Home » » STATISTIC FOR ELECTION

STATISTIC FOR ELECTION

Written By Haris Ahmad on Thursday, June 10, 2010 | 1:53 PM

Sory ya, ini tulisan tidak membahas statistik untuk keperluan penelitian atau skripsi, tetapi hal yang lain. Ilmu statistik merupakan ilmu yang boleh dikata digunakan oleh hampir semua orang (baca naskah hakekat statistik). Dan secara sadar atau tidak, statistik bermanfaat untuk menentukan kehidupan sosial dan bernegara (kalimatnya kayak sosiolog ya). Coba lihat saja, polling tentang pemilihan umum di Amerika antara Barack Obama dan McCaine, atau tentang Quick count. Pelaksanaannya menggunakan ilmu statistik dan hasilnya sangat dipercaya oleh masyarakat.
Metode polling untuk menentukan siapa yang unggul atau populer menggunakan teknik sampling yang sangat hati-hati agar mewakili seluruh rakyat di suatu negara. Penghitungan quick count juga menggunakan metode serupa dan biasanya menggunakan proportionate sample. Misalnya begini, Indonesia dibagi menjadi beberapa bagian berdasarkan karakteristik masing-masing daerah. O ya biasanya pembagian daerah dilakukan oleh ahli sosiolog yang tahu benar perbedaan karakteristik daerah dalam hal pemilihan presiden. Lalu masing-masing daerah dibagi-bagi lagi menjadi beberapa daerah yang lebih kecil, demikian seterusnya sehingga diperoleh beberapa lokasi pemilihan umum yang mampu mewakili daerah tertentu. Pada daerah yang dipilih tersebut, hasil perhitungan langsung ditransfer ke kantor pusat lalu dikonversikan ke seluruh pemilih yang diwakili. Demikian seterusnya sehingga akan ditemukan siapa pemenang pemilu secara cepat karena tidak perlu menghitung seluruh suara yang masuk.
Hasil quick count selama ini tepat 100%. Artinya, jika quick count menyatakan pemenangnya adalah SBY yang hasil akhir juga akan memberikan hasil yang pasti sama. Sebenarnya quick count masih mempunyai toleransi kesalahan, biasanya sebesar 2%. Berarti misalnya suara Barack Obama 51,1% dan suara McCaine 48,9% berdasarkan hasil quick count, maka lembaga penghitung biasanya tidak akan mengeluarkan hasil quick count karena selisihnya hanya sebesar 1,2% saja. Akan tetapi kalau selisihnya banyak, misalnya Barack Obama 65% dan McCaine 35% maka pastilah hasil quick count akan sama dengan hasil akhir karena selisihnya sebesar 30% yang sangat jauh dari toleransi 2%.Metode quick count juga sering dilakukan pada pemilihan daerah gubernur atau bupati/walikota. Dalam hal ini pelaksanaannya akan lebih mudah, karena penentuan karakteristik daerah lebih mudah.
Sebenarnya statistik juga bisa dimanfaatkan oleh kandidat. Partai yang mendukung bisa mengidentifikasikan di mana saja dukungan kepada calon mereka. Dengan demikian kebijakan kampanye juga dapat disesuaikan. Dengan statistik, tim suksesi juga dapat mengetahui karakteristik dari pemilih, apakah petani, pengusaha atau karyawan. Banyak calon yang seolah-olah terkenal tetapi ketika pemilihan umum kalah mutlak. Mengapa? Karena mereka melakukan kampanye di kota-kota besar dan seakan-akan mempunyai banyak pendukung. Padahal sebagian besar wilayah Indonesia berada di daerah pedesaan yang tidak bersuara, tetapi mempunyai kapasitas suara yang besar. Nah, makanya kalau mau kampanye hati-hati. Lakukan secara bijaksana sehingga dana yang keluar tidak sia-sia. Tidak ada salahnya menggunakan ilmu statistik untuk memenangkan pemilu. Jadi jangan hanya pasang iklan, banner, spanduk saja, tetapi tentukan siapa saja yang menjadi sasaran, berapa suara potensial yang ada. Isu-isu yang diangkat juga harus mewakili kepentingan orang banyak.
Share this article :

0 Komentar:

Post a Comment

Silahkan berkomentar disini walaupun hanya "Hay". Kami akan menghargai komentar anda. Anda berkomentar saya akan berkunjung balik

 
Support : Aris Decoration | Galaxy Young
Copyright © 2014. All in here - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger