980-an terbukti menciptakan kondisi perekonomian yang menguntungkan bagi Jerman Barat, karena konsumen di Jerman Timur diperbolehkan membeli lebih banyak produk dari Jerman Barat. Kondisi semacam itu menarik minat investor asing dan kreditor untuk membeli surat berharga di Jerman Barat.
 Harapan terhadap kurs valas: Kebanyakan investor membeli surat-surat berharga dalam mata uang yang nilainya diharapkan mengalami apresiasi terhadap mata uang negara si investor. Dari perspektif investor asing, kinerja investasi semacam itu amat tergantung dari pergerakan nilai mata uang.
 Diversifikasi internasional: Investor besar kemungkinan memperoleh manfaat dari diversifikasi kekayaan portofolionya secara internasional. Bukti empiris menunjukkan bahwa pengurangan resiko dalam jumlah yang substansial dapat terjadi akibat diversifikasi internasional. Manfaat berupa pengurangan resiko dapat dijelaskan dengan perbedaan kondisi ekonomi antar negara, sehingga seluruh portofolio seorang investor tidak hanya semata-mata tergantung pada kondisi perekonomian suatu negara. Selain itu, akses terhadap pasar luar negeri juga memungkinkan investor untuk menanam modal pada lebih banyak kelompok industri yang mungkin tidak tersedia banyak di dalam negeri. Ini sering dialami oleh investor yang tinggal di negara yang perusahaan-perusahaannya relatif terkonsentrasi pada sejumlah kecil industri saja.

• Motif Kreditor Menyediakan Kredit di Pasar Internasional
Kreditor biasanya mempunyai satu atau lebih motif-motif di bawah ini dalam menyalurkan kredit di pasar internasional:
 Tingginya suku bunga internasional: Banyak negara mengalami kekurangan dana yang dapat dipinjamkan, yang pada gilirannya menyebabkan suku bunga domestik relatif tinggi. Kondisi semacam ini akan mendorong kreditor asing untuk berupaya memanfaatkannya dengan menawarkan modal ke pasar negara tersebut. Suku bunga domestik yang tinggi sering mencerminkan tingginya harapan inflasi di negara tersebut. Karena inflasi dapat mengakibatkan depresiasi mata uang lokal terhadap mata uang lain, tingginya suku bunga di negara tersebut mungkin saja ditutup dengan melemahnya mata uang lokal selama periode tertentu. Kendati hubungan antara inflasi yang diharapkan dan pergerakan mata uang domestik tidak selalu tepat (karena tentu ada faktor lain yang mempengaruhi pergerakan nilai mata uang), para kreditor yakin bahwa keuntungan suku bunga di suatu negara tidak akan hilang akibat depresiasi mata uang lokal selama periode tertentu.
 Harapan terhadap kurs valas: Kreditor biasanya mempertimbangkan untuk mensuplai modal kepada negara-negara yang mata uangnya diharapkan mengalami apresiasi terhadap mata uang negara si kreditor. Apa pun bentuk transaksi yang dilakukan berupa obligasi atau pinjaman internasional, kreditor akan untung bila nilai mata uang yang mendenominasi transaksinya menguat dibanding mata uang negara si kreditor.
 Diversifikasi internasional: Para kreditor dapat memperoleh keuntungan dari diversifikasi internasional, yang mengurangi kemungkinan bangkrutnya peminjam pada saat yang bersamaan. Efektifitas dari strategi semacam ini tergantung dari korelasi kegiatan ekonomi antar negara. Diversifikasi antar negara akan kurang efektif bila negara yang bersangkutan cenderung mengalami siklus bisnis yang kurang lebih sama.

