Home » , » Komoditi Karet

Komoditi Karet

Written By Haris Ahmad on Friday, January 14, 2011 | 11:34 AM


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi di dalam upaya peningkatan devisa Indonesia. Ekspor Karet Indonesia selama 20 tahun terakhir terus menunjukkan adanya peningkatan dari 1.0 juta ton pada tahun 1985 menjadi 1.3 juta ton pada tahun 1995 dan 2.0 juta ton pada tahun 2005. Pendapatan devisa dari komoditi ini pada semester pertama tahun 2006 mencapai US$ 2.0 milyar, dan diperkirakan nilai ekspor karet pada tahun 2006
akan mencapai US $ 4,2 milyar (Kompas, 2006).
Sejumlah lokasi di Indonesia memiliki keadaan lahan yang cocok untukpertanaman karet, sebagian besar berada di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Luas area perkebunan karet tahun 2005 tercatat mencapai lebih dari 3.2 juta ha yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Diantaranya 85% merupakan perkebunan karet milik rakyat, dan hanya 7% perkebunan besar negara serta 8% perkebunan besar milik swasta. Produksi karet secara nasional pada tahun 2005 mencapai 2.2 juta ton. Jumlah ini masih akan bisa ditingkatkan lagi dengan melakukan peremajaan dan memberdayakan lahan-lahan pertanian milik petani serta lahan kosong/tidak produktif yang sesuai untuk perkebunan karet. Dengan memperhatikan adanya peningkatan permintaan dunia terhadap komoditi karet ini dimasa yang akan datang, maka upaya untuk meningkatakan pendapatan petani melalui perluasan tanaman karet dan peremajaaan kebun bisa merupakan langkah yang efektif untuk dilaksanakan. Guna mendukung hal ini, perlu diadakan bantuan yang bisa memberikan modal bagi petani atau pekebun swasta untuk membiayai pembangunan kebun karet dan pemeliharaan tanaman secara intensif.



B. Rumusan Masalah
a. Bagaimana perkembangan luas perkebunan karet di Indonesia pada tahun 2005–2007?
b. Bagaimana perkembangan produksi karet di Indonesia pada tahun 2005–2007?
c. Bagaimana tingkat ekspor dan impor karet di Indonesia pada tahun 2005–2007?



C. Tujuan Penulisan
a. Untuk mengetahui perkembangan luas perkebunan karet di Indonesia pada tahun 2005-2007.
b. Untuk mengetahui perkembangan produksi karet di Indonesia pada tahun 2005-2007.
c. Untuk mengetahui tingkat ekspor dan impor karet di Indonesia pada tahun 2005-2007.

BAB II
KAJIAN TEORI

Perusahaan perkebunan adalah suatu perusahaan berbentuk badan usaha/badan hokum yang bergerak dalam kegiatan budidaya tanaman perkebunan di atas lahan yang dikuasai, dengan tujuan ekonomi/komersial dan mendapaat izin usaha dari instansi yang berwenang dalam penberian izin usaha perkebunan.
Perusahaan perkebunan yang diusahakan oleh pemerintah (BUMN) disebut Perkebunan Besar Negara (PBN) dan perusahaan perkebunan yang diusahakan oleh swasta disebut Perkebunan Besar Swasta (PBS). Perkebunan Rakyat (PR) adalah usaha budidaya tanaman perkebunan yang diusahakan oleh rumah tangga dan tidak berbentuk badan usaha/badan hukum

BAB III
DATA DAN PEMBAHASAN

Pertanian adalah kegiatan usaha yang meliputi budidaya tanaman bahan makanan, perkebunan, perikanan, kehutanan dan perternakan.

1. Perkembangan Luas Areal Perkebunan Karet
Karet cukup baik dikembangankan di daerah lahan kering beriklim basah. Tanaman karet memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan komoditas lainnya, yaitu: (1) dapat tumbuh pada berbagai kondisi dan jenis lahan, serta masih mampu dipanen hasilnya meskipun pada tanah yang tidak subur, (2) mampu membentuk ekologi hutan, yang pada umumnya terdapat pada daerah lahan kering beriklim basah, sehingga karet cukup baik untuk menanggulangi lahan kritis, (3) dapat memberikan pendapatan harian bagi petani yang mengusahakannya, dan (4) memiliki prospek harga yang cukup baik, karena kebutuhan karet dunia semakin meningkat setelah China membuka pasar baru bagi karet Indonesia.


Perkembangan luas areal perkebunan karet di Indonesia selama tiga tahun terakhir mengalami peningkatan. Pada tahun 2005 lahan perkebunan karet Indonesia tercatat seluas 3,28 juta hektar, kemudian mengalami peningkatan pada tahun 2006 menjadi 3,35 juta hektar atau naik sekitar 2,04 persen. Sedangkan untuk tahun 2007 luas areal perkebunan karet Indonesia terus mengalami peningkatan yaitu sekitar 2,01 persen. Perkembangan luas areal perkebunan karet dapat dilihat pada tabel 1.1 dibawah ini.




Tabel 1.1 Perkembangan Luas Areal Perkebunan Karet di Indonesia
Tahun 2005 – 2007 (Ha)
Tahun PR PBN PBS Jumlah Pertumbuhan (%)
2005 2 767 021 237 612 274 758 3 279 391 0,52

2006 2 832 982 238 003 275 442 3 346 427 2,04

2007 2 899 680 238 246 275 792 3 413 718 2,01

Apabila dilihat dari status pengusahaannya, perkebunan karet di Indonesia dibagi menjadi tiga yaitu Perkebunan Rakyat (PR), Perkebunan Besar Negara (PBN), Perkebunan Besar Swasta (PBS). Pada tahun 2007 luas areal perkebunan karet di Indonesia seluas 3,41 juta hektar, sekitar 2,90 juta hektar diantaranya diusahakan oleh perkebunan rakyat, sedangkan yang diusahakan oleh perkebunan besar negara seluas 0,24 juta hektar dan perkebunan besar swasta hanya seluas 0,28 juta hektar.
2. Perkembangan Produksi Karet

Perkembangan produksi karet di Indonesia selama tiga tahun terakhir terus mengalami kenaikan. Pada tahun 2005 produksi karet mencapai 2,27 juta ton dan meningkat 16,13 persen pada tahun 2006 menjadi sebesar 2,64 juta ton. Pada tahun 2007 produksi karet meningkat sekitar 4,83 persen atau menjadi 2,76 juta ton. Perkembangan produksi karet Indonesia tahun 2005 – 2007 dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 2.1 Perkembangan Produksi Karet Indonesia Tahun 2005 – 2007 (Ton)
Tahun PR PBN PBS Jumlah Pertumbuhan (%)
2005 1 838 670 209 837 222 384 2 270 891 9,93

2006 2 082 597 265 813 288 821 2 637 231 16,13

2007 2 186 209 277 200 301 285 2 764 694 4,83

Produksi karet Indonesia tahun 2007 sebesar 2,76 juta ton yang berasal dari perkebunan rakyat sebesar 2,19 juta ton, perkebunan besar negara sebesar 0,28 juta ton dan perkebunan besar swasta sebesar o,30 juta ton.


3. Perkembangan Ekspor Karet

Produksi karet Indonesia sebagian besar dipasarkan ke mancanegara (diekspor) dan hanya sebagian kecil saja yang dipasarkan didalam negeri. Pangsa pasar untuk produk karet tersebut telah menjangkau kelima benua yakni Asia, Afrika, Australia, Amerika dan Eropa. Namun demikian Asia masih merupakan pangsa pasar yang paling utama.
Ekspor karet Indonesia secara umum dibagi dalam dua jenis yaitu karet alam dan karet sintetis, dimana selama periode tahun 2005-2007 produksi karet yang diekspor sebagian besar dalam bentuk karet alam. Dalam perkembangannya ekspor kedua jenis karet tersebut selama periode tahun 2005 -2007 mengalami fluktuasi. Ekspor karet alam tahun 2005-2007 terus mengalami peningkatan, dimana pada tahun 2005 volume ekspor karet alam Indonesia mencapai 2,02 juta ton dengan nilai ekspor sebesar US$ 2.583,96 juta dan pada tahun 2006 volume ekspor karet alam mengalami kenaikan sekitar 12,96 persen yakni menjadi 2,29 juta ton dan nilainya mencapai US$ 4322,29 juta.
Pada tahun 2007 ekspor karet alam juga mengalami peningkatan sebesar 5,28 persen yakni menjadi 2,41 juta ton dengan nilai US$ 4870,51 juta. Sedangkan perkembangan ekspor karet sintetis mengalami fluktuasi, dimana pada tahun 2005 volume ekspor karet sintetis mencapai 30,45 ribu ton dengan nilai sebesar US$ 28,39 juta, dan pada tahun 2006 mengalami peningkatan sebesar 52,20 persen yakni menjadi 46,35 ribu ton dengan nilai US$ 49,52 juta. Pada tahun 2007 ekspor karet sintetis mengalami penurunan sebesar 4,87 persen dengan volume sebesar 44,09 ribu ton dan nilai sebesar US$ 56,58 juta. Perkembangan ekspor karet Indonesia tahun 2005-2007 dapat dilihat pada tabel 3.1 dibawah ini.


Tabel 3.1 Perkembangan Ekspor Karet Indonesia Tahun 2005 – 2007
Tahun Karet Alam Karet Sintetis Pertumbuhan Karet Alam (%) Pertumbuhan Karet Sintetis (%)
Volume Nilai Volume Nilai Volume Nilai Volume Nilai
2005 2 024 608 2 582 963 30 450 28 393 7,98 18,46 -21,04 -4,72

2006 2 287 053 4 322 294 46 346 49 523 12,96 67,27 52,20 74,42

2007 2 407 849 4 870 514 44 089 56 584 5,28 12,68 -4,87 14,26


Karet alam Indonesia di ekspor ke berbagai negara tujuan, pada tahun 2007 tercatat lima besar negara yang menjadi pengimpor karet Indonesia berturut – turut yaitu United States yang volume ekspornya mencapai 644,27 ribu ton atau sebesar 26,76 persen terhadap total ekspor karet alam Indonesia dengan nilai sebesar US$ 1.287,32 juta, peringkat kedua yakni Japan dengan volume ekspor sebesar 398,02 ribu ton atau memilikki konstribusi 16,53 persen dan nilai ekspornya sebesar US$ 806,50 juta , yang ketiga China dengan konstribusi 14,20 persen atau volume ekspornya sebesar 341,82 ribu ton dengan nilai ekspor US$ 701,05 juta, sementara itu Singapore dan Korea Republic berada di posisi keempat dan kelima. Ekspor karet alam ke Singapore pada tahun 2007 mencapai 162,03 ribu ton atau sekitar 6,73 persen dengan nilai ekspor sebesar US$ 333,04 juta, sedangkan untuk Korea Republic sebesar 93,14 ribu ton atau 3,87 persen dengan nilai ekspor mencapai US$ 187,48 juta. Besarnya volume ekspor karet alam dari lima negara terbesar pengimpor karet alam Indonesia tahun 2007 disajikan pada tabel 3.2 dibawah ini.



Tabel 3.2 Ekspor Karet Alam Indonesia Menurut Negara Tujuan Tahun 2007
No Negara Tujuan Volume (Ton) Nilai (US$) Persentase Volume (%)
1 United States 644 270 1 287 317 26,76
2 Japan 398 025 806 497 16,53
3 China 341 281 701 054 14,20
4 Singapore 162 032 333 038 6,73
5 Korea Republic 93 139 187 483 3,87
6 Others 768 562 1 555 125 31,92

Untuk karet sintetis Indonesia pada tahun 2007 diekspor ke 27 negara. Diantara negara tersebut terdapat lima negara pengimpor terbanyak yaitu, pertama China dengan volume sebesar 21,68 ribu ton atau 49,18 persen dari total ekspor karet sintetis Indonesia dengan nilai sebesar US$ 29,47 juta, kedua India dengan volume 5,92 ribu ton dan nilai ekspornya sebesar US$ 4,89 juta, yang ketiga Thailand dengan volume 3,92 ribu ton dengan nilai ekspor US$ 4,13 juta. Untuk peringkat keempat dan kelima terdapat negara Malaysia dan New Zaeland dengan volume 3,68 ribu ton dan 3,51 ribu ton dengan nilai ekspor US$ 4,31 juta dan US$ 3,16 juta. Besarnya volume ekspor karet dari lima negara terbesar pengimpor karet sintetis Indonesia tahun 2007 disajikan pada tabel 3.3 dibawah ini.

Tabel 3.3 Ekspor Karet Sintetis Indonesia Menurut Negara Tujuan Tahun 2007
No Negara Tujuan Volume (Ton) Nilai (US$) Persentase Volume (%)
1 China 21 684 29 466 49,18
2 India 5 923 4 891 13,43
3 Thailand 3 915 4 126 8,88
4 Malaysia 3 680 4 310 8,35
5 New Zaeland 3 509 3 163 7,96
6 Others 5 376 10 629 12,19


4. Perkembangan Impor Karet

Perkembangan impor karet alam Indonesia selama periode tahun 2005-2007 mengalami fluktuasi. Pada tahun 2005 volume impor karet alam Indonesia mencapai 6,59 ribu ton dengan nilai impor sebesar US$ 6,10 juta dan pada tahun 2006 mengalami peningkatan sekitar 4,29 persen atau menjadi 6,88 ribu ton dengan nilaii sebesar US$ 12,57 juta. Kemudian pada tahun 2007 volume impor mengalami kenaikan menjadi 9,83 ribu ton atau naik sekitar 42,99 persen dan nilainya mencapai US$ 12,95 juta. Sedangkan perkembangan karet sintetis Indonesia selama periode tahun 2005 – 2007 mengalami penurunan. Pada tahun 2005 impor karet sintetis Indonesia mencapai 132,86 ribu ton dengan nilai impor sebesar US$ 229,81 juta dan pada tahun 2006 mengalami penurunan sebesar 6,82 persen dengan volume sebesar 123,80 ribu ton dan nilai sebesar US$ 223,53 juta. Dan pada tahun 2007 impor karet sintetis mengalami kenaikan sekitar 1,48 persen atau menjadi 125,64 ribu ton dengan nilai sebesar US$ 245,72 juta. Perkembangan impor karet Indonesia tahun 2005 – 2007 dapat dilihat pada tabel 4.1.


Tabel 4.1 Perkembangan Impor Karet Indonesia Tahun 2005 – 2007
Tahun Karet Alam Karet Sintetis Pertumbuhan Karet Alam (%) Pertumbuhan Karet Sintetis (%)
Volume Nilai Volume Nilai Volume Nilai Volume Nilai

2005 6 593 6 096 132 860 229 807 -12,12 -9,55 -7,63 17,53

2006 6 875 12 568 123 803 223 526 4,29 106,17 -6,82 -2,73

2007 9 832 12 952 125 641 245 722 42,99 3,05 1,48 9,93


Karet alam Indonesia diimpor dari berbagai negara, pada tahun 2007 lima besar negara yang menjadi pemasok karet alam Indonesia berturut – turut yaitu Vietnam yang volume impornya mencapai 5,39 rjibu ton atau sebesar 78,46 persen terhadap total volume impor karet alam Indonesia dengan nilai sebesar US$ 6.94 juta, peringkat kedua Thailand dengan volume impor sebesar 2,55 ribu ton atau memilikki kontribusi 37,04 persen dan nilai impornya sebesar US$ 3,84 juta, yang ketiga Taiwan dengan kontribusi 16,20 persen atau volume impornya sebesar 1,11 ribu ton dengan nilai impor US$ 381 ribu, sementara itu Japan dan Malaysia berada di posisi keempat dan kelima. Impor karet dari Japan pada tahun 2007 mencapai 303 ton atau sekitar 4,41 persen dengan nilai impor sebesar US$ 604 ribu, sedangkan untuk Malaysia sebesar 222 ton atau 3,23 persen dengan nilai impor mencapai US$ 306 ribu. Besarnya volume dan nilai impor karet dari lima negara terbesar pengekspor karet alam Indonesia pada tahun 2007 dapat dilihat pada tebel dibawah ini.



Tabel 4.2 Impor Karet Alam Indonesia Menurut Negara Asal Tahun 2007
No Negara Tujuan Volume (Ton) Nilai (US$) Persentase Volume (%)
1 Vietnam 5 394 6 943 78,46
2 Thailand 2 546 3 842 37,04
3 Taiwan 1 114 381 16,20
4 Japan 303 604 4,41
5 Malaysia 222 306 3,23
6 Others 234 704 3,40
Sedangkan untuk impor karet Indonesia, lima terbesar negara pemasok karet sintetis ke Indonesia adalah Korea Republik dengan volume sebesar 37,58 ribu ton atau sekitar 29,91 persen dari total impor karet sintetis Indonesia, dengan nilai sebesar US$ 64,67 juta. Kemudian Japan dengan volume 18,97 ribu ton dan nilai sebesar US$ 30,18 juta, sedangkan pada urutan keempat dan kelima adalah United States dan Taiwan Province dengan volume sebesar 15,22 ribu ton dan 8,77 ribu ton dengan nilai sebesar US$ 36,11 juta dan US$ 12,38 juta. Besarnya volume dan nilai impor karet dari lima negara terbesar pengekspor karet sintetis Indonesia tahun 2007 dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 4.3 Impor Karet Simtetis Indonesia Menurut Negara Asal
Tahun 2007
No Negara Tujuan Volume (Ton) Nilai (US$) Persentase Volume (%)
1 Korea Republik 37 578 64 673 29,91
2 Japan 18 965 41 806 15,09
3 Thailand 17 180 30 178 13,67
4 United States 15 224 36 112 12,12
5 Taiwan 8 772 12 383 6,98
6 Others 27 923 60 570 22,22





PENUTUP

Kesimpulan dan saran
Karet merupakan komoditas unggulan yang memiliki pasar cukup cerah di pasar internasional. Produksi karet Indonesia banyak didukung oleh perkebunan rakyat, sehingga karet memiliki arti yang penting sebagai sumber devisa, penyerap tenaga kerja, dan sebagai sumber pendapatan petani. Pengembangan agribisnis karet di Indonesia, perlu memperhatikan hal-hal berikut:

1. bantuan dari pemeritah pusat maupun daerah agar perkembangan karet bisa lebih opyimal daripada sekarang
2. menigkatan investasi dalam pengolahan perkebunan karet yang ada di Indonesia
3. menigkatkan teknologi yaitu untuk meningkatkan hasil produksi karet tersebut dan bisa mengolah karet menjadi barang ag dapat menambah nilai jual komuditas perkebunan karet tersebut
Share this article :

0 Komentar:

Post a Comment

Silahkan berkomentar disini walaupun hanya "Hay". Kami akan menghargai komentar anda. Anda berkomentar saya akan berkunjung balik

 
Support : Aris Decoration | Galaxy Young
Copyright © 2014. All in here - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger