Thursday, January 20, 2011

makalah sda

EKONOMIKA SDA PERIKANAN DEMERSIAL
EKONOMIKA SUMBER DAYA ALAM LINGKUNGAN
PERIKANAN DEMERSIAL
PENDAHULUAN
Sumberdaya ikan merupakan salah satu sumberdaya kelautan dan perikanan yang tergolong dalam sumberdaya yang dapat diperbaharui (renewable resources), artinya jika sumberdaya ini dimanfaatkan sebagian, sisa ikan yang tertinggal mempunyai kemampuan untuk memperbaharui dirinya dengan berkembang baik.
Tinggi rendahnya kemampuan berkembang biak ini akan mempengaruhi ketersediaan atau stok sumberdaya ikan. Hal ini memberikan pedoman bahwa stok atau populasi sumberdaya ikan tidak boleh dimanfaatkan secara sembarangan tanpa memperhatikan struktur umur dan rasio kelamin dari populasi ikan yang tersedia. Apabila pemanfaatan secara sembarangan dilakukan, berakibat pada umur dan struktur populasi ikan yang tersisa mempunyai kemampuan memulihkan diri sangat rendah atau lambat, berarti sumberdaya ikan tersebut berada pada kondisi hampir punah.
Lebih lanjut Nikijuluw (2002), menyatakan bahwa ikan tetap bergerak dari suatu tempat ke tempat lain. Jenis-jenis ikan tertentu dapat berenang, berpindah, atau berimigrasi dari suatu perairan ke perairan lainnya, bahkan hingga melintasi samudera. Ikan-ikan lainnya, hanya bergerak di perairan tertentu secara cepat atau lambat. Namun dengan sifat ikan yang bergerak ini, upaya menduga atau memperkirakan jumlah ikan atau ukuran stok ikan menjadi pekerjaan yang relatif sulit. Implikasinya adalah, pengelolaan sumberdaya ikan menjadi tidak mudah untuk dilakukan.
Pemanfaatan sumberdaya ikan yang dilakukan tidak sesuai ketentuan (illegal fishing), seperti penggunaan bahan beracun, bom, pukat harimau, dan lain-lain serta tidak sesuai antara penggunaan peralatan penangkapan dengan wilayah penangkapan (fishing ground), dan lain-lain, selain akan merusak wilayah pemijahan dan sumber makanan dari sumberdaya ikan juga akan merusak ekosistem wilayah dimaksud.

PENGERTIAN
Menurut definisi Food and Agriculture Organization (FAO), ikan tidak hanya terbatas pada pengertian ikan yang selama ini dipahami orang awam, yaitu ikan (finfish) yang bersirip dan bersisik dan dapat berenang dengan bebas di air. Definisi FAO mengenai ikan adalah organisme laut yag terdiri dari ikan (finfish), binatang berkulit keras (krustasea) seperti udang dan kepiting, moluska seperti cumi dan gurita, binatang air lainnya seperti penyu dan paus, rumput laut, serta lamun laut. Definisi ini telah diadopsi sebagai definisi ikan dalam konteks perikanan di Indonesia (Nikijuluw, 2002).
Ikan Demersal adalah ikan yang umumnya hidup di daerah dekat dasar perairan, ikan demersal umumnya berenang tidak berkelompok (soliter). Sumberdaya ikan demersal terbagi dua berdasarkan ukuran yaitu Ikan Demersal Besar seperti kelompok kerapu (Grouper) dan kakap (Snaper). Ikan demersal ekonomis penting yang paling umum antara lain adalah kakap merah, bawal putih, manyung, kuniran, gulamah, layur dan peperek. Secara ekologis udang merupakan sumber daya demersal. Karena posisinya sebagai komoditas ekspor perikanan yang penting upaya pengkajian stoknya biasanya dilakukan secara terpisah.
Berbagai jenis ikan demersal biasanya ditangkap dengan alat tangkap yang dioperasikan di dasar perairan seperti ; trawl, rawai dasar, jaring insang dasar, jarring klitik/trammel dan bubu. Pengelompokkan jenis ikan sebenarnya lebih bersifat subyektif karena pemisahan jenis secara tajam sangat sulit dilakukan. Sebagai patokan umum yang lebih bersifat implikatif tentang kelompok ikan bisa dilihat dari alat tangkapnya.

EKOSISTEM DAN SUMBERDAYA UTAMA PESISIR DAN LAUT
Ditinjau dari sudut ekologis, wilayah pesisir dan laut merupakan lokasi beberapa ekosistem yang unik dan saling terkait, dinamis dan produktif. Beberapa ekosistem utama di wilayah pesisir dan laut yang akan dibahas dalam makalah ini adalah: (1) estuaria; (2) hutan mangrove; (3) padang lamun; (4) terumbu karang; (5) pantai (berbatu dan berpasir); dan (6) pulau-pulau kecil.

Estuaria adalah perairan yang semi tertutup yang berhubungan bebas dengan laut, sehingga air laut dengan salinitas tinggi dapat bercampur dengan air tawar (Bengen, 2002; Pritchard, 1976).
Kombinasi pengaruh air laut dan air tawar akan menghasilkan suatu komunitas yang khas, dengan lingkungan yang bervariasi (Supriharyono, 2000a), antara lain:
(1) Tempat bertemunya arus air dengan arus pasang-surut, yang berlawanan menyebabkan suatu pengaruh yang kuat pada sedimentasi, pencampuran air, dan cirri-ciri fisika lainnya, serta membawa pengaruh besar pada biotanya;
(2) Pencampuran kedua macam air tersebut menghasilkan suatu sifat fisika lingkungan khusus yang tidak sama dengan sifat air sungai maupun sifat air laut;
(3) Perubahan yang terjadi akibat adanya pasang-surut mengharuskan komunitas mengadakan penyesuaian secara fisiologis dengan lingkungan sekelilingnya; dan
(4) Tingkat kadar garam di daerah estuaria tergantung pada pasang-surut air laut, banyaknya aliran air tawar dan arus-arus lainnya, serta topografi daerah estuaria tersebut.
Estuaria dapat dikelompokkan atas empat tipe, berdasarkan karakteristik geomorfologinya (Bengen, 2002), sebagai berikut:
(1) Estuaria daratan pesisir, paling umum dijumpai, dimana pembentukannya terjadi akibat penaikan permukaan air laut yang menggenangi sungai di bagian pantai yang landai;
(2) Laguna (Gobah) atau teluk semi tertutup, terbentuk oleh adanya beting pasir yang terletak sejajar dengan garis pantai sehingga menghalangi interaksi langsung dan terbuka dengan perairan laut;
(3) Fjords, merupakan estuaria yang dalam, terbentuk oleh aktivitas glesier yang mengakibatkan tergenangnya lembah es oleh air laut;
(4) Estuaria tektonik, terbentuk akibat aktivitas tektonik (gempa bumi atau letusan gunung berapi) yang mengakibatkan turunnya permukaan tanah yang kemudian digenangi oleh air laut pada sat pasang.
Variasi salinitas di daerah estuaria menentukan kehidupan organisme laut/payau. Hewan-hewan yang hidup di perairan payau (salinitas 0,5 - 30¡ë), hipersaline (salinitas 40 - 80¡ë), atau air garam (salinitas > 80¡ë), biasanya mempunyai toleransi terhadap kisaran salinitas yang lebih besar dibandingkan dengan organisme yang hidup di air laut atau air tawar (Supriharyono, 2000). Organisme yang dapat tahan terhadap konsentrasi garam mulai dari air berkristal dalam kondisi kehidupan latent (benih, spora, cysta), dan mulai dari air destilata sampai salinitas hampir mencapai 300¡ë dalam kondisi kehidupan yang aktif (Ruinen, dalam Supriharyono, 2000a).
Terdapat beberapa spesies yang dapat bertahan hidup pada salinitas di atas 200¡ë seperti brine shrimp, Artemia salina dan larva dipteran, Ephydra (Remane dan Schlieper dalam Kinne, 1964). Pada estuaria Laguna Madre, terdapat paling sedikit 25 spesies hewan yang tahan pada salinitas sekitar 75 - 80¡ë. Beberapa diantara spesies tersebut seperti Nemopsis bacheri, Acartia tonsa, Balanus eburneus, dan beberapa jenis ikan juga dijumpai pada salinitas serendah 15 ¡ë (Hedgpeth, 1967).
Hewan-hewan yang toleran pada kisaran salinitas yang luas disebut euryhaline, sedangkan yang toleran pada kisaran salinitas yang sempit disebut stenohaline (Kinne, 1964). Pengaruh salinitas terhadap organisme dapat terjadi melalui perubahan-perubahan total osmocon-sentration, relatif proporsi kandungan garam, koefisien absorpsi dan saturation gas-gas terlarut, densitas dan viskositas, dan kemungkinan juga melalui absorpsi radiasi, transmisi suara, dan konduktivitas listrik (Kinne, 1967).
Jumlah spesies organisme yang mendiami estuaria jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan organisme yang hidup di perairan tawar dan laut. Sedikitnya jumlah spesies ini terutama disebabkan oleh fluktuasi kondisi lingkungan, sehingga hanya spesies yang memiliki kekhususan fisiologis yang mampu bertahan hidup di estuaria. Selain miskin dalam jumlah spesies fauna, estuaria juga miskin akan flora.
Keruhnya perairan estuaria menyebabkan hanya tumbuhan mencuat yang dapat tumbuh mendominasi. Rendahnya produktivitas primer di kolom air, sedikitnya herbivora dan terdapatnya sejumlah besar detritus menunjukkan bahwa rantai makanan pada ekosistem estuaria merupakan rantai makanan detritus. Detritus membentuk substrat untuk pertumbuhan bakteri dan algae yang kemudian menjadi sumber makanan penting bagi organisme pemakan suspensi dan detritus.
Suatu penumpukan bahan makanan yang dimanfaatkan oleh organisme estuaria merupakan produksi bersih dari detritus ini. Fauna di estuaria, seperti ikan, kepiting, kerang, dan berbagai jenis cacing berproduksi dan saling terkait melalui suatu rantai makanan yang kompleks (Bengen, 2002).


Ekosistem mangrove atau hutan bakau termasuk ekosistem pantai atau komunitas bahari dangkal yang sangat menarik, yang terdapat pada perairan tropik dan subtropik. Penelitian mengenai hutan mangrove lebih banyak dilakukan daripada ekosistem pantai lainnya. Hutan mangrove merupakan ekosistem yang lebih spesifik jika dibandingkan dengan ekosistem lainnya karena mempunyai vegetasi yang agak seragam, serta mempunyai tajuk yang rata, tidak mempunyai lapisan tajuk dengan bentukan yang khas, dan selalu hijau (Irwan, 1992).

Ekosistem mangrove didefinisikan sebagai mintakat pasut dan mintakat supra-pasut dari pantai berlumpur dan teluk, goba dan estuaria yang didominasi oleh halofita, yakni tumbuh-tumbuhan yang hidup di air asin, berpokok dan beradaptasi tinggi, yang berkaitan dengan anak sungai, rawa dan banjiran, bersama-sama dengan populasi tumbuh-tumbuhan dan hewan (Remimohtarto dan Juwana, 2001).

Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis, yang didominasi oleh beberapa spesies pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang-surut pantai berlumpur. Komunitas vegetasi ini umumnya tumbuh pada daerah intertidal dan supratidal yang cukup mendapat aliran air, dan terlindung dari gelombang besar dan arus pasang-surut yang kuat.

Karena itu hutan mangrove banyak ditemukan di pantai-pantai yang terlindung (Bengen, 2001, 2002). Ekosistem mangrove terdiri dari dua bagian, bagian daratan dan bagian perairan. Bagian perairan juga terdiri dari dua bagian yakni tawar dan laut. Ekosistem mangrove terkenal sangat produktif, dan penuh sumberdaya, dan ekosistem ini mendapat subsidi energi karena arus pasut banyak membantu dalam menyebarkan zat-zat hara.
Hutan mangrove meliputi pohon-pohonan dan semak yang terdiri atas 12 genera tumbuhan berbunga (Avicennia, Sonneratia, Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Xylocarpus, Lumnitzera, Laguncularia, Aegiceras, Aegiatilis, Snaeda, dan Conocarpus), yang termasuk ke delapan famili. Vegetasi hutan mangrove di Indonesia memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi dengan jumlah jenis tercatat sebanyak 202 jenis yang terdiri atas 89 jenis pohon, 5 jenis palem, 19 jenis liana, 44 jenis epifit, dan 1 jenis sikas (Bengen, 2002)
Walaupun produktivitas mangrove tinggi, namun menurut Heald dalam Supriharyono (2000a) dari total produksi daun tersebut hanya 5% yang dikonsumsi langsung oleh hewan-hewan terrestrial pemakannya, sedangkan sisanya sekitar 95% masuk ke lingkungan perairan sebagai debris dari seresah atau gugur daun. Karena itulah hutan mangrove mempunyai kandungan bahan organik yang sangat tinggi. Hutan mangrove dimanfaatkan untuk usaha budidaya ikan, kerang, hijau, dan kepiting; yang biasanya dilakukan dengan sistem keramba (Supriharyono, 2000a).

Tingginya bahan organik di perairan hutan mangrove, memungkinkan sebagai tempat pemijahan (spawning ground), pengasuhan (nursey ground), dan pembesaran atau mencari makan (feeding ground) dari beberapa ikan atau hewan air tertentu (Bengen, 2001, 2002; Supriharyono, 2000; Irwan, 1992). Sehingga di dalam hutan mangrove terdapat sejumlah besar hewan-hewan air, seperti kepiting, moluska, dan invertebrata lainnya, yang hidupnya menetap di kawasan hutan. Namun di antaranya hewan-hewan air tertentu seperti ikan dan udang-udangan, yang hidupnya keluar masuk hutan mangrove bersama arus pasang-surut.
Produksi udang di Thailand setiasp tahunnya (1974 ¨C 1980) sekitar 6% berasal dari tambak, 22% hasil penangkapan skala kecil (terutama produksi mangrove), dan 72% dari hasil tangkapan skala besar (yang juga masih bergantung pada mangrove). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara produksi udang dengan banyaknya mangrove. Produksi udang akan turun dengan turunnya area hutan mangrove. Di daerah semananjung sebelah barat dengan tutupan mangrove 96% menghasilkan sekitar 2 ¨C4 kalinya produksi ¡°ikan¡± (termasuk udang dan kerang-kerangan), dibandingkan dengan produksi di Semenanjung Malaysia sebelah timur yang hampir tidak ada mangrovenya (Supriharyono, 2000a).


Terumbu karang (coral reefs) merupakan masyarakat organisme yang hidup di dasar perairan laut dangkal terutama di daerah tropis. Terumbu karang terutama disusun oleh karang-karang jenis anthozoa kelas Seleterctinia, yang termasuk hermatypic coral atau jenis-jenis karang yang mampu membuat bangunan atau kerangka karang dari kalsium karbonat (CaCO3) (Vaughen, dalam Supriharyono, 2000b). Struktur bangunan batu kapur (CaCO3) tersebut cukup kuat, sehingga koloni karang mampu menahan gaya gelombang air laut, sedangkan asosiasi organisme-organisme yang dominan hidup di sini disamping selectrctinian corals, adalah algae yang juga banyak mangandung kapur (Dawes, 1981).
Berkaitan dengan terumbu karang di sini dibedakan antara binatang karang (reef corals) sebagai individu organisme atau komponen masyarakat, dan terumbu karang (coral reef) sebagai suatu ekosistem, termasuk di dalamnya organisme-organisme karang.
Terdapat dua tipe karang, yaitu karang yang membentuk bangunan kapur (hermatypic corals) dan yang tidak membentuk bangunan karang (ahermatypic corals). Hermatypic corals adalah binatang karang yang dapat membentuk bangunan karang dari kalsium karbonat, sehingga sering dikenal pula sebagai reef-building corals. Sedangkan ahermatypic corals adalah binatang karang yang tidak dapat membentuk bangunan karang (Bengen, 2002; Supriharyono, 2000b).
Perkembangan terumbu karang dipengaruhi oleh beberapa faktor fisik lingkungan yang dapat menjadi pembatas bagi karang untuk membentuk terumbu. Adapun faktor-faktor fisik lingkungan yang berperan dalam perkembangan terumbu karang adalah: (1) suhu air > 180C, tetapi bagi perkembangan yang optimal diperlukan suhu rata-rata tahunan berkisar antara 23 ¨C 25oC, dengan suhu yang maksimal yang dapat ditolerir berkisar antara 36 ¨C 40oC; (2) kedalaman perairan > 50 meter, dengan kedalaman bagi perkembangan optimal pada ¡Ü 25 meter; (3) salinitas air yang konstan antara 30 - 36¡ë; dan (4) perairan yang cerah, bergelombang besar dan bebas dari sedimen (Bengen, 2001, 2002).
Pada daerah terumbu karang, ikan karang merupakan organisme yang jumlahnya terbanyak dan juga merupakan organisme besar yang mencolok. Dengan jumlahnya yang besar dan mengisi terumbu karang, maka dapat terlihat dengan jelas bahwa ikan karang penyokong hubungan yang ada dalam ekosistem terumbu karang (Nybakken, 1988). Keberadaan ikan-ikan karang sangat dipengaruhi oleh kondisi kesehatan terumbu karang yang ditunjukkan oleh persentase penutupan karang hidup (Hutomo, 1986).
Terumbu karang merupakan habitat bagi beragam biota, sebagai berikut: (1) beraneka ragam avertebrata (hewan tak bertulang belakang), terutama karang batu (stony coral), juga berbagai krustasea, siput dan kerang-kerangan, ekinodermata (bulu babi, anemon laut, teripang, bintang laut dan leli laut); (2) beraneka ragam ikan: 50 ¨C 70% ikan kornivora oportunik, 15% ikan herbivora, dan sisanya omnivora; (3) reptil, umumnya ular laut dan penyu laut; dan (4) ganggang dan rumput laut, yaitu: algae hijau berkapur, algae karolin dan lamun (Bengen, 2002).
Beberapa kelompok ikan yang paling paling sering terlihat di terumbu karang, adalah: (1) Subordo Labroide, famili: Labrides (ikan cina-cina), Scaridae (ikan kakak tua), Pomacentridae (ikan betook); (2) Subordo Acanthuroidei, famili: Acanthuridae (butana/surgeon fish), Siganidae (beronang), dan Zanclidae (Moorish idol); (3) Subordo Chaetodontoidei, famili: Chaetodontidae (kepe-kepe/butterfly fish), Pomacantidae (kambing-kambing/angel fish); (4) Famili Blennidae dan gobiidae yang bersifat demersal dan menetap; (5) Famili Apogonidae (ikan beseng), nocturnal, memangsa avertebrata terumbu dan ikan kecil; (6) Famili Ostraciidae, Tetraodontidae, dan Balestide (ikan pakol) yang menyolok dalam bentuk dan warnanya; dan (7) pemangsa dan pemakan ikan (Piscivorous) yang besar jumlahnya dan bernilai ekonomis tinggi, meliputi famili: Serranidae (kerapu), Lutjanidae (kakap), Lethrinidae (lencam), dan Holocentridae (suanggi).
Ikan karang terbagi dalam 3 (tiga) kelompok yaitu: (1) ikan target yaitu ikan-ikan yang lebih dikenal oleh nelayan sebagai ikan konsumsi seperti Famili Serranide, Lutjanidae, Haemulidae, Lethrinidae; (2) kelompok jenis indikator yaitu ikan yang digunakan sebagai indikator bagi kondisi kesehatan terumbu karang di suatu perairan seperti Famili Chaetodontidae; dan (3) kelompok ikan yang berperan dalam rantai makanan, karena peran lainnya belum diketahui seperti Famili Pomacentridae, Scaridae, Acanthuridae, Caesionidae, Siganidae, Muliidae, Apogonidae (Adrim, 1993).
Banyak ikan yang mempunyai daerah hidup di terumbu karang dan jarang dari ikan-ikan tersebut keluar daerahnya untuk mencari makanan dan tempat perlindungan. Batas wilayah ikan tersebut didasarkan pada pasokan makananan, keberadaan predator, daerah tempat hidup, dan daerah pemijahan.
Hal ini yang menyebabkan hubungan ikan karang semakin kompleks (White, 1987; McConnel, 1987). Kebanyakan ikan yang tergolong herbivora adalah ikan-ikan yang aktif pada siang hari (diurnal), berwarna cemerlang dengan mulut yang kecil. Beberapa jenis umumnya membentuk kelompok ketat dan cepat bergerak (Mc Connaughey dan Zottoli, 1983).
Interkasi antara ikan karang dan terumbu karang sebagai habitatnya dapat dibedakan menjadi tiga bentuk, yaitu: (1) intekasi langsung sebagai tempat berlindung dari predator pemangsa terutama bagi ikan-ikan muda; (2) interkasi dalam mencari makanan yang meliputi hubungan antara ikan karang dan biota yang hidup pada karang termasuk algae; dan (3) interkasi tidak langsung sebagai akibat struktur karang dan kondisi hidrologis dan sedimen (Coat dan Bellwood, dalam Bawole, 1998).
Lamun (seagrass) merupakan satu-satunya tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang memiliki rhizoma, daun dan akar sejati yang hidup terendam dalam laut. Lamun mengkolonisasi suatu daerah melalui penyebaran buah (propagule) yang dihasilkan secara seksual (dioecious) (Mann, 2000). Lebih lanjut Mann (2000), lamun umumnya membentuk padang lamun yang luas di dasar laut yang masih dapat dijangkau oleh cahaya matahari yang memadai bagi pertumbuhannya. Lamun hidup di perairan yang dangkal dan jernih pada kedalaman berkisar antara 2 ¨C 12 meter dengan sirkulasi air yang baik.
Secara ekologi padang lamun mempunyai beberapa fungsi penting bagi wilayah pesisir, yaitu: (1) produsen detritus dan zat hara; (2) mengikat sedimen dan menstabilkan substrat yang lunak, dengan sistem perakaran yang padat dan saling menyilang; (3) sebagai tempat berlindung, mencari makan, tumbuh besar dan memijah bagi beberapa jenis biota laut, terutama yang melewati masa dewasanya di lingkungan ini; dan (4) sebagai tudung pelindung yang melindungi penghuni padang lamun dari sengatan matahari (Bengen, 2002)

Ekosistem Pantai
Ekosistem pantai terletak antara garis air surut terendah dan air pasang tertinggi. Ekosistem ini berkisar dari daerah di mana ditemukan substrat berbatu dan berkerikil (yang mendukung sejumlah terbatas flora dan fauna sesil) hingga daerah berpasir aktif (dimana ditemukan populasi bakteri, protozoa, metazoa) dan daerah berpasir bersubstrat liat dan Lumpur (di mana ditemukan sejumlah besar komunitas infauna) (Bengen, 2002).
Pantai berbatu merupakan satu dari lingkungan pesisir dan laut yang cukup subur. Kombinasi substrat keras untuk penempelan, seringnya aksi gelombang, dan perairan yang jernih menciptakan suatu habitat yang menguntungkan bagi biota laut. Pantai berbatu menjadi habitat bagi berbagai jenis moluska (kerang), binatang laut, kepiting, anemon, dan juga ganggang laut (Bengen, 2001, 2002)
Lebih lanjut Bengen (2002), menyatakan kombinasi ukuran partikel yang berbeda dan variasi faktor lingkungan menciptakan suatu kisaran habitat pantai berpasir. Reoksigenasi dan suplai nutrient ke dalam pasir bervariasi berdasarkan porositas, aksi gelombang, dan tinggi muka pasir. Profil vertikal bergradasi dari aerobik (pasir berwarna kekuning-kuningan) ke lapisan kurang aerobik (pasir berwarna kelabu) hingga lapisan anaerobic (pasiir berwarna hitam) (Gambar 8 dan Gambar 9).
Produksi primer pantai berpasir rendah, meskipun kadang-kadang dijumpai populasi diatom yang hidup di pasir intertidal. Hampir seluruh materi organic diimpor baik dalam bentuk materi organik terlarut (DOM) atau partikel (POM). Konsumsi materi organik sebagian besar oleh bakteri, jarang sekali oleh herbivora atau detritivora. Kelimpahan bakteri secara proporsional berbanding terbalik dengan ukuran sedimen. Peran utama dari bakteri adalah dekomposisi materi organik.

Ekosistem Pulau-Pulau Kecil
Pulau-pulau kecil adalah pulau yang mempunyai luas area kurang dari atau sama dengan 10.000 km2 atau lebarnya kurang dari 10 km. Banyak pulau-pulau kecil yang mempunyai luas area kurang dari 2.000 km2 dan lebarnya kurang dari 3 km, pulau-pulau ini diklasifikasikan sebagai pulau sangat kecil.
Pulau atau kepulauan yang terdapat di dunia dapat digolongkan ke dalam beberapa tipe, berdasarkan pada proses geologinya (Bengen, 2002), yaitu: (1) pulau benua (continental island), yaitu terbentuk sebagai bagian dari Benua, dan setelah itu terpisah dari daratan utama. Tipe batuan dari pulau Benua adalah batuan yang kaya akan silica. Biota yang terdapat di pulau-pulau tipe ini sama dengan yang terdapat di daratan utama; (2) pulau vulkanik (volcanic island), pulau yang terbentuk dari kegiatan gunung berapi yang timbul secara perlahan-lahan dari dasar laut ke permukaan; (3) pulau karang timbul (raised coral island), yaitu pulau yang terbentuk oleh terumbu karang yang terangkat ke atas permukaan laut, karena adanya gerakan ke atas dan gerakan ke bawah; (4) pulau daratan rendah (low island); dan (5) pulau atol (atrolls).

BIOLOGI, HABITAT DAN SEBARAN IKAN LAYUR SERTA BEBERAPA ASPEK PERIKANANNYA

Ikan layur adalah salah satu jenis ikan demersal ekonomis penting yang banyak tersebar dan tertangkap di perairan Indonesia. Dewasa ini paling tidak terdapat tiga jenis ikan layur, yaitu Eupluerogrammus muticus, Trichiurus lepturus dan Lepturacanthus savala. Perairan dengan dasar yang relatif rata dan berlumpur dengan salinitas yang relatif rendah biasanya merupakan habitat ikan layur. Dari beberapa pengamatan tentang sebaran ikan layur di pantai selatan Jawa diperoleh informasi bahwa ikan layur di Teluk Pelabuhan Ratu-Binuangeun dan Cilacap umpamanya, tertangkap pada perairan pantai di sekitar muara-muara sungai yang relatif dangkal.

Secara umum trend dari catch, effort dan CPUE periode 1992-2000 baik untuk perikanan layur baik di perairan pantai selatan Jawa Timur ataupun selatan Jawa menunjukkan sedikit naik. Jika dilihat secara terpilah-pilah tampak bahwa untuk periode 1998-2000 trend indikator perikanan layur di selatan Jawa Timur mengikuti pola umum perikanan yang dieksploitasi, dimana naiknya total effort diikuti naiknya catch sedangkan CPUE terlihat menurun. Keadaan yang sama terjadi terhadap perikanan layur di selatan Jawa, yaitu antara periode 1997-2000.

Seberapa jauh penurunan CPUE tersebut masih dapat ditolerir antara lain akan tergantung kepada kelayakan usaha perikanan layur pada tingkat tersebut. Jadi, pada tingkat CPUE berapa, usaha perikanan layur tersebut masih dapat menguntungkan. Puncak musim penangkapan di perairan selatan Jawa terjadi menjelang akhir tahun sampai awal tahun berikutnya. Ikan layur mecapai matang gonad pada umur dua tahun dan umur maksimum dapat mencapai 15 tahun.


IKAN LAYUR DAN KOMUNITAS DEMERSAL
Jenis-jenis ikan demersal di perairan Paparan Sunda yang pernah tercatat adalah sekitar 50 famili yang terdiri dari sekitar 250 spesies, sehingga perikanan demersal di wilayah tropis bersifat multispecies. Ikan layur merupakan salah satu kelompok (species group) dalam komunitas sumber daya demersal. Dengan demikian keberadaan populasi ikan layur akan terlibat dalam proses-proses dinamika dalam komunitas ikan demersal, seperti interaksi biologis antar jenis. Bentuk interaksi tersebut antara lain adalah antar hubungan pemangsaan (predator-prey relationship) dan persaingan makanan (food competetion).

Salah satu perilaku ikan layur adalah ‘voracious’ atau sangat ‘rakus’, sehingga dalam suatu komunitas tertentu ikan layur dapat merupakan ‘top predator’ yang memperebutkan makanannya berupa ikan-ikan berukuran kecil dengan ikan-ikan predator lainnya.

Data sumberdaya ikan layur yang dianalisis merupakan sebagian hasil penelitian yang dilakukan di perairan selatan Jawa, Samudera Hindia (Badrudin, 2003). Data dan informasi tentang aspek-aspek biologi (life history dan dinamika populasi) ikan layur dikumpulkan melalui kajian literatur dan Fish Base dari FAO-ICLARM. Data catch dan effort dikumpulkan dari Statitik Perikanan Indonesia (Anonimous, 1994 - 1999) dan Statistik

Perikanan Tangkap Indonesia (Anonimus, 2000-2003). Analisis yang dilakukan, disiapkan untuk aplikasi model produksi surplus yang mengarah kepada teridentifikasinya trend dari indeks kelimpahan stok sumberdaya ikan layur antara tahun 1992-2000. Analisis lebih lanjut dapat mengarah kepada diperolehnya dugaan hasil tangkapan maksimum yang berkelanjutan (MSY, the maximum sustainable yield) mengikuti prosedur Sparre and Venema (1992).

Secara taxonomi ikan layur termasuk ke dalam famili Trichiuridae. Dalam famili Trichiuridae terdapat sekitar 10 genera, yaitu Diplospinus, Aphanopus, Benthodesmus, Lepidopus, Epoxymetopon, Assurger, Tentoreiceps, Eupluerogrammus, Trichiurus dan Lepturacanthus. Yang disebut ikan layur yang tertangkap di perairan Indonesia, paling tidak tercatat tiga genera, yaitu Eupluerogrammus, Trichiurus dan Lepturacanthus, dengan species-speciesnya adalah Eupluerogrammus muticus, Trichiurus lepturus dan Lepturacanthus savala. Dalam beberapa literatur, ketiga genera tersebut dimasukkan ke dalam satu genus yaitu Trichiurus, dengan spesiesnya adalah T. muticus, T. savala dan T. lepturus atau T. haumela (FAO, 1974).
Perbedaan spesies tersebut didasarkan atas perbedaan taxonomis seperti diameter mata terhadap panjang kepala, sirip dada (pectoral), sirip perut (pelvic) dan sirip dubur sebagaimana disajikan pada tabel berikut.
Secara visual perbedaan antara satu spesies dengan spesies lainnya hampirhampir tidak tampak. Ciri utama dari kelompok ikan layur antara lain adalah: Badanya sangat memanjang dan pipih seperti pita. Oleh karena itu dalam beberapa literatur internasional ikan layur disebut sebagai ‘ribbon fish’. Gigi rahangnya sangat kuat dan bagian depan gigi rahang tersebut membentuk taring. Sirip punggung memanjang, mulai dari belakang kepala sampai mendekati ujung ekor.

Pada bagian depan sirip punggung terdapat jari-jari sirip keras. Kadang-kadang antara kedua sirip punggung yang keras dan sirip lemah terdapat notch yang sangat jelas. Warna badannya pada umumnya adalah keperakan, bagian punggungnya agak sedikit gelap.
Panjang badan maksimum dapat mencapai 2,5 m dan pada umumnya antara 60-110 cm.

Kebiasaan makan dan makanan (food and feeding habit) merupakan salah satu aspek ‘life history’ yang menjadi dasar dalam kajian interaksi antar jenis, baik melalui kajian antar hubungan pemangsaan (predator prey relationship) ataupun persaingan makanan (food competition).

Melihat morfologi kepala, mulut dan gigi-gigi ikan layur tidak diragukan lagi bahwa ikan layur adalah ikan predator yang kebiasaan makanannya adalah hewanhewan berkuran lebih kecil. Jenis-jenis makanan ikan layur meliputi euphausid (udang-udang berukuran kecil seperti rebon, larva udang penaeid), ikan-ikan berukuran kecil (seperti; teri, sardin, myctophids, bregmacerotids, carangoids, sphyraenids, atherinids, sciaenids, scombrids, larva/yuwana ikan layur ) dan cumicumi berukuran kecil.

Perilaku kebiasaan makan ikan layur dewasa dan layur anakannya (yuwana, juvenile) berhubungan erat dengan kebiasaan migrasi vertikal (diurnal – siang; nocturnal - malam) mempunyai sifat yang berlawanan. Pada siang hari layur dewasa biasanya bermigrasi vertikal ke dekat permukaan untuk mencari makan dan kembali bermigrasi ke dasar perairan pada malam hari. Ikan layur anakannya yang berukuran kecil akan membentuk gerombolan (schooling) mulai dari dasar sampai ke dekat permukaan pada siang hari dan pada malam hari menyebar dan mengelompok untuk mencari makan sampai ke dekat permukaan.

Hasil kajian kebiasaan makanan dan interaksi antar jenis ikan dapat merupakan salah satu dasar bagi pengelolaan sumberdaya ikan layur sebagai salah satu unsure dalam komunitas demersal yang bersifat multispecies. Ecopath sebagai salah satu model stock assessment yang dirancang untuk mendapatkan hasil tangkapan yang optimal dan berlanjut dalam jangka panjang didasarkan atas kajian interaksi antar jenis. Dalam rangka mengetahui pengaruh-pengaruh penangkapan, opsi-opsi langkah pengelolaanpun dapat di-uji-cobakan.

Sebagaimana dikemukakan oleh Jones (1982) bahwa melalui kajian aspek kebiasaan makanan tersebut dapat diprediksi bahwa dalam perkembangan / pertumbuhan ikan pada umumnya, akan memerlukan makanan (berupa ikan lainnya) sekitar 25% dari berat tubuhnya (Jones, 1982). Implikasi dari kajian tersebut antara lain adalah bahwa jika diketahui produksi ikan layur yang didaratkan di pantai selatan Jawa Timur umpamanya 1000 ton pertahun, maka ikan layur tersebut akan memerlukan makanan berupa ikan lainnya sebanyak 250 ton.


Hubungan Panjang - Berat
Manfaat dari informasi tentang hubungan panjang-berat antara lain adalah bahwa melalui persamaan matematik tersebut ( W = a * L b ) kita dapat memperkirakan berat ikan layur pada panjang tertentu atau sebaliknya. Nilai b dalam hubungan panjang-berat ikan layur berada antara 2-4 . Jika nilai b = 3 disebut isometrik, dan jika b ? 3 disebut allometrik. Kecuali ikan layur dari perairan Indonesia dimana nilai b = 2,969 (yang secara statistik b = 3) tampak bahwa kemungkinan besar pertumbuhan ikan layur yang ada di berbagai belahan dunia lainnya lebih bersifat allometrik positif dimana nilai b > 3 (Tabel 1).
Dilihat dari aspek aplikasi model analitik, besarnya nilai isometrik atau allometrik tersebut akan menentukan jenis model pengkajian stok yang dapat diterapkan yang mengarah kepada diperolehnya hasil tangkapan maksimum yang berkelanjutan. Selajutnya perlu diinformasikan bahwa ukuran berat maksimum yang pernah tercatat adalah 3,69 kg dengan panjang 234 cm. Ikan tersebut tertangkap dengan pancing di Teluk Guanabara, Rio de Janeiro, Brazil yang kemudian dianggap sebagai ‘angling world record’ (Fishbase, 2002)


KESIMPULAN
Negara Indonesia merupakan Negara maritime yang sepertiga bagiannya adalah wilayah perairan, jadi potensi kelautan yang belum dioptimalkan masih sangat sangat banyak. Sumberdaya kelautan yang yang paling sering diperhitungkan adalah sumberdaya perikanan.

Perikanan dan sumberdaya perairan lainnya tidak lepas dari ekosistemnya. Ekosistem air ada berbagai macam yang semuanya itu perlu dilestarikan. Kebijakan – kebijakan dari pemerintah dan regulasinya sangat dibutuhkan untuk melindungi ekosistem perarian dan spesies didalamnya. Eksploitasi yang sembarangan akan menyebabkan terganggunya siklus kehidupan spesies yang nantinya akan berdampak buruk bagi perekonomian masyarakat yang memanfaatkan spesies perairan itu sendiri.

Perikanan di Indonesia terdapat berbagai jenis, diantaranya adalah perikanan demersal. Perikanan demersal adalah ikan yang umumnya hidup di daerah dekat dasar perairan, ikan demersal umumnya berenang tidak berkelompok (soliter). Sumberdaya ikan demersal terbagi dua berdasarkan ukuran yaitu Ikan Demersal Besar seperti kelompok kerapu (Grouper) dan kakap (Snaper). Ikan demersal ekonomis penting yang paling umum antara lain adalah kakap merah, bawal putih, manyung, kuniran, gulamah, layur dan peperek.

Ikan demersal ekonomis seperti layur mempunyai nilai ekonomis cukup tinggi. Walaupun tidak seperti kakap yang mahal, tetapi ikan layur cukup banyak dijumpai di tempat – tempat pelelangan ikan maupun di pasar – pasar tradisional. Secara umum trend dari catch, effort dan CPUE periode 1992-2000 baik untuk perikanan layur baik di perairan pantai selatan Jawa Timur ataupun selatan Jawa menunjukkan sedikit naik.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Departemen Kelautan dan Peikanan merupakan institusi yang bertanggung jawab langsung pada kebijakan pengelolaan dan pembangunan perikanan tangkap Indonesia dan dapat memberi kontribusi pada solusi pembangunan ekonomi bidang kelautan dan perikanan nasional di masa datang.
Pemanfaatan sumberdaya perikanan laut yang dilakukan melalui kegiatan perikanan tangkap oleh masyarakat perikanan dan kelautan, dapat dilakukan secara lestari dan berkelanjutan (sustainable resource exploitation) apabila didukung dengan kebijakan pengelolaan yang baik pada semua lapisan.

Silahkan berkomentar disini walaupun hanya "Hay". Kami akan menghargai komentar anda. Anda berkomentar saya akan berkunjung balik