• Motif Berburu Dana di Pasar Internasional
Sama seperti investor dan kreditor yang mempertimbangkan pasar keuangan internasional dalam mengalokasikan dananya, perusahaan dan pemerintah juga mempertimbangkan pasar keuangan Internasional sebagai salah satu sumber dananya.
Peminjam biasanya mempunyai satu atau lebih beberapa motif berikut ini ketika meminjam dari pasar internasional:
 Suku bunga rendah: Beberapa negara mengalami kelebihan suplai dana dibanding permintaannya sehingga suku bunga relatif rendah. Rendahnya suku bunga di pasar internasional akan menarik para peminjam untuk berupaya meminjam dana dari para kreditor di negara tersebut. Namun, suatu negara dengan suku bung? relatif rendah sering mengalami laju inflasi yang rendah pula. Karena perbedaan inflasi semacam ini dapat menimbulkan dorongan ke atas terhadap nilai mata uang asing, setiap manfaat bagi peminjam dalam bentuk suku bunga yang rendah dapat dihilangkan dengan menguatnya suatu mata uang. Nilai mata uang asing yang dipinjam ketika dikonversi ke dalam mata uang lokal akan menjadi lebih rendah nilainya dibanding ketika digunakan untuk membeli kembali mata uang asing tersebut untuk membayar pinjaman. Kendati demikian, dalam praktik hubungan antara perbedaan inflasi yang diharapkan dan pergeseran mata uang tidak selamanya sesuai dengan “teori”. Akibatnya, banyak peminjam memilih meminjam dari pasar yang suku bunganya rendah karena mereka tidak mengharapkan pergerakan mata uang akan menuju arah yang tidak menguntungkan.
 Harapan kurs valas: Peminjam, yang mengharapkan suatu kurs mata uang asing akan mengalami depresiasi, kebanyakan mempertimbangkan untuk meminjam valuta asing tersebut dan mengkonversinya ke dalam mata uang lokal. Tentunya para peminjam tersebut juga mengharapkan kurs valas ketika dikonversi ke dalam mata uang lokal melebihi kurs ketika membeli kembali valas tersebut untuk membayar pinjaman.
Di Indonesia, arus globalisasi dan gelombang deregulasi, secara simultan maupun terpisah, telah mempercepat integrasi sektor keuangan Indonesia dengan pasar uang dan modal internasional. Salah satu indikasi kuat mengenai hal Ini adalah meningkatnya kegiatan pinjaman offshore (“pinjaman lepas pantai” atau “pinjaman luar negeri”) yang dilakukan oleh badan-badan usaha Indonesia. Lonjakan tajam pinjaman offshore oleh badan usaha Indonesia terjadi pada tahun 1990, yang mencapai komitmen 5,6 miliar dolar AS. Boediono (1991) men-catat bahwa bank-bank pemerintah merupakan peminjam terbesar dibanding bank-bank swasta, LKBB (Lembaga Keuangan Bukan Bank) dan perusahaan non keuangan selama 1989-1990.
Yang menarik, sejak krisis ekonomi merebak mulai Juli 1997, se-makin jelas bahwa konglomerat Indonesia bukan lagi merupakan aset nasional tetapi lebih menjadi utang nasional. Betapa tidak. Kajian Pusat data Bisnis Indonesia menunjukkan bahwa: (1) terdapat 10 debitur terbesar yang menyerap Rp. 51,9 triliun atau 39,7% total utang perbankan; (2) terdapat 100 grup di mana 80 grup di antaranya memiliki utang di alas Rp. 100 miliar, bahkan dari jumlah tersebut ada 31 grup konglomerat dengan utang di atas Rp 1 triliun (Sindhunata & Reni, 1998). Sebagai ilustrasi, Tabel 6.1. menyajikan rangkuman total pinjaman (loan) dan pinjaman dalam bentuk valas (loan in forex) dari 100 grup bisnis di Indonesia.

Tabel. 1. 100 Pengutang Terbesar Menurut Grup Bisnis : Indonesia, 1997

No. Group Total Pinjaman
(In IDR After Conversion) % Pinjaman dalam Valas
(USD) Rank %
1. Sinar Mas 17,403,983,953,702.0 12.32 3,704,992,279.4 1 14.46
2. Salim 12,708,113,683,447.5 9.00 2,323,006,019.0 2 9.07
3. Astra 10,096,126,613.288.7 7.15 1,866,930,424.6 3 7.29
4. Gajah Tunggal 9,693,849,818,493.0 6.86 1,482,365,766.1 5 5.79
5. State Owned 8,912,695,673,922.0 6.31 1,783,776,887.9 4 6.96
6. Tirtamas 5,361,425,217,164.0 3.79 1,092,751,721.0 6 4.27
7. Ometraco 5,151,817,252,292.5 3.65 864,207,976.7 7 3.37
8. Bakrie 4,150,524,565,203.0 2.94 744,395,947.8 8 2.91
9. Lippo 3,507,019,785,132.0 2.48 451,960,551.1 11 1.76
10. Texmaco 2,980,582,533,059.0 2.11 336,624,364.4 17 1.31
11. Bimantara 2,925,194,687,200.0 2.07 440,348,137.7 13 1.72
12. Foreign 2,836,795,177,000.0 2.01 654,951,236.6 9 2.56
13. Dharmala 2,581,415,315,000.0 1.83 388,210,594.5 15 1.52
14. PSP 2,411,265,530,600.0 1.71 223,108,035.8 26 0.87
15. Mulia 2,253,626,503,000.0 1.60 447,500,000.0 12 1.75
16. Barito 2,243,589,950,450.0 1.59 481,094,613.0 10 1.88
17. Gunung Sewu 1,992,422,848,000.0 1.41 337,922,135.9 16 1.32
18. Central Pertiwi 1,963,430,228,847.0 1.39 416,882,931.2 14 1.63
19. Apac 1,848,798,951,178.0 1.31 229,823,547.9 25 0.90
20. Jababeka 1,843,956,807,987.0 1.31 307,472,647.4 19 1.20
21. Kalbe 1,608,710,076,911.5 1.14 330,789,146.5 18 1.29
22. Argo Manunggal ,506,324,888,750.0 1.07 287,142,729.8 21 1.12
23. Drasindo ,395,000,000,000.0 0.99 300,000,000.0 20 1.17
24. Infiniti ,347,521,716,127.0 0.95 285,370,073.9 22 1.11
25. Fajar Surya ,193,567,463,376.0 0.84 250,352,474.5 23 0.98
26. Modem ,165,378,515,150.6 0.82 127,377,976.0 41 0.50
27. Pakuwon ,129,261,677,863.0 0.80 144,312,457.3 36 0.56
28. Akira .112,068,198,000.0 0.79 239,154,451.2 24 0.93
29. Dirgahayu ,092,687,042,193.0 0.77 201,691,987,7 27 0.79
30. Medco ,081,107,438,693.0 0.77 172,675,323.0 30 0.67
31, Ciputra 1,066,171,129,715.0 0.75 119,926,640.0 43 0.47
32. Sekar 871,760,260,500.0 0.62 110,699,562.9 45 0.43
33. Sampoerno 860,521,787,838.0 0.61 179,348,472.9 28 0.70
34. Slerad 846,667,939,371.0 0.60 174,120,382.3 29 0.68
35. Ongko 833,338,220.450.0 0.59 154,812,405.0 34 0.60
36. Eterindo 782,890,886,929.0 0.55 166,949,693.0 31 0.65 ;
37. Bukaka 781,989,095,965.4 0.55 153,681,161.6 35 0.60
38. Wicaksana 765,509,410,576.0 0.54 160,300,000.0 32 0.63
39. Batara Indra 749,359,671,711.0 0.53 156,763,385.0 33 0.61
40. Gudang Garam 705,162,142,552.0 0.50 97,360,693.0 48 0.38
41. Artha Graha 703,094,000,000.0 0.50 138,286,236.6 40 0.54
42. Rodamas 676,422,891,320.8 0.48 140,736,105.7 38 0.85
43. Jan Dannadi 660,305,000,000.0 0.47 142,001,075.3 37 0.55 |
44. Areeto 652,743,469,470.0 0.46 140,374,939.7 39 0.55
45. Surya Dumai 598,076,247,540.0 0.42 80,772,518.9 52 0.32
46. Sucaco 577,049,431,391.0 0.41 123,961,075.3 42 0.48
47. Bina Surya 543,587,186,650.0 0.38 112,808,440.5 44 0.44
48. Suryamas 531,381,593,201.0 0.38 102,503,867.0 46 0.40
49. Summarecon 529,293,552,909.0 0.37 74,022,484.5 56 0.29
50. Tigaraksa 513,156,494,465.0 0.36 81,174,856.3 51 0.32
51. Maspion 482,182,886,673.0 0.34 102,150,625.0 47 0.40
52. Jaya 464,841,303,000.0 0.33 19,371.569.5 79 0.08
53. Mayapada 425,656,747,573.0 0.30 77,860,749.6 53 0.30
54. Tunas Ridean 415,266,976,715.0 0.29 75,851,967.0 54 0.30
55. Tempo 412,877,972,000.0 0.29 85,316,572.7 50 0.33
56. Prasidha 406,405,366,173.0 0.29 71,717,052.0 57 0.28
57. Davomas 364,252,515,500.0 0.26 69,516,670.0 58 0.27
58. Indo Suntex 359,442,547,437.0 0.25 75,804,848.9 55 0.30
59. IKM 353,681,477,274.0 0.25 36,891,395.7 70 0.14
60. Humpusa 344,949,835,000.0 0.24 86,897,045.8 49 0.34
61. Karwell 282,740,503,750.0 0.20 60,698,853.9 59 0.24
62. Fikasa Raya 277,309,090,974.0 0.20 59,636,363.7 60 0.23
63. Mayora 269,892,438.353.0 0.19 58,041,384.6 61 0.23
64. Napan 264,669,862,786.0 0.19 56,595,669.4 62 0.22
65. Varia 263,435,638,965.0 0.19 56,159,460.3 63 0.22
66. Hero 250,594,184,745.0 0.18 46,473,081.0 65 0.18
67. Great River 244,073,845,440.0 0.17 42,849,391.3 67 0.17
68. Sungai Budi 237,458,284,254.0 0.17 49,111,011.0 64 0.19
69. Sahid 232,897,277,300.0 0.16 46,429,522.0 66 0.18
70. Winner 225,571,398,400.0 0.16 22,973,317.0 76 0.09
71. VokssI 203,891,386,588.0 0.14 41,015,888.5 69 0.16
72. Multifortuna 194,747,567,658.0 0.14 41,881,197.3 68 0.16
73. Lautan Luas 170.003,259,859.0 0.12 34,268,000.0 71 0.13
74. Jayakarta 151,027,779,250.0 0.11 27,400,382.6 74 0.11
75. Panasia 147,816,428,145.0 0.10 31,788,479.2 72 0.12
76. Alflndo 139,028,263,019.0 0.10 29,710,358.0 73 0.12
77. Kallmanis 122.064,360,000.0 0.09 26,260,400.0 76 0.10
78. Ultrajaya 118,003,545,756.0 0.08 10,949,632.6 86 0.04
79. Antara 111,463,346,687.0 0.08 21,800,000.0 77 0.09
80. Batasan 102,906,423,246.0 0.07 20,389,350.0 78 0.08
81. Kita 89,859,917,072.0 0.06 17,795,424.0 80 0.07
82. Bhakti 83,399,312,789.0 0.06 683,935.5 98 000
83. Asia Intiselera 73,367,386,826.4 0.05 14.599,771.3 81 0.06
84. Kedaung 70,845,263,910.0 0.05 6,168,419.4 91 0.02
85. Indospring 67,355,581,381.0 0.05 14,485,071,3 82 o.oe
86, Gesit Maju 64,438,107,000.0 0.05 13,650,899.4 83 0,05
87. Risjad 59,216,354,006.0 0.04 12,631.474.0 84 005
88. Perdana 56,331,076,980.0 0.04 11,150,605.1 85 0.04
89. Gunung Agung 50,612,657,735.0 0.04 7,196,7776 90 0.03
90. Ristia 42,838,596,470.0 0.03 0.0 103 0.00
91. Yakin 41,850,000,000.0 0.03 9,00,000.0 87 0.04
92. Batik Keris 41,183,619,452.0 0,03 2,630,210.9 96 0.01
93. Indocan 41,081,643,413.0 0.03 1,529,021.5 97 0.01
94. Aqua 37,175,935,313.0 0.03 7.624,855.9 88 0.03
95. Soedarpo 35,214,458,341.0 0.02 6,024,455.0 92 0.02
96. Roda Vivatex 35,156,297,913.0 0.02 7,383,074.8 89 0.03
97. ADR 30,511,340,000.0 0.02 0.0 99 0.00
98. Imora 27,818,500,000.0 0.02 5,982,473.1 93 0.02
99. Nipsea 25,299,533,473.0 0.02 3,400,00.0 95 0.01
100 Centris 18,749,000,000.0 0.01 0.0 100 0.00
Lainnya 2,500,294,139,054.4 1.77 460,046,668.0 1.80
Jumlah 141,278,496,758,233.0 100.00 25.615,579,806.2 100.00


Transaksi internasional semakin diperlancar dengan tumbuhnya berbagai pasar keuangan internasional. Tabel. 1 menyajikan ilustrasi yang merangkum berbagai jenis pasar keuangan internasional beserta masing-masing jenis transaksinya. Masing-masing pasar ini mempunyai spesialisasi yang berbeda dalam fungsinya sebagai perantara unit ekonomi yang memiliki kelebihan dana (surplus units) dan unit ekonomi yang kekurangan dana (deficit units).

• Pasar Modal Internasional
Pasar modal internasional melayani transfer dana jangka panjang dalam wujud investasi ekuiti (equity investment). Pertumbuhan yang mengesankan dalam transaksi saham internasional sebagian besar diakibatkan oleh adanya international mutual funds. Yang terakhir ini, selain memiliki lebih banyak informasi mengenai perusahaan-perusahaan asing, juga mempunyai akses yang lebih mudah ke pasar internasional dibanding investor individu. Dengan demikian, mereka dapat mengumpulkan dana dari investor individu untuk menciptakan suatu portofolio saham internasional.

• Dampak Melonjaknya Transaksi Internasional
Melonjaknya volume transaksi internasional di pasar aset finansial dan riil telah mendongkrak transaksi di pasar valuta asing (valas) secara substansial. Laju perputaran (turnover) valas diperkirakan oleh Rybczynski (1988) melebihi $400 miliar, dengan perincian 2,5% untuk membeli barang dan jasa, dan 97,5% untuk membeli aset finansial. Bank-bank komersial yang melayani pasar ini menawarkan valas untuk keperluan mendesak (spot) dan masa mendatang (forward).
Fakta menunjukkan globalisasi pasar valas tumbuh lebih cepat dibanding investasi internasional, dengan laju perputaran bersih terpusat di tiga pasar keuangan internasional terbesar, yaitu London, New York dan Tokyo. Diperkirakan dalam enam tahun terakhir laju perputarannya telah meningkat tiga kali lipat. Sebuah survei pasar yang dilakukan Federal Reserve of New York, Bank of Japan, dan Bank of England menunjukkan bukti bahwa laju turn over (perputaran) saat ini di ketiga pasar tersebut mendekati nilai sebesar $1 triliun setiap hari; jauh lebih tinggi dari angka pada April 1989 yang “hanya” $640 miliar (Goldstein, etal, 1993). Tabel 6.2 secara rinci merangkum hasil survei itu.

Tabel 2. Laju Perputaran Bersih Pasar Valas
(Dalam Miliar Dolar AS Setiap Hari)

Negara Maret 1986 April 1989 April 1992
Inggris USA 90 59 187 129 300 192
Jepang 48 115 128
Singapura td 55 74
Swiss td 57 68
Hongkong td 49 61
Jerman td td 57
Perancis td 26 35
Australia td 30 30
Kanada 9 15 22
Catalan: td = tidak tersedia data.
Sumber: Goldstein, etal. (1993: h. 24).

Tabel. 2 memperlihatkan bahwa total perputaran bersih di 9 pasar valas tumbuh hingga mencapai angka $910 miliar pada tahun 1992, yang berarti mengalami kenaikan sebesar 37% dibanding tahun 1989. Tidak berlebihan bila laju perputaran bersih di seluruh pasar valas dunia menembus angka $1 triliun setiap hari. Sebagai perbandingan, cadangan non-emas seluruh negara industri mencapai hanya $555.6 miliar pada akhir April 1992. Tabel ini juga menunjukkan bahwa pasar valas Inggris masih memegang supremasi sebagai pasar valas paling aktif ($300 miliar), diikuti USA ($192 miliar), Jepang ($128 miliar), Singapura ($74 miliar), dan Swiss ($68 miliar).
Dari sisi mata uang yang digunakan, dolar AS masih memegang peranan yang dominan. Kendati demikian, penggunaan mata uang lain dewasa ini semakin meningkat. Menurunnya dolar AS sebagai alat tukar dalam transaksi valas diakibatkan oleh meningkatnya penggunaan Deutsche Mark (DM). Yang terakhir ini merupakan konsekuensi logis dari liberalisasi aliran modal dan Sistem Moneter Eropa yang menempatkan DM sebagai leading currency.
Sementara itu, kita dapat mengamati derasnya gelombang globalisasi dari perkembangan pasar modal yang menuju fully integrated markets, artinya para pemodal dapat melakukan diversifikasi investasi di mana saja tanpa hambatan. Namun apabila pemodal asing menghadapi hambatan yang substansial dalam melakukan investasi di pasar modal dan pemodal lokal sulit melakukan diversifikasi internasional sehingga pembentukan harga lebih dipengaruhi pasar lokal, maka pasar modal tersebut disebut condong pada segmented markets. Studi Pudjiastuti dan Husnan (1994), sebagaimana ditunjukkan oleh Tabel 6.3, mengindikasikan bahwa beberapa pasar modal di Asia Pasifik sudah mengarah ke integrated markets (bursa Tokyo, Hongkong, Singapura), bursa Kuala Lumpur dan New Zealand bisa dikatakan berada dalam bentuk “antara” (artinya pemodal asing diizinkan melakukan investasi di bursa tersebut kendati dengan batasan-batasan tertentu, dan pemodal domestik juga melakukan diversifikasi internasional meskipun masih terbatas), sedangkan bursa lainnya diklasifikasikan segmented markets.


KESIMPULAN


Dari penjelasan di depan tentang tinjauan umum pasar keuangan internasional dapat disimpulkan bahwa bisnis internasional dipermudah oleh pasar keuangan internasional yang menyebabkan perdagangan valas dan aliran modal berjalan lancar antar negara.
Menurut saya, di jaman ini transaksi yang berasal dari bisnis internasional menyebabkan uang mengalir dari satu negara ke negara lain.

DAFTAR PUSTAKA


Kuncoro Mudrajad, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada, Yogya. 1996. BPFE Yogya. Manajemen Keuangan Internasional. (Pengantar Ekonomi dan Bisnis Global) Edisi 2.
Nopirin, PhD. Ekonomi Moneter, penerbit BPFE Yogyakarta, 1987.
Sjahrir, Analisis Ekonomi Indonesia, penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1991.

Karya Punya : YOUBIL FERNANDO, Mahasiswa UNP, 2007.
Share this article :

0 Komentar:

Post a Comment

Silahkan berkomentar disini walaupun hanya "Hay". Kami akan menghargai komentar anda. Anda berkomentar saya akan berkunjung balik

 
Support : Aris Decoration | Galaxy Young
Copyright © 2014. All in here - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger