Home » » mata kuliah pancasila

mata kuliah pancasila

Written By Haris Ahmad on Saturday, May 15, 2010 | 2:00 PM

Manusia dan Sejarah Kemanusiaan

Yang menjadi pangkal sejarah kemanusiaan ialah pendapat tentang manusia pertama. Dalam menjelaskan hal tersebut tergantung dari cara pendekatan yang dipakainya.Pendekatan-pendekatan tersebut antara lain :

a. Pendekatan Secara Religi
Pendekatan religi menyimpulkan bahwa adam dan hawa adalah sepasang manusia pertama yang menurunkan seluruh umat manusia.

b. Pendekatan Ilmiah
Pendekatan ilmiah dari antropologi fisik sebagai bagaian biologi dikatakan bahwa manusia berkembang menurut proses evolusi dari suatu mahluk yang bermartabat rendah samapi mencapai bentuknya yang sekarang. Namun sampai sekarang ilmu pengetahuan modern belum mampu memberikan keterangan yang memuaskan dan mutlak, kecuali suatu jawaban yang masih hipotesis.

Namun bagaimanapun juga, mahluk Tuhan yang disebut manusia telah berkembang biak memenuhi bumi di sepanjang masa ratusan ribu tahun, berkelompok-kelompok menjadi ras-ras dan kemudian bangsa-bangsa menurut keadaan tempat tinggalnya dan sejarah perkembangan yang dialaminya. Salah satu bangsa-bangsa itu adalah Bangsa Indonesia di Bumi Indonesia.

Kata Indonesia sebagai nama bagi tanah air kita diberikan oleh orang Inggris yang bernama James Richardsin Logan yang dalam journal of the Indian Archipelago and eastern Asia terbitan tahun 1850 menulis sbb:"..... I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for Indonesia Island of the Indian Archipelago." saya memilih istilah geografis murni Indonesia yang pada hakikatnya merupakan sinonim singkat bagi pulau-pulau Indonesia atau kepulauan India.

Nama Indonesia selanjutnya dalam menyebut tanah air kita digunakan oleh :



1. "Maxwell" th. 1862 dalam bukunya yang berjudul " The Island of Indonesia"
2. Adolf Bastian thn. 1889, ahli etnologi dari bangsa Jerman, dalam bukunya "Indonesian order die insel des malayischen Archipels"
3. Thn. 1922. digunakan dalam Indonesische Veriniging ( perhimpunan Indonesia)
4. Th 1924 dipakai dalam majalah, yaitu Indonesia Merdeka
5. Th. 1927 dipakai nama partai PNI
6. Th. 1928 dipakai dalam sumpah pemuda
7. Th. 1945 ( sejak proklamasi kemerdekaan ) digunakan dengan diumumkannya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Kita bangsa Indonesia yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, percaya bahwa tidak ada kejadian di dunia ini yang terlaksana di luar kehendak Tuhan,. tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Jika kita dilahirkan sebagai bangsa Indonesia di atas bumi Indonesia, ini adalah kehendak Tuhan agar kita menjunjung tinggi kewajiban kita terhadap tanah air dan bangsa kita.

Tumbuhnya Bangsa dan kebudayaan indonesia

Tanah air kita berupa rangkaian kepulauan tropis yang terletak strategis antara dua benua ( Asian dan australia ) dan dua samudra ( Indonesia dan fasifik ). baik keindahan alamnya sepanjang masa merupakan daya tarik bagi setiap kelompok manusia yang mengembara mencari tempat tinggal untuk kaumnya. dari daratan benua asia berbagai bangsa ( antara lain Proto dan deutro melayu ).

Memasuki kepulauan Indonesia dan bercampur darah dengan penduduk tertua ( negrito) untuk kemudian meluluh menjadi satu bangsa Indonesia, Bhineka Tunggal Ika, Memang sesanti kita tidak hanya berasal dari kitab " Sutasoma" karangan Mpu Tantular saja, tetapi berurat akar pada pangkal terjadinya bangsa Indonesia.

Tentang sejarah bangsa Indonesia yang paling tua, sumber keterangan yang sampai sekarang ada serta cukup jelas baru mulai pada sekitar 3000 tahun sebelum masehi.

Pada masa sekitar tahun 3000 SM tersebut berkembanglah di daerah ini suatu tingkat kebudayaan neolitikum, yaitu kebudayaan dengan pertanian sebagai unsur yang penting.Di dalam masyarakat serupa itu hubungan seorang maupun orang sebagai kolektivitas dengan lingkungan hidup sekelilingnya sangat erat. Maka dalam keadaan seperti itu timbul pengaruh timbal-balik antara menusia dan lingkunganya.

Lingkungan alam, selain menyediakan keperluan bagi kelangsungan hidupnya, sebaliknya dalam batas-batas tertentu membatasi ruang gerak serta kegiatan manusia. Disamping itu, alam pun ikut menentukan serta memberi ciri khas yang terhadap cara hidup maupun corak kebudayaannya. Dengan demikian maka timbul suatu kesadaran akan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki bangsa kita dalam menghadapi tantangan alam. Melahirkan suatu kesadaran akan kekuasaan yang berada di atas alam dan manusia sendiri, sehingga gambaran kan ke-Maha Kuasa-an tumbuh dan berkembang sebagai kesadaran religius di dalam bentuknya yang sederhana, dinamisme, pemujaan leluhur, yang akhirnya sampai pada pemujaan dewa tertinggi. Sikap hidup religius memang suatu yang inhaerent (tidak dapat diceraikan) dalam jiwa Bangsa Indonesia.

Dapat pula dipahami, bahwa dalam tarap kebudayaan neolithicum ini, desa sebagai kesatuan teretorial didiami oleh kelompok orang-orang yang seketurunan, sehingga memungkinkan ikatan kekeluargaan atas dasar persamaan tempat tinggal dan keturunan. Dengan cara demikian itulah, suatu kesatuan teretorial dan consanguin (ikatan keluarga sendiri) ini berkembang menjadi ikatan yang lebih besar dan akhirnya tumbuhlah dari lingkungan hidup seperti itu semangat kebangsaan di kemudian hari, seperti termaktub dalam sila ke-3 Pancasila, yaitu " Persatuan Indonesia".

Ikatan hidup yang makin besar itu, sudah barang tentu memerlukan pimpinan yang bertugas memelihara ketertiban hidup bersama. Orang yang memangku jabatan demikian dipilih di antara mereka yang paling bijaksana, dan segala hal yang menyangkut kepentingan umumbiasanya diselesaikan melalui musyawarah. Dalam keadaan inilah di mana pengkhususan lapangan kehidupan yang meliputi tugas-tugas tertentu belum berkembang. Dapatlah dimaklumi apabila pelaksanaan sesuatu itu atas tanggungjawab bersama pula. Di sinilah nampak jiwa sila ke-4 Pancasila dalam bentuk sederhana.

Suatu ciri kehidupan neolithicum yang penting ialah manusia telah berhasil membebaskan diri dalam memenuhi kebutuhan jasmaninya dari menggantungkan diri pada alam sekelilingnya. Kecakapan bercocok tanam yang menyertai zaman itu memberi kemungkinan penimbunan persediaan makanan dan penyediaan bahan-bahan keperluan yang lain. Pertanian tidak bisa dikerjakan oleh seorang diri, tetapi membutuhkan kerjasama secara gotong-royong yang kemudian yang kemudian dalam sejarah menjelma menjadi sifat Bangsa Indonesia. Langkah kemajuan yang dicapai dalam tingkat peradaban neolithicum ini berarti mulai timbulnya usaha kesejahteraan yang tertua dalam sejarah manusia. Serempak dengan kemajuan yang dicapai Bangsa Indonesia pada babakan pra sejarah ini, suatu hal yang tak dapat dihindarkan ialah timbulnya hubungan dengan bangsa-bangsa lain di Asia Tenggara, India dan Cina.

Akibat yang timbul dari hubungan ini terutama nampak dalam lapangan kebudayaan yang ciri-cirinya terlihat pada kecakapan menuang logam (metalurgi). Dalam periode itu, di Indonesia berkembang kebudayaan perunggu dan besi yang memberi corak istimewa zaman tersebut, sehingga masa itu dikenal sebagai Abad Perunggu-Besi, bahkan oleh sarjana-sarjana Perancis yang terkenal, L.Finot dan G. Coedes, disebut sebagai Kebudayaan Indonesia. Dari zaman itu dikenal benda-benda yang banyak berhubungan dengan upacara keagamaan serta memberi kesan kuat adanya hubungan niaga dengan wilayah Asia Tenggara.

Pada saat itu pula berkembanglah suatu unsur kebudayaan yang berpusat kepada adanya bangunan-bangunan batu besar (megalithicum) yang bersangkut-paut dengan pemujaan roh-roh nenek moyang serta konsepsi tentang dunia akhirat. Tradisi kebudayaan megalithik itulah yang kelak terus hidup bertahan dalam periode sejarah di beberapa daerah yang agak terpencil dalam hubungan lalu-lintas.

Dari hal-hal tersebut di atas dapat ditarik keimpulan bahwa dalam periode pra sejarah penduduk di Kepulauan Indonesia telah memiliki tingkat kebudayaan atau peradaban yang cukup tinggi. Mereka telah mengenal pertanian, pengairan, perbintangan, sistem pemerintahan, hukum adat, upacara keagamaan, musik gamelan, wayang, pengecoran logam dan lain-lain. Unsur kebudayaan itu merupakan landasan yang kuat sehingga dalam perkembangan sejarah selanjutnya, ketika pengaruh kebudayaan hindu, Islam dan barat masuk ke Indonesia, unsusr-unsur Indonesia asli tersebut masih tetap memberikan corak khas terhadap peri kehidupan Bangsa Indonesia. Sehingga tidak berlebihan jika dikatakan bahwa ajaran Pancasila yang menjadi dasar filsafat negara telah berakar dalam masa pra sejarah Indonesia, suatu periode pada saat bangsa dan dasar kebudayaan atau peradaban Indonesia mulai tumbuh.

Tata Kekuasaan / Kerajaan Indonesia

Telah dibicarakan di atas, pada jaman pra sejarah bangsa Indonesia mengenal hidup berkelompok dalam susunan desa atas dasar musyawarah dan gotong-royong. Mereka mengadakan pemujaan terhadap roh (arwah) nenek moyang mereka. Di antara arwah nenek moyang tersebut arwah kepala suku menempati tempat yang penting.



Semasa hidupnya kepala suku mempunyai kedudukan yang sangat penting dan sakral sekali, apalagi jika kepala suku memiliki jasa-jasa yang banyak sekali. Setelah meninggal arwahnya mendapat pemujaan yang khusus dan dianggap pelindung desa. Selain sebagai pelindung desa (manusia), arwah tadi juga bisa memberi hadiah kepada yang berjasa dan menghukum yang bersalah.

Ketika Agama Hindu tiba di Indonesia dengan ajarannya tentang dewa-dewa yang pada dasarnya memiliki fungsi yang sama dengan arwah kepala suku tadi, Bangsa Indonesia tidak terlalu segan untuk menerimanya. Kepala suku (raja) tidak berkeberatan untuk memeluk agama tersebut, asalkan ia diangkat sebagai seorang dari kasta ksatria. Untuk kepentingan itu didatangkan kaum pendeta (brahmana) ke Indonesia. Dan timbullah kerajaan-kerajaan tertua di Indonesia seperti Kutai dan Tarumanegara.

Selanjutnya kira-kira abad VII Masehi, Agama Budha dari sekte Hinayana dan Mahayana telah masuk ke Indonesia, hal ini dapat ditemukan bukti-bukti di Sumatera Selatan.

Dalam perkembangan selanjutnya, kerajaan yang timbul adalah Sriwijaya (lebih kurang abad VII-XII) dan Majapahit (lebih kurang abad XIII-XVI) merupakan puncak kemegahan sejarah Bangsa Indonesia.

Pada sekitar abad VII masehi berdirilah Kerajaan Sriwijaya yang letaknya mungkin di Palembang sekarang ini. Kerajaan ini adalah kerajaanmaritim yang menjadi pusat perniagaan dan pusat kebudayaan (agama) di Asia Tenggara. Letaknya sangat strategis pada jalan laut antara India dan Cina memberikan kemajuan yang pesat pada pertumbuhan kerajaan ini. Ia menjadi pengusaha utama di pelabuhan-pelabuhan di Pesisir Timur Sumatera, Singapura dan Pantai Barat Malaysia sekarang, yang memiliki kekuasaan Selat Malaka sampai di daerah Pantai Siam.

Kerajaan Sriwijaya dapat dipandang sebagai penjelmaan negara kesatuan yang pertama, yang memenuhi syarat-syarat sebagai negara modern. Ia telah mengadakan hubungan diplomatik dengan negara tetangganya, misalnya telah mengirimkan duta-dutanya ke Cina pertama kali pada tahun 670 masehi.

Selanjutnya Sriwijaya adalah pusat Agama Budha, sehingga para musafir Cina sebelum mencapai India, tinggal dulu beberapa tahun di Sriwijaya untuk mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan Agama Budha dan tatabahasa Sansekerta.

Sriwijaya juga mengirim pemuda-pemudanya ke India untuk belajar Agama Budha dan raja Sriwijaya yang pernah membuat asrama-asrama untuk tempat tinggal para pelajar tadi di Nalanda ( Daerah Benggala, India Utara ) dan di Nagapatnam ( di Pantai Malabar, India Selatan).

Unsur-unsur keTuhanan, tata pemerintahan atas dasar musyawarah, keadilan sosial, kedaulatan dan lain-lain, terbukti dari dokumen tertulisnya yang berupa prasasti, yaitu : Telaga Batu, Kedukan Bukit, Karang Brahi, Talangtuo dan Kota Kapur. Kepala negara bergelar datu.

Setelah Sriwijaya mengalami kemunduran, pada abad ke-13 di Jawa Timur munculah Kerajaan Majapahit yang dapat dipandang sebagai negara kerajaan kuno Indonesia yang terbesar. Zaman keemasan dicapai dalam pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1350-1389) dengan Mahapatih Gadjah Mada.

Sebagai negara yang berdaulat, Majapahit melindungi delapan mandala sebagai wilayah kekuasaanya, yang meliputi daerah Malaysia dan hampir seluruh Wilayah RI dewasa ini. Di samping itu, Majapahit sebagai suatu kerajaan besar memiliki politik hubungan antar bangsa yang terungkap dalam istilah "mitreka satata", yang berarti menghendaki persahabatan sederajat. Semua ini diuraikan oleh pujangga Mpu Prapanca dalam kitabnya Negarakertagama (1365). Juga oleh Prapanca telah diuraikan susunan pemerintahan Majapahit yang juga mencerminkan unsur musyawarah.

Perdagangan laut telah timbul kembali seakan-akan kemegahan Sriwijaya di laut timbul kembali, dengan pelauhan dagangnya di Tuban dan Gresik.

Selain kemajuan di bidang politik, kemiliteran, dan perdagangan, di istana Majapahit hidup berdampingan dua macam agama (Hindu dan Budha) yang membuktikan sifat toleransi Bangsa Indonesia. Hal ini tercantum di dalam uraian pujangga Mpu Tantular dalam kitabnya Sutasoma. Kehidupan agama sebagai unsur penting dalam suatu negara, adalah merupakan tipe ideal negara yang menginginkan keseimbangan antara kebutuhan rokhani dan jasmani. Sesanti Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda tetapi satu juga) yang tercantum pada lambang negara kita sekarang ialah rumusan pujangga Mpu Tantular dalam kitabnya tersebut di atas.

Bangunan-bangunan suci, candi-candi, biara-biara dan lain-lain disamping mengandung nilai-nilai religi juga menunjukkan sifat kegotong-royongan dari bangsa kita.

Setelah Hayam Wuruk wafat, Majapahit mulai mengalami kemunduran karena sering terjadi perselisihan di antara keluarga raja, sehingga mempercepat keruntuhan negara itu. Kemudian sejak abad-13 Agama Islam mulai masuk ke Pulau Jawa.

Dari gambaran sepintas lalu itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa ide tentang keTuhanan, perikemanusiaan, kebangsaan, musyawarah, serta keadilan sosial, pada hakikatnya adalah ide tentang Pancasila meskipun dalam bentuk mula pertama telah ada sejak dahulu kala dalam jiwa Bangsa Indonesia, sebagai unsur kehidupan yang dihayati dan dilaksanakan sepanjang sejarahnya. Hanya ide itu belumlah dapat dirumuskan secara konkrit dan masih bersifat embrional. Di samping itu baik Sriwijaya maupun Majapahit, merupakan negara kesatuan Indonesia seperti yang terkandung dalam sila ke 3 Pancasila.

Penjajahan Barat

Indonesia adalah bertanah yang subur. Kesuburanya ini menjelmakan beberapa macam tumbuh-tumbuhan yang tidak diketemukan di luar Indonesia, tetapi sangat dibutuhkan di luar Indonesia, seperti lada, pala, cengkeh. Untuk rempah-rempah inilah bangsa-bangsa asing berkerumun di Indonesia.

Sejak lama bangsa barat berkenalan dan terpikat oleh rempah-rempah Indonesia, tetapi mereka tidak mengambilnya sendiri ke Indonesia, melainkan cukup mengimpornya melalui pedagang-pedagang perantara Bangsa Cina.

Pada tahun 1498 orang-orang Portugis di bawah pimpinan Vasco da Gama sampai di India (Calicut) dan dengan demikian membuat lembaran baru dalam sejarah Bangsa Asia, suatu lembaran hitam karena merajalelanya penjajahan yang melupakan keTuhanan, melanggar perikemanusiaan, tiada hormat akan kebangsaan orang lain, menindas kerakyatan serta mentertawakan keadilan sosial. penjajahan melanggar pancasila, melanggar hati nurani Indonesia, karena itu dilawan oleh bangsa kita.

Pada tahun 1512 Portugis masuk Indonesia dibawah pimpinan (D' Abreu dan Serrao ) dan berhasil mencapai serta mengenal secara langsung pulau rempah rempah ( Ambon, ternate ). tetapi bangsa Portugis tidak bebas dari saingan bangsa lainnya. bangsa Spanyol ( del pano dari sisa armada Magelhaens, 1521 ) dan Inggris ( Francais Drake), 1579 kemudian belanda ( cornelis de houtman, 1596 menyusul bangsa Portugis masuk Indonesia untuk berlomba-lomba memeperebutkan kemakmuran kita.


Pada tahun1522 Portugis ( Antonia de Brito ) mencengkram Ternate dengan mendirikan benteng Portugis di pulau itu. inilah titik permulaan bercokolnya imperialisme di Indonesia. tempat ini merupakan tempat berinjak dan basis oprasi bagi aktivitas imperialsme Portugis di Ternate dan sekitarnya. tindakan sewenang-wenangnya tersebut telah melanggar norma dan budi nurani bangsa Indonesia. Raja Tabariji ditawan karena tidak mau menyerahkan seluruh cengkehnya ke Portugis. Raja Hairun dibunuh karena tidak mau tunduk pada Portugis.karenanya, Ternate dan Tidore yang awalnya saling bermusuhan langsung bersatu melawan penjajah. perlawanan ini dipimpin oleh Baabullah. Benteng Portugis berhasil direbut ( 1570 ) dan orang Portugis yang masih selamat diminta meninggalkan benteng.

Portugis tidak dapat menahan gempuran raja Baabullah yang penuh dedikasi ini dan lenyap dariu perairan sektar Ternate. Sisa pertahanan Portugis tertinggal satu buah berupa benteng di ambon,dan kemudian benteng ini di sapu bersih oleh belanda yang mulai menguasai perairan Nusantara. dengan jatuhnya Malaka ( Portugis ) ke tangan Belanda tahun1641, maka berakhir pulalah imperialisme Portugis dari bumi Indonesia.

Spanyol yang tiba di Indonesia bertepatan dengan kedatangan bangsa Potugis, tidak mendapat kesempatan untuk menanamkan kekuasaannya di sini. mereka terusir dari Indonesia oleh perjanjian Saragosa 1529, yang menetapkan Indonesia bagi Portugis dan Philipina bagi spanyol dengan mendapatkan uang kerugian sejumlah 350.000 cruzados.

belanda muncul di Indonesia pada waktu Portugis baru Bertengkar dan berperang melawan bangsa Indonesia. keadaan ini secara licin sekali digunakan oleh belanda untuk berpura-pura memihak bangsa Indonesia melawan Portugis, hingga terpikatlah hati bangsa Indonesia oleh sikap Belanda. penjajahan baru berselimut sahabat ini akhirnya dapat diterima sebagai kawan.

Pengertian Pancasila 

1. Secara Etimologis
2. Secara Terminologis

Secara Etimologis

Pancasila berasal dari Bahasa India yakni Bahasa Sansekerta, bahasa kasta brahmana. Sedang bahasa rakyat jelata adalah prakerta.

Menurut Prof. H. Moh. Yamin Pancasila ada dua macam arti yaitu :

Panca : artinya lima
Syila : dengan satu i, artinya batu sendi, alas atau dasar
Syiila : dengan dua i, artinya peraturan yang penting, baik, atu senonoh

Dari kata syiila ini dalam Bahasa Indonesia menjadi susila artinya hal yang baik. Dengan demikian maka perkataan Pancasyila berarti batu sendi yang lima, berdasarkan yang lima, atau lima dasar Sedang Pancasyiila berarti lima aturan hal yang penting, baik atau senonoh.

Secara Historis 

Secara historis istilah Pancasila mula-mula dipergunakan oleh masyarakat India yang memeluk Agama Budha.

Pancasila berarti lima aturan (Five moral principles) yang harus ditaati dan dilaksanakan oleh para penganut biasa/awam Agama Budha, yang dalam bahasa aslinya yaitu Bahasa Pali. Pancasila yang berisikan lima pantangan yang bunyinya menurut ensiklopedia atau kamus Budhisme :

1. Panatipata veramani sikkhapadam samadiyami
Jangan mencabut nyawa setiap yang hidup. Maksudnya dilarang membunuh.
2. Adinnadana veramani sikkhapadam samadiyami
Janganlah mengambil barang yang tidak diberikan. Maksudnya dilarang mencuri
3. Kameshu micchacara veramani sikkhapadam samadiyami
Janganlah berhubungan kelamin yang tidak sah dengan perempuan. Maksudnya dilarang berzina.
4. Musawada veramani sikkhapadam samadiyami
Janganlah berkata palsu. Maksudnya dilarang berdusta.
5. Sura meraya-majja pamadattha veramani sikkhapadam samadiyami
Janganlah meminum minuman yang menghilangkan pikiran. Maksudnya dilarang minum minuman keras.

Selanjutnya istilah Pancasila masuk dalam kasanah kesusastraan Jawa kuno pada zaman Majapahit di bawah Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada. Istilah pancasila terdapat dalam buku keropak Negara Kertagama yang berupa syair pujian ditulis oleh pujangga istana bernama Mpu Prapanca selesai pada tahun 1365, yakni pada sarga 53 bait 2 yang berbunyi sebagai berikut :

Yatnanggegwani pancasyila kertasangska rabhi sakakakrama
artinya : Raja menjalankan dengan setia kelima pantangan (pancasila) itu begitu pula upacara-upacara adat dan penobatan-penobatan.

Selain terdapat dalam buku Negara Kertagama yang masih dalam jaman Majapahit istilah pancasila juga terdapat dalam buku Sutasoma karangan Mpu Tantular. Dalam buku Sutasoma ini istilah pancasila disamping mempunyai arti berbatu sendi yang lima (dalam bahasa sansekerta) juga mempunyai arti pelaksanaan kesusilaan yang lima, pancasila krama, yaitu :

1. Tidak boleh melakukan kekerasan
2. Tidak boleh mencuri
3. Tidak boleh berjiwa dengki
4. Tidak boleh berbohong
5. Tidak boleh mabuk minum minuman keras

Demikianlah perkembangan istilah Pancasila dari bahasa sansekerta menjadi Bahas Jawa kuno yang artinya tetap sama dengan yang terdapat di jaman Majapahit.

Pada jaman Majapahit hidup berdampingan secara damai kepercayaan tradisi Agama Hindu Syiwa dengan Agama Budha Mahayana dan campuranya, Tantrayana. Sedang Mpu Prapanca sendiri kemudian menjabat dharmadyaksa ring kasogatan yaitu penghulu (kepala urusan) Agama Budha.

Sesudah Majapahit runtuh dan Islam tersebar ke seluruh Indonesia maka sisa-sisa dari pengaruh ajaran moral Budha yaitu pancasila masih terdapat juga dan dikenal masyarakat Jawa sibagai lima larangan (pantangan, wewaler, pamali) dan isinya agak lain yaitu yang disebut " Ma Lima" yaitu lima larangan yang dimulai dari kata "ma". Larangan tersebut adalah :

1. Mateni : artinya membunuh
2. Maleng : artinya mencuri
3. Madon : artinya berzina
4. Madat : artinya menghisap candu
5. Maen : artinya berjudi

Lima larangan moral atau "Ma Lima" ini dalam masyarakat Jawa masih dikenal dan masih juga menjadi pedoman moral, tetapi namanya bukan Pancasila, tetapi tetap "Ma Lima".

Secara Terminologis (mengistilah)

Secara terminologis, yaitu dimulai sejang sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Pancasila dipergunakan oleh Bung Karno untuk memberi nama pada lima prinsip dasar Negara Indonesia yang diusulkanya. Sedang istilah tersebut diberikan dari temanya yang pada waktu itu duduk di samping Bung Karno.

Pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka, keesokan harinya 18 Agustus 1945 disahkanlah UUD '45 yang sebelumnya masih merupakan rencana di mana dalam pembukaanya memuat rumusan lima Dasar Negara Republik Indonesia yang diberi nama Pancasila. Artinya lima dasar yang dimaksud ialah dasar falsafah Negara Republik Indonesia yang isinya sebagaimana tertera dalam alinea IV bagian akhir pembukaan UUD '45.

Selanjutnya istilah Pancasila dalam Bahasa Indonesia dan secara yuridis yang dimaksudkan adalah 5 sila Pancasila yang kita anut saat ini.

Penggunaan Terakhir Istilah Pancasila

Pancasila yang semula berasal dari bahasa sansekerta yang berarti lima aturan hal yang penting, dan selanjutnya "Ma Lima" dalam bahasa Jawa kuno berarti lima pantangan yang kesemuanya itu dipergunakan dalam Agama Budha, yang akhirnya Pancasila menjadi Bahasa Indonesia yang dipakai sebagai istilah untuk nama dasar filsafat negara Republik Indonesia samapai sekarang.

Di samping perkembangan arti istilahnya, penulisanya pun mengalami proses perkembangan. Menurut ejaan aslinya ditulis huruf latin pertama-tama, ditulis dengan " Panca-Syila". Kemudian disesuaikan dengan ejaan Bahasa Indonesia lama menjadi Pantja-Sila.

Karena istilah Pancasila dipakai nama dasar filsafat negara yang isinya merupakan satu kesatuan, maka menurut Prof. Notonagoro penulisanya tidak dapat dipisahkan, tetapi harus dirangkai jadi satu yaitu "Pantjasila". Dan selanjutnya menurut ejaan yang disempurnakan penulisanya menjadi "Pancasila".
Share this article :

3 Komentar:

  1. Indonesia merdeka ..!! hidup indonesia

    ReplyDelete
  2. Merdeka merdeka......
    kayak mau perang aja gan

    ReplyDelete
  3. SAYA BERTERIMAKASIH,SAYA JADINYA TAHU,ASAL USUL PANCASILA

    ReplyDelete

Silahkan berkomentar disini walaupun hanya "Hay". Kami akan menghargai komentar anda. Anda berkomentar saya akan berkunjung balik

 
Support : Aris Decoration | Galaxy Young
Copyright © 2014. All in here - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